Puailiggoubat Edisi 369 (1-14 Oktober 2017)

09-10-2017 12:23 WIB

Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu dalam Hutan Tanaman Industri (IUPHHK-HTI) PT. Biomass Andalan Energi di Desa Bojakan, Sirilogui dan Sotboyak (Siberut Utara) dan Saibi Samukop, Cimpungan dan Saliguma (Siberut Tengah) Kabupaten Kepulauan Mentawai menimbulkan gejolak suku pemilik tanah di lokasi HTI.

Mereka, para sikebbukat (ketua) suku pemilik tanah ataupun masyarakat yang menjaga dan mendiami tanah meskipun bukan pemilik di lokasi HTI banyak yang mengecam keluarnya izin kedua untuk PT. BAE setelah tahun lalu, izinnya dibatalkan oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal BKPM) RI.

Dari Dusun Sua Saibi Samukop, Kecamatan Siberut Tengah, Melanton Sakailoat (64) yang menjadi sikebbukat suku Sakailoat mengatakan tanah sukunya di bagian utara ada sembilan tempat, salah satunya berbatasan dengan suku Sarereakek dan dan di Selatan berbatasan suku Satoko, sedang di barat berbatasan suku Sakubou.

Tanah suku Sakailoat tersebut, jelas Melanton, merupakan perladangan yang ditanami cengkeh, kelapa, dan durian. Tidak hanya ladang yang ditanami suku Sakailoat namun juga suku lain termasuk juga untuk pemukiman. "Di utara yang banyak tanah ulayat kita, salah satunya pemukiman di Malancan itu, " ujarnya kepada Puailiggoubat di Sua, 21 September.

Melanton khawatir, beroperasinya HTI akan mengancam kepemilikan tanah adat atau ulayat suku dan menghilangkan warisan untuk anak cucu Sakailoat ke depan. Ia juga khawatir perladangan dan pemukiman akan tergusur.

Karena itu, suku Sakailoat sepakat menolak HTI. "Kalau ada yang menerima tidak mungkin misalnya 10 yang menolak dan 1 yang menerima dan ini bisa kita selesaikan dalam interen suku," katanya.

  • Pin it
Komentar