Puailiggoubat Edisi 363 (1-14 Juli 2017)

29-06-2017 22:02 WIB

Jalan Trans Mentawai sepanjang hampir 12 km dari Dusun Mabolak Desa Sikakap menuju Dusun Tunang, Desa Matobe, Kecamatan Sikakap Kabupaten Mentawai menjadi keberkahan tersendiri bagi masyarakat Matobe. Jalur ini sangat penting karena jalan utama yang menghubungkan Sikakap dengan Pagai Utara.

Kini warga tak sulit lagi menjual pisang ke Pasar Masabuk di Sikakap. Bahkan, petani cukup meletakkan tandan-tandan pisang hasil panen di pinggir jalan karena akan ada pedagang yang menjemput dengan mobil pick up. Sikakap merupakan ibu kecamatan dan pusat perdagangan karena ada dermaga di sana.

"Sebelum ada jalan Trans Mentawai, biasanya masyarakat pakai boat (perahu mesin) atau pompong ke Sikakap, ongkos pulang pergi Rp20 ribu," jelas Fransiskus Mariono Saleleubaja, warga Dusun Bubuakat, Desa Matobe kepada Puailiggoubat.

Waktu tempuh yang dibutuhkan sekira satu jam naik boat, dan lebih lama jika dengan pompong. Bisa juga naik motor, namun warga biasanya menunggu pasang surut agar bisa melewati pantai. Jika nekat melalui jalan Matobe, apalagi musim hujan, biasanya mereka harus mendorong motor karena lumpur snagat dalam, jelas Fransiskus.

"Dulu, saat belum ada jalan Trans Mentawai, tiap bulan kami harus ganti laher (bearing roda) tiap bulan dan gigi tarik tiap dua bulan karena cepat aus kena air laut dan tanah liat," tambah Alan Prianto, warga Matobe.

Meskipun belum rampung 100 persen, manfaat jalan Trans Mentawai juga sangat dirasakan warga Madobag, Kecamatan Siberut Selatan. Desa yang terletak di hulu Sungai Rereiket ini biasanya hanya bisa ditempuh dengan pompong atau boat melalui sungai. Atau berjalan kaki melewati jalan setapak melintasi bukit dan hutan.

  • Pin it
Komentar