Puailiggoubat Edisi 362 (15-30 Juni 2017)

18-06-2017 23:01 WIB

Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangpan) Kabupaten Kepulauan Mentawai mengklaim target cetak sawah seluas 1.000 hektar yang menjadi program prioritas Pemda Mentawai periode 2013-2016 tercapai. Jumlah sawah yang berhasil dicetak tahun lalu seluas 1.089 hektar. Namun target swasembada beras belum tercapai.

Menurut Sekretaris Dispangpan Mentawai, Mauliate Simatupang, dari luasan sawah yang berhasil dibuka hingga 2016, hasil panen yang didapat sekira 3.267 ton per tahun. "Itu rata rata 1 hektar menghasilkan sekitar 3 ton," ujar Mauliate.

Sementara itu tingkat konsumsi beras di Mentawai rata-rata 9 kilogram per orang selama sebulan, jelas Mauliate. Jika dikali dengan jumlah penduduk Mentawai saat ini sekira 85 ribu jiwa, Mentawai harus mendatangkan beras dari tempat lain hampir dua kali lipat produksi setahun meskipun konsumsi beras itu tidak merata sebab masih banyak juga masyarakat Mentawai mengkonsumsi keladi, pisang dan sagu.

Menurut data Dispanpang Mentawai, 1.089 hektar sawah tersebut tersebar pada 35 lokasi dengan rincian 875 hektar sawah yang dibiayai APBD Mentawai dan 214 hektar yang dibuka warga secara swadaya.

Mauliate mengatakan, cetak sawah akan dilanjutkan tahun ini seluas 75 hektar. Dana yang dialokasikan pada APBD 2017 Mentawai untuk membangun sawah seluas itu Rp600 juta.

"Karena anggaran kita tidak cukup hanya sekitar Rp600 juta, masing-masing sekitar Rp8 juta untuk biaya per hektar," kata Mauliate.

Sawah baru yang dicetak Pemda Mentawai tersebar pada tiga lokasi yakni 25 hektar di Desa Saibi Samukop (Siberut Tengaj), di Dusun Sao (Kecamatan Sipora Selatan) 25 hektar dan di Desa Matobe (Sikakap) ada seluas 25 hektar.

Rendahnya hasil panen tersebut diakui Koordinator Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kecamatan Siberut Tengah, Trimurni. Ia mengatakan, awal bersawah hingga memasuki 2017, hasil produksi di daerahnya hanya 2-7 ton padahal sawah yang dibuka dan ditanami seluas 30 hektar.

Hasil panen dalam kondisi normal, kata Trimurni, menghasilkan 4,2 ton padi untuk areal tanam seluas 1 hektar. "Hanya panen terakhir tahun ini sedikit meningkat mencapai 6-7 ton tapi itupun belum sesuai luas lahan sawah yang ada," kata Trimurni kepada Puailiggoubat, Selasa, 6 Juni.

Menurut Trimurni, faktor penyebab panen belum maksimal karena faktor tanha, serangan hama dan pengairan yang belum teratur. Tanah tempat lahan sawah yang dipakai sekarang ini, kata Trimurni sudah digunakan bertahun-tahun oleh warga sebelum pembukaannya kembali melalui program pemerintah. Kemudian setiap tanaman padi tumbuh selalu terserang hama, selain itu fasilitas irigasi yang belum baik membuat panen sedikit.

"Tanah sawah perlu pemupukan sebab tanah memerlukan unsur mikro dan makro dan sejak 2014 kita sudah anjurkan warga untuk memupuk tanahnya tapi hanya beberapa warga yang melakukannya kemudian pupuk pun dimana didapat tentu harus beli dan dari pemerintah itu tidak ada dan mudah-mudahan bantuam pupuk tahun ini ada," ujarnya.

Pada saat tanaman terserang hama, lanjut Trimurni, telah dilakukan pembasmian namun belum dapat diatasi sebab yang sering dilakukan petani adalah penyemprotan baru dilakukan setelah padi terserang hama. Padahal menurut dia, untuk mencegah serangan penyakit dan hama, penyemprotan harus dilakukan sebagai langkah pencegahan.

Pengairan sawah yang tergantung pada hujan juga menjadi faktor pertumbuhan sawah terhambat, soal fasilitas ini, kata Trimurni, akan dibangun pada tahun ini.

  • Pin it
Komentar