Tokoh Masyarakat Minta Festival Panah Tradisional Mentawai Rahasiakan Racikan Racun Panah

15-07-2017 10:46 WIB | Peristiwa | Reporter: Bambang Sagurung | Editor: Rus Akbar
Tokoh Masyarakat Minta Festival Panah Tradisional Mentawai Rahasiakan Racikan...

Festival panah tradisional Mentawai. (foto: istimewah)

PADANG- Festival Panah Tradisional Mentawai mendapat sorotan dari tokoh masyarakat di Siberut Selatan salah satunya Selester Saguruwjuw meminta Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Mentawai yang akan menyelenggarakan festival 26-27 Juli 2017 di Muntei, Kecamatan Siberut Selatan untuk tidak membuka rahasia racun panah tradisional Mentawai pasalnya ini sangat berbahaya dan melanggar adat.

"Tak bisa dibuka pada publik, karena itu sangat rahasia, " kata Selester pada Mentawaikita.com, Sabtu, 15 Juli 2017.

Lebihlanjut dikatakan Selester, racikan racun Mentawai masing-masing orang atau suku punya ciri khas rasa tersendiri. "Kalau kita ketemu anak panah yang nyasar didalam hutan, ketika kita jilat racunnya kita akan tahu langsung siapa pemiliknya, " katanya.

Baca juga:

Lestarikan Budaya Mentawai Melalui Festival Panah Tradisional

Diakui Selester, ada memang daun yang akan sama yang dimasukkan dalam bahan racikan, namun ada juga yang sangat rahasi yang tidak boleh dibuka kepada orang lain. "Untuk membuka rahasia kepada orang lain biasanya dibeli. Hanya satu long ayam. Namun yang terberat itu rasa saling menjaga rahasia racikannya, " kata Selester yang juga pengurus Dewan daerah AMAN Mentawai.

Tak hanya dari racikan, namun dari berapa kali melakukan olesan racikan racun sudah sangat membedakan. "Ada yang berulang-ulang untuk memoleskan, ada juga yang panjang olesan berbeda. Disini akan dapat diletahui juga siapa pemiliknya, " katanya.

Panjang busur dan anak panah juga berbeda-beda antara satu orang dengan orang lain juga berbeda. "Termasuk soal arah kita mengikat mata panah yang dipasang sesuai dengan kebutuhan dalam berburu," katanya.

Hanya yang bisa dibuka kepada publik yaitu penawar bila terkena anak panah. "Kalau kita terkena anak panah yang beracun, obat penawarnya dengan minum air tebu atau makan udang sungai, " katanya.

Untuk berburu bagi masyarakat Mentawai merupakan tradisi yang tidak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam budaya Mentawai. "Jadi dalam meracik dan berburu selalu diawali dengan berpuasa atau magri. Setelah proses semua ini sudah selesai baru ditutup dengan mandi atau membersihkan diri yang mempunyai mantra tersendiri, " katanya.

Dalam melaksanakan aktifitas berburu bagi masyarakat Mentawai tidak dilakukan setiap hari namun hanya pada waktu tertentu yangberkaitan dengan adat dan budaya.

  • Pin it
Komentar