Eneget dan Usokgunei, Ritual Menuju Kedewasaan di Mentawai

12-07-2017 11:56 WIB | Budaya Mentawai | Reporter: Hendrikus Bentar | Editor: Zulfikar
Eneget dan Usokgunei, Ritual Menuju Kedewasaan di Mentawai

Seorang remaja asli Mentawai menggunakan pakaian adat Mentawai (Foto: Rus Akbar)

Eneget adalah upacara adat Mentawai untuk memperkenalkan aktivitas orang tua (orang dewasa) kepada anak laki-laki agar kelak dia siap memasuki kehidupan seperti orang dewasa. Kegiatan yang dikenalkan biasanya berburu dan berladang. Dalaenegetdiperlihatkan bahwa pekerjaan laki-laki dewasa di Mentawai cukup berat dan memiliki pantangan-pantangan yang tidak boleh dilanggar.

Prosesi eneget diawali dengan persiapan orang tua yang menyampaikan kepada kepala sukunya bahwa keluarganya siap melakukan eneget. Setelah pemberitahuan itu, pada hari kedua, kepala suku akan meminta anggota uma berkumpul untuk berdiskusi mempersiapkan upacara eneget.

Setelah semua anggota uma setuju, maka pada hari ketiga, anggota uma laki-laki akan menyiapkan alat-alat berburu seperti panah, tombak dan peralatan lainnya agar saat pagi keesokan hari mereka sudah harus berangkat untuk berburu.

Untuk eneget, buruan yang biasanya dicari monyet atau babi jantan. Anggota suku belum boleh pulang sebelum mendapatkan hewan buruan karena upacara adat tidak akan sempurna jika hewan buruan yang disyaratkan belum didapat.

Saat hewan hasil buruan tertangkap, maka anggota suku akan menyematkan daun atau bunga-bunga di dekat keranjang atau lukgou sebagai penanda bahwa mereka mendapatkan hasil buruan. Biasanya saat dalam perjalanan menuju pulang, tidak ada satu orang pun yang berani menyapa mereka. Ini sudah menjadi kebiasaan masyarakat Mentawai saat mendapat hasil buruan mereka.

Sesampai di uma, anggota uma akan membunyikan tuddukat (alat pukul dari kayu sebagai alat komunikasi tradisional di uma). Tuddukat dibunyikan sebagai pemberitahuan kepada semua anggota suku bahwa mereka telah pulang dari berburu dan kepala suku akan mengadakan.

Proses eneget ini berlangsung sama halnya melakukan pesta acara kebudayaan yang dilakukan tiap uma dan akan melakukan persiapan yang sangat matang agar proses dan acaranya berjalan sukses dan lancar.

Dalam pesta tersebut, ayam, monyet atau babi hasil buruan akan menjadi persembahan dan dimasak bersama sagu, keladi dan bunga-bunga. Kepala suku memimpin upacara tersebut.

Setelah persiapan upacara rampung, kepala suku akan mencari daun-daunan serta kain untuk anak yang sudah melakukan eneget. Anak laki-laki akan dipasanhkan kabit, sementara anak perempuan memakai celana sokgunei dari daun pisang. Setelah itu anggota uma akan berkumpul, kepala suku lalu mengambil seekor ayam jantan untuk disembelih sebagai persembahan.

Ayam tersebut lalu dibakar dan dipotong, lalu diambil ususnya. Usus tersebut diserahkan kepada sikerei (ahli pengobatan) untuk melihat apa yang akan terjadi keesokan hari. Ayam atau babi yang dibakar itu dikumpulkan di satu tempat.

Setelah itu, anak yang menjalani eneget kembali mengambil busur dan panah untuk memanah buah (pasuka). Proses ini menandai dibolehkannya si anak mengikuti aktivitas bapaknya. Dia sudah bisa dibawa berburu, bahkan dibolehkan berburu sendiri di hutan.

Jika eneget dikhususkan bagi anak laki-laki, maka anak perempuan Mentawai akan melakukan usokgunei untuk menandai mulainya mereka melakukan aktivitas perempuan dewasa.

Usokgunei dimulai dengan pembuatan celana dari daun pisang sokgunei bagi anak perempuan. Celana tersebut harus dipakai selama proses sokgunei berlangsung.

Upacara sokgunei bagi anak perempuan dilakukan untuk mengenalkan pekerjaan perempuan dewasa Mentawai seperti membuat subba dan mencari ikan di sungai (pangisaou).

Proses sokgunei dimulai dengan persiapan, ibu-ibu anggota uma akan menyiapkan peralatan pangisou untuk mencari udang dan ikan di sungai. Setelah persiapan, anak perempuan itu ikut ibu-ibu mencari ikan selama tiga hari. Setelah itu mereka kembali ke uma membawa hasil tangkapan. Biasanya, ibu-ibu akan menggunakan mania (daun-daunan) di kepala sebagai tanda mereka baru saja menangkap ikan dan udang untuk sokgunei anak di suku mereka.

Sesampai di uma, anggota uma perempuan menyiapkan keladi, sagu dan pisang yang diolah menjadi subbet. Subbet tersebut akan diletakkan dalam dua piring, satu untuk si anak dan satu lagi orang tuanya. Mereka duduk bersama kepala suku dan berkumpul bersama. Kepala suku akan meletakkan udang dan ikan di atas subbet, lalu menyerahkannya kepada si anak dan orang tuanya sembari berkata;

"Konan simageret jolot tubutda sirimanua."

Ucapan tu menjadi penutup pesta sokgunei dan anak perempuan tersebut sudah dibolehkan memiliki subba sendiri dan pergi bersama orang tuanya atau ibu-ibu lain mencari ikan maupun pekerjaan lainnya.

Upacara eneget dan usokgunei biasanya dilakukan saat anak-anak masuk usia 6 hingga 8 tahun.

Namun saat ini upacara eneget dan usokgunei ini mulai ditinggalkan karena masyarakat sudah jarang berburu dan sulitnya mendapat hewan buruan, termasuk menangkap ikan di sungai.

  • Pin it
Komentar