PANGUKGU

12-07-2017 11:41 WIB | Budaya Mentawai | Reporter: Hendrikus Bentar | Editor: Zulfikar Efendi
PANGUKGU

Peternakan babi milik warga Srilanggai, Siberut Utara (Foto: Rus Akbar)

Pangukgu itu dalam bahasa Mentawai adalah cara menjinakkan babi agar babi peliharaan selalu berada di rumah pemiliknya dan tidak liar. Proses pangukgu ini bukanlah hal yang gampang dilakukan namun harus sanggup dan bersabar untuk menjalani pantangan selama dua minggu atau lebih.

Proses pangukgu untuk tiap hewan peliharaan memiliki cara berbeda misal menjinakkan ayam dengan babi memiliki pantangan berbeda. Selain itu, berpantang tidak hanya dilakukan laki-laki namun juga perempuan agar hewan peliharaan bisa selamat.

Proses awal pangukgu dimulai dari awal saat pembelian babi. Pembeli akan memberitahu pemilik babi tempat ia membeli akan melakukan pangukgu. Setelah proses pembelian selesai, babi siap dipindahkan. Proses pemindahan babi dilakukan dua hingga tiga orang. Babi tersebut biasanya dibawa dengan lukgou, semacam tas dari daun enau yang disandang dengan punggung.

Pembeli juga menyediakan luluplup yakni kandang yang terbuat dari bambu. Luluplup ini merupakan tempat penyimpanan sementara.

Setelah semuanya siap, pembeli dan penjual babi akan berangkat ke lokasi pemeliharaan. Saat perjalanan, pembeli babi akan memberikan mantera (panosok). Ada panosok sikataik maupun panosok simaeruk yang berfungsi menghindar ketika ada seseorang yang menyapa di jalan.

Setelah itu babi yang dibawa dimasukkan ke dalam kandang yang sudah disediakan oleh pemiliknya. Babi ini biasanya dikurung selama seminggu. Jika kurang jinak, bisa dikurung selama sebulan. Selama di kandang, babi diberikan makan sagu, kelapa dan makanan lain hingga terbiasa.

Setelah babi dikurung beberapa minggu hingga sebulan, pemilik baru memulai ritual tertentu agar babi jinak dan tidak jauh berkeliaran dan mengganggu ladang orang lain.

Selama proses itu, sejak pembelian hingga dikandangkan, pemilik babi harus menjalani pantang (keikei) yaitu tidak boleh makan yang asam, berbicara kasar, bertengkar dengan istri, makan daun keladi (lotlot), makan daun ( laipat). Mereka hanya boleh makan ikan yang diasapkan atau istilah Mentawai (silakkra), sedangkan untuk istri, tidak boleh menyisir rambut.

Selama babi dikandangkan, tidak ada yang dibolehkan lewat di depan rumah pemilik. Biasanya, di depan rumah tertancap daun (labi) sebagai penanda bagi orang lain agar tidak melewati depan rumah pemilik. Orang Mentawai percaya, jika ada orang yang melewati depan rumah pemilik babi yang sedang pangukgu, babi akan sulit dijinakkan.

Setelah menjelang seminggu atau sebulan, pemilik akan mengeluarkan babinya dari kandang. Pemilik membaca sambil mengambil sagu, dicampur tanah dan batu lalu berkata, "Bak ubbek pulakgajatnu porak nuan sosoa nanek" lalu dilanjutkan mengambil daun pisang dan berkata, "Anek peremannu bak ei kapulakgajatnu."

Setelah babi keluar bermain di hutan, pemilik akan menunggu babi hingga sore dan malam dengan menggunakan alat pemanggil gendang (loloklok) yang terbuat dari bambu. Biasanya pemanggilan babi terus dilakukan tiap menit agar babi yang dilepaskan tadi segera kembali. Ada dua kemungkinan terjadi, terkadang babi yang dijinakkan tidak akan kembali atau babi kembali ke kandang. Namun biasanya pemilik mampu memulangkan babi ke kandang jika mampu menjalankan pantangan dengan baik.

Jika babi tidak kunjung datang juga, biasanya pemilik melakukan ritual panaki dimana pemilik akan meminta kepada alam agar babi yang tersesat di hutan segera dikembalikan kepadanya.

Setelah ritual itu dilakukan, maka babi yang tersesat tadi akan kembali dengan keadaan selamat, biasanya pada malam hari. Pemilik babi harus siap memberi makan dan menyambut dia agar jiwanya menyatu dengan pemilik. Biasanya makanan babi awalnya kelapa yang diparut dicampur dengan sagu dan bekas ikan agar babi itu terbiasa dengan makanan dan tidak jauh bermain.

Setelah semua babi jinak, barulah pekerjaannya yang lain bisa ia lakukan dan beraktivitas seperti biasa, babi yang sudah jinak tidak akan liar lagi bila pemiliknya membunyikan gendang pemanggil babi agar datang cepat. Sejauh manapun babi bermain ketika pemiliknya membunyikan loloklok pasti babi itu tahu bahwa pemiliknya memanggil untuk makan dalam artian babi dan pemiliknya sudah memiliki kedekatan jiwa.

Kepercayaan dari orang tua dulu, bila babi sering dijual keluar dan dimakan oleh pemiliknya, maka babi akan liar dan dimakan ular piton ketika berada di hutan, makanya setiap ada korban babi saat upacara atau pengobatan di uma, babi harus dimantera dulu dan lehernya diberikan daun.

  • Pin it
Komentar