Pondok-pondok Pelajar Simatalu di Pantai Sikabaluan

16-06-2017 12:09 WIB | Pendidikan | Reporter: Bambang Sagurung | Editor: ocha
Pondok-pondok Pelajar Simatalu di Pantai Sikabaluan

Pondok-pondok pelajar asal Simatalu di Sikabaluan, Siberut Utara. (Foto: Bambang Sagurung)

SIKABALUAN--Lukas dan Yudas baru pulang mengikuti ujian akhir semester pada Rabu, 17 Mei 2017. Siang yang panas itu, kedua pelajar SMAN 1 Siberut Utara asal Dusun Suruan Desa Simatalu, Kecamatan Siberut Barat melepas lelah di teras pondok mereka yang berukuran 3x4 meter sambil menunggu nasi matang.

Di teras pondok yang berlantaikan batang nibung hutan, mereka berdua berdiskusi soal rencana kegiatan selama libur. "Kita pikir waktu libur dua minggu lebih baik tidak pulang karena untuk pergi dan pulang saja sudah menghabiskan waktu satu minggu perjalanan. Kami coba cari kerja di sini saja siapa tahu ada yang bisa dikerjakan selama masa libur," kata Lukas pada Puailiggoubat, Selasa, 17 Mei 2017.

Lukas mengatakan, mereka sudah mengirim surat kepada orang tua mereka supaya tidak datang menjemput ke Sikabaluan mengingat biaya dan tenaga yang dikeluarkan saat menjemput dan mengantar terlalu banyak.

"Lebih baik biaya bensin yang dikeluarkan itu disimpan untuk biaya kami masuk sekolah. Karena di kelas dua kami memerlukan biaya beli buku dan perlengkapan di pondok," ujarnya.

Selain memikirkan biaya perlengkapan sekolah, mereka juga memikirkan pondok yang ditempati karena mulai rusak termakan usia. Terlihat atap yang terbuat dari daun sagu yang mulai berlubang di beberapa bagian. Perkayuan yang sebagian sudah mulai lapuk.

"Pondok ini dibeli orangtua kami pada bapak yang anaknya lulus SMA dua tahun lalu. Namanya juga pondok, tentu perkayuannya seadanya," katanya.

Sementara Yudas berpikir, kalau menjelang libur mereka tidak mendapat kerja, lebih baik mereka pulang ke kampung dan memanfaatkan waktu dengan maksimal untuk mendapat uang. "Di kampung kita bisa membuat kopra, mencari manau," ujarnya.

Untuk berjalan kaki dari Sikabaluan hingga sampai di Suruan, Desa Simatalu Kecamatan Siberut Barat membutuhkan waktu tiga hari. Mereka berjalan dari Sikabaluan menuju Monganpoula hingga Sotboyak melalui jalan yang sudah ada. Dari Sotboyak menuju Bojakan mereka akan melewati jalan setapak di tengah hutan hingga ke Bojakan. Dari Bojakan mereka kembali melanjutkan perjalanan hingga Sinindiu.

"Kalau kami cepat, maka kami bisa bermalam di Sinindiu. Namun kalau kami terlalu capek, maka kami paksakan untuk mengejar bermalam di Bojakan," katanya.

Dari Sinindiu, mereka akan menaiki bukit yang berbatu untuk keluar di bagian aliran sungai di Simatalu. Dari aliran sungai Sinatalu inilah mereka menyisir tepi sungai hingga sampai di Suruan. "Kalau naik pompong bisa dua hari, karena akan bermalam di Sinindiu," katanya.

Di Sinindiu, warga Simatalu yang menuju Sikabaluan sedikit terbantu soal menginap karena pemerintah Desa Bojakan Kecamatan Siberut Utara pada tahun 2016 lalu membangun rumah dari ADD.

"Di sana sudah bisa bermalam dengan aman, menyimpan barang dan mesin pompong. Kalau dulu hanya membuat tempat berteduh dari daun pisang atau dari daun enau," katanya.

Untuk naik pompong, mereka bisa menghabiskan 15 liter bensin sekali jalan. Harga satu liter bensin di Simatalu Rp18-25 ribu. Sementara harga bensin di Sikabaluan saat ini Rp8.500 hingga Rp9 ribu per liter.

"Karena jalan yang sulit yang membuat harga mahal di Simatalu, tidak tahulah sampai kapan ada jalan beton dari Bojakan hingga Dusun Lubaga sehingga kami orang Simatalu merasa merdeka," kata Yudas.

Di bagian pantai Sikabaluan, tepatnya dekat bagian pintu muara sungai Sikabaluan terdapat sekira 30 unit pondok pelajar dan juga kepala keluarga yang pindah dari Desa Simatalu. Ada pondok yang berlantai dan berdinding papan, namun ada juga yang berlantai nibung hutan dan berdinding bambu dan ada juga yang berlantai dan berdinding bambu. Semua pondok beratapkan daun sagu. Ukuran pondok bervariasi, ada yang berukuran 3x4 meter, 3x5 meter dan ada yang 4x5 meter.

"Saya pindah ke sini karena ingin pendidikan anak saya lebih baik dan juga hidup kami yang sedikit baik dari sebelumnya saat tinggal di Simatalu," kata Teu Ipok (45), salah seorang warga Simatalu yang pertama menghuni pantai Sikabaluan.

Teu Ipok pindah dari Muntei Desa Simatalu dan membuat pondok di bagian pantai Sikabaluan pada 2000. Ia nekat membawa anaknya karena sulitnya hidup di pedalaman. "Kami kaya di kampung, tapi tidak ada nilainya. Babi, kelapa, sagu, ayam banyak. Namun tidak ada nilai. Kalau kita jual pada pedagang, tidak diberi uang tapi barang yang kita perlukan dalam rumah tangga saja, sementara kita perlu uang juga untuk sekolah anak," katanya.

Selain dari Muntei, warga yang pindah dari Desa Simatalu yang kini tinggal di bagian pantai Sikabaluan dari Dusun Lubaga Desa Bojakan. "Harga beli mahal, sementara harga jual hasil masyarakat sangat murah. Ini karena jalan yang belum ada dari Lubaga ke Bojakan. Kita bawa hasil bumi ke Simalibbeg tempat pedagang menampung jaraknya sangat jauh. Biaya beli bensin untuk minyak pompong mahal," kata Rupinus (40), salah seorang warga Simatalu.

Jakjak Lauru (50), warga Suruan mengatakan, uang sedikit sangat berharga bagi masyarakat pedalaman seperti Simatalu. "Mencari uang Rp5 ribu saja sangat sulit, makanya kalau kami mengirim belanja dan keperluan anak kami yang sekolah di Sikabaluan, Rp100 ribu itu untuk dua hingga tiga bulan," katanya.

Keuskupan Padang, melalui Paroki Sikabaluan pernah melakukan investigasi monopoli perdagangan barter di Desa Simatalu Kecamatan Siberut Barat pada 2014 yang hasilnya pada waktu itu memang terjadi monopoli perdagangan yang membuat pertumbuhan ekonomi masyarakat Simatalu tidak membaik.

"Setelah adanya investigasi itu, pedagang mulai mengeluarkan uang tunai. Sebelumnya masyarakat Simatalu tidak melihat dan sulit mendapatkan uang tunai. Semua hasil bumi hanya ditukar dengan barang dagangan yang dijual pedagang di Simatalu," kata Swandi Sabentuk, warga Simalibbeg, Desa Simatalu.

Sanide Siribere, pengurus pemuda Dusun Muara Desa Sikabaluan Kecamatan Siberut Utara menyebutkan, warga Simatalu yang sudah resmi pindah ke Sikabaluan dengan melapor pada pemerintah dusun baru dua orang, yaitu Teu Ipok dan Tadda Laggai. "Selebihnya itu masih pendatang yang belum memiliki surat resmi meski mereka sudah lama berada di pantai Sikabaluan," katanya.

Persoalan lain, kata Sanide, semakin banyak masyarakat Simatalu yang menghuni bagian pantai Sikabaluan bersamaan dengan pelajar yang belajar di SMPN 1 Siberut Utara dan di SMAN 1 Siberut Utara sulit dikontrol.

"Apalagi yang tinggal di pondokan tanpa orangtua, mereka rawan pergaulan bebas. Ini yang menjadi tanggungjawab kita bersama," ucapnya.

Pelajar yang tinggal di Sikabaluan yang berasal dari Simatalu, Simalegi, Sigapokna, Sirilogui dan Bojakan lebih banyak tinggal di pondokan yang dibuat orangtua, selain tinggal di kost dan asrama. Namun karena daya tampung asrama yang terbatas menyebabkan penerimaan asrama terbatas. Untuk asrama pastoran Sikabaluan, baik putra maupun putri hanya menampung pelajar dari SD hingga SMP. Demikian juga dengan asrama pelajar muslim. Sementara asrama pemda belum termanfaatkan karena masih bermasalah antara kontraktor dengan pekerja. (Bambang Sagurung)

  • Pin it
Komentar