Biaya Angkut Mahal, Warga Bukku Monga Biarkan Pisang Membusuk

15-06-2017 11:36 WIB | Ekonomi | Editor: ocha
Biaya Angkut Mahal, Warga Bukku Monga Biarkan Pisang Membusuk

Tumpukan tandan pisang di Pasar Masabuk, Sikakap. (Foto: Ocha)

TAIKAKO-Warga Bukku Monga KM 9 Pagai Selatan, Desa Taikako, Kecamatan Sikakap membiarkan pisangnya dimakan burung dan membusuk di ladang sebab tak sanggup menjual ke pasar Sikakap karena terkendala ongkos pengangkutan yang mahal.

Martinus (40), petani pisang di Dusun Bukku Monga mengatakan, jika menjual pisang ke Sikakap mereka mengeluarkan ongkos ojek sebanyak Rp60 ribu pulang pergi sebab mobil tidak masuk ke daerah mereka.

"Tandan yang mampu diangkut dengan ojek paling banyak 3 tandan ukuran besar namun jika ukuran tandan pisang kecil maka mencapai 5-6 tandan," katanya kepada Puailiggoubat, Kamis, 1 Juni.

Kepala Dusun Bukku Monga KM 9 Pagai Selatan, Richson menyebutkan, pada umumnya warganya memiliki ladang pisang. Luas ladang pisang tiap kepala keluarga bervariasi, ada yang setengah hektar, satu hektar bahkan lebih.

Menurut data yang dimiliki di Pemerintah Dusun Bukku Monga, hanya 100 tandan pisang yang dapat dijual ke penampung di Sikakap setiap hari Rabu.

Harga pisang medan di pasar Sikakap mencapai Rp40 ribu hingga Rp60 ribu per tandan tergantung ukuran tandan pisang. Sementara pisang biasa hanya dibeli Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per tandan.

Richson menyebutkan, jika dibandingkan dengan harga pisang dan ongkos ojek yang mesti dikeluarkan mengangkutnya tidak seimbang.

"Karena mahalnya sewa angkutan akibatnya banyak petani pisang tidak memanen pisangnya dan membiarkan masak di batang untuk dimakan burung dan kalau dipanen hanya untuk makan," katanya. (Supri Lindra)

  • Pin it
Komentar