Perajin Suvenir Papan Selancar di Silabu Berharap Laba dari Turis Surfing

15-06-2017 09:54 WIB | Peristiwa | Editor: ocha
Perajin Suvenir Papan Selancar di Silabu Berharap Laba dari Turis Surfing

Dua orang perajin suvenir papan selancar di Desa Silabu, Kecamatan Pagai Utara, Mentawai. (Foto: Leo Marsen)

Dengan cekatan tangan Irwan Jono memutar dan mengorek-ngorek papan kecil dihadapannya yang berbentuk papan selancar. Berselang setengah jam, ukiran kasar bermotif pulau Mentawai telah tergambar di papan tersebut.

Irwan Jono adalah pemuda yang berasal dari Desa Silabu, Kecamatan Pagai Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai. Pemuda 18 tahun sepanjang hari menghabiskan waktunya mengukir kayu dengan berbagai bentuk yang dijual sebagai suvenir kepada turis selancar yang berkunjung ke Macaronis Resort.

Tingginya kunjungan turis ke daerah Silabu yang menjadi salah satu destinasi wisata selancar kelas dunia di Mentawai dimanfaatkan pemuda setempat menjual ukiran kepada wisatawan.

Irwan mengatakan, selain dirinya, ada enam rekannya yang lain turut berprofesi sebagai pembuat suvenir. Keterampilan membuat suvenir tersebut menurut Irwan didampingi oleh ahli yaitu Ardiansyah yang merupakan perajin senior.

"Pak Ardiansyah yang mendampingi sehingga hasil karya kami dapat dijual kepada turis yang ada di Macaroni Resort, yang kami pakai bahan kayu yang mudah diukir dan alatnya adalah gergaji, kampak, parang, pahat ukuran kecil, menengah dan ukuran besar dan juga pisau-pisau kecil, amplas, kuas, wantek, spidol dan pensil," katanya kepada Puailiggoubat, Senin, 12 Juni.

Ukiran kayu yang sering mereka buat berupa papan selancar dari papan setebal 3 Centimeter dan lebar 10 Centimeter dengan panjang sekitar 40-50 Centimeter. Motif yang diukir di papan itu berupa pulau Mentawai, nama-nama lokasi surfing di Mentawai dan motif ombak yang dijual Rp300 ribu hingga Rp400 ribu per unit.

Untuk menyelesaikan satu motif ukiran papan selancar mereka menghabiskan waktu hingga dua hari. Biasanya hasil kerajinan itu dijual kepada turis yang menginap di Macaronis Resort sebanyak dua kali seminggu.

Menurut Irwan, jumlah ukiran yang terjual dalam seminggu tidak menentu, kadang hanya satu unit dan jika turis yang berkunjung banyak bisa mencapai empat unit dalam seminggu.

Sentiani (38), istri Ardiansyah menyebutkan, suaminya sudah mengukir kayu selama 20 tahun dan telah banyak dijual kepada turis. "Walau tidak banyak menghasilkan uang tapi untuk biaya rumah tangga dengan empat anak terbantu dan juga sudah dua periode menjadi kepala dusun Silabu Barat," katanya.

Dari buah tangannya tersebut, lanjut Sentiani, Ardimansyah telah mengikuti pameran wisata mewakili Kabupaten Kepulauan Mentawai di Sijunjung, Sumatera Barat dan di Bali pada 2014.

Aban Saleh (14), perajin belia lain mengaku, sudah tiga tahun mengukir papan surfing yang diajar orangtuanya. "Sehingga saya sudah dapat buat sendiri dan saya saat ini sudah tamat SMP dan melanjutkan ke tingkat SMA. Jika ada waktu senggang, saya membuat karya dan saya jual sama bule dan saya dapat uang," tuturnya.

Irwan, Aban Saleh serta Sentiani berharap Pemda Mentawai membantu pengembangan usaha mereka agar kegiatan tersebut terus berlanjut.

Sementara Kepala Desa Silabu, Dorman Sakerebau, mendukung pengembangan kerajinan tersebut. Pada tahun ini pihaknya menganggarkan dana membangung galeri bagi pengrajin suvenir yang berbentukuma(rumah adat suku Mentawai) berukuran 4X6 meter.

"Selain itu sudah ada respon dari Jono, pengelola Macaronis Resort untuk menyediakan tempat bagi pengrajin suvenir, menampung dan memasarkannya kepada tamu," katanya, Selasa, 13 Juni.

Menurut data Pemerintah Desa Silabu, jumlah wisatawan mancanegara yang menginap di Macaronis Resort per tahun sekira 300-400 orang. Wisatawan berasal dari Brazil, Australia Amerika dan ada dari asia seperti Jepang.

Biasanya wisatawan yang didominasi peselancar datang pada musim ombak besar pada Juni-Desember. Kemudian pada Januari-Februari, turis didominasi liburan keluarga yang juga dari mancanegara. Selain yang menginap di resort, ada sekira 500 orang per tahun menginap di kapal yang tambat dimooring buoy.(Leo Marsen Purba)

  • Pin it
Komentar