Yurlidan Nafkahi Keluarga Dengan Jualan Ikan Asin

18-04-2017 13:39 WIB Ekonomi
Yurlidan Nafkahi Keluarga Dengan Jualan Ikan Asin

Yurlidan memilih ikan yang akan diolah menjadi ikan asin. (Foto:Fadly)

TUAPEIJAT- Semenjak ditinggalkan suaminya pada tahun 1996 lalu, Yurlidan terus berusaha menjadi ibu sekaligus kepala keluarga dalam memenuhi kebutuhan hidup dan perekonomian keluarganya

Yurlidan (52), ibu dari empat orang anak, kelahiran Kerinci, Jambi, 15 Agustus 1964, telah mengawali usaha berjualan ikan asin pada 2002 lalu. Dibantu oleh ke empat orang anaknya, usaha rumahan yang berada di Dusun Jati, Desa Tuapeijat, Kecamatan Sipora Utara ini telah menjadi sumber ekonomi keluarganya.

"Semenjak suami saya meninggal di tahun, saya terus mencoba melakukan berbagai pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan kami, dan saat itulah saya mulai belajar buat ikan asin" katanya kepadaMentawaiKita.com, Minggu (16/4).

Awalnya ikan asin hasil usahanya hanya dipasarkan dan dinikmati oleh tetangganya saja. Namun melihat produksinya yang terus tersedia para tetangganya mengusulkan untuk dijual pada saat ada kapal dagang yang tiba sambi dijual dengan cara digantung di depan rumahnya yang tepat berada dipinggir jalan di sekitar pantai Jati.

Dengan semakin ramainya penduduk di Tuapeijat apalagi dengan kehadiran pegawai yang bekerja di pemerintahan kabupaten, usahanya semakin berkembang. Pada tahun 2002 yang lalu ia mulai membeli bahan baku berupa ikan basah dari nelayan dengan menggunakan sekira Rp3 juta dari tabungannya sendiri.

" Dengan semakin banyaknya permintaan dan pelanggan ikan asin, saya beli aja ikan dari nelayan kebetulan saya ada simpanan uang waktu itu. Sekira 3 juta rupiah saya modalkan untuk beli ikan kepada nelayan, dengan harga 20 ribu per kilonya. Dan kalau sudah diolah menjadi ikan asin kita bisa jual Rp70 ribu per kilogram," kata Yurlidan sambil membalik ikan yang sedang di jemur di depan rumahnya.

Melihat perkembangan usahanya ini, Pemerintah Kabupaten Mentawai juga pernah memberi bantuan modal kepada ibu Yurlidan. Pada tahun 2013 pemerintah memberi bantuan Rp10 juta yang digunakannya untuk membeli berbagai peralatan.

"Dengan bantuan pemerintah itulah saya bisa beli kulkas, beli timbangan, pisau pembelah, garam, waring untuk penjemuran dan juga tambahan modal untuk beli bahan baku berupa ikan basah" katanya.

Pengolahan ikan asin dilakukan cukup sederhana. Bahan baku berupa ikan basah yang dibeli dari nelayan langsung dibersihkan dan dibelah, lalu direndam dalam air yang ditabur garam selama satu malam, lalu dijemur di panas mata hari.

Menurutnya, kualitas ikan asin tergantung pada jenis dan kesegaran ikan yang diolah serta teknik pengeringannya. "Kalau mau kualitas ikan asin itu baik, kita harus pilih ikannya dan kalau bisa kita keringkan di panas mata hari sekitar 2 atau 3 hari agar keringnya sempurnya," jelasnya.

Sebagai usaha rumahan, ia juga pernah merasakan jatuh bangun dalam usaha ini. Ia mencontohkan kejadian pada tahun 2015 lalu, selama 2 bulan tak ada pembeli yang datang dan ikan asin yang sudah ada hanya dikonsumsi sendiri dan yang lain terpaksa dibagi ke tetangga.

Saat ini, rata-rata setiap minggunya Yurlidan mengelola 50 kg ikan basah dan bisa menghasilkan sekira 25 kg ikan asin, dan pemasarannya tidak sulit.

Untuk pemasaran ikan asin olahannya ia mengaku tidak terlalu ada kendala, karena selain pelanggan semakin banyak ia juga sering dapat pesanan dari tamu-tamu pemda yang kebetulan datang ke Mentawai.

"Ikan asin tanpa pengawet, pemasarannya cukup di rumah saja dan digantung. Selalu ada orang yang beli, apalagi ada tamu dari pemda yang datang biasanya mereka borong." kata Yurlidan sambil mengangkat ikan yang sudah kering dan memasukkannya dalam polipom.

(Yogi Al Fadly)

  • Pin it
Komentar