Mengenang Laurensius Tambunan, Pria Energik Peduli Pendidikan Mentawai

20-03-2017 10:24 WIB Pendidikan
Mengenang Laurensius Tambunan, Pria Energik Peduli Pendidikan Mentawai

Laurensius Tambunan. (Foto:dok)

Sebuah pesan singkat dari whatsapp diterima tanggal 20 Maret 2017 membuat saya tersentak, kabar yang tak terduga diterima bahwa Taruli Tambunan telah tutup usia di Rumah Sakit Santa Elizabet, Medan.

Bapak Lauren, begitulah beliau akrab disapa, merupakan sosok pria yang energik. Selama masih aktif bertugas di Kantor Unit Pelaksana Teknis Dinas Pendidikan Kecamatan Siberut Selatan yang dulu dikenal kantor cabang, banyak peran sentral yang dilakukan olehnya terutama di bidang pendidikan, mulai dari menjadi guru hingga menjadi pengawas sekolah. Sehingga siapapun yang mendengar namanya di Siberut pasti akan kenal

Kiprahnya di bidang pendidikan tak bisa dipandang sebelah mata, selama Yayasan Citra Mandiri Mentawai (YCMM) menggagas kurikulum muatan lokal budaya Mentawai untuk diterapkan di seluruh sekolah di Mentawai, banyak ide dan dorongan yang ia berikan.

Birokrasi yang rumit untuk memulai kurikulum ini tidak menggoyahkan semangat Laurensius Tambunan. Selama 10 tahun, ia bersama-sama YCMM dan sejumlah guru lainnya berjuang menjadikan budaya Mentawai sebagai pelajaran muatan lokal di sekolah. Meski bukan asli Mentawai, pria Batak yang awalnya guru SD Santa Maria milik Pastoran Paroki Muara Siberut ini berpendapat, budaya Mentawai harus diajarkan di sekolah sejak dini agar tidak hilang dalam identitas dan diri generasi muda Mentawai.

"Meski belum diterapkan (kurikulum) di seluruh sekolah di Mentawai paling tidak hal ini kita bisa lakukan di sekolah-sekolah di Siberut terutama di Siberut Selatan, guru pelajaran itu biar UPDT yang usahakan, mari kita berbagi peran saja mana yang bisa kita mampu lakukan, nanti dimana letak kelemahannya kita evaluasi bersama," katanya ketika penerapan kurikulum pelajaran muatan lokal budaya Mentawai tak kunjung mendapat legalisasi dari Pemda Mentawai.

Laurensius Tambunan tak pernah absen pada berbagai seminar yang dilakukan YCMM untuk memperbaiki kurikulum Mentawai yang sudah diuji coba pada beberapa sekolah tak pernah, baik menjadi pemateri maupun penyusunan kurikulum itu sendiri.

Selain dari sisi kurikulum, ia juga berperan aktif membantu YCMM menjadikan sekolah Hutan Magosi yang kini berubah nama menjadi Sekolah Uma Magosi menjadi salah satu filial SDN 12 Muntei, Kecamatan Siberut Selatan dan Sekolah Uma Tinambu bergabung dengan SDN 16 Saliguma. Dan pada akhirnya usaha itu berhasil, sekolah itu menjadi salah satu filial sehingga anak-anak tidak bingung lagi akan kelanjutan sekolahnya.

Ada satu kata yang kuat disampaikan saat memfasilitasi transformasi Sekolah Uma ke SDN 12 Muntei," Mereka juga adalah anak-anak Mentawai, mereka berhak mendapat pendidikan yang layak sudah menjadi kewajiban kita membantu mereka," katanya lantang menanggapi jumlah murid yang tidak banyak.

Kini pria ceria ini telah dipanggil Tuhan, sumbangan ide dan pemikirannya terhadap kemajuan pendidikan di Mentawai akan selalu dikenang para generasi Mentawai. Selamat jalan pejuang pendidikan Mentawai. Semoga kau mendapat tempat terindah di surga.

Gerson Merari Saleleubaja

  • Pin it
Komentar