Dua Benih Padi Varietas Unggul Dikembangkan di Mentawai

17-03-2017 11:19 WIB Peristiwa
Dua Benih Padi Varietas Unggul Dikembangkan di Mentawai

Petani sawah di Saibi Samukop, Siberut Utara, Mentawai sedang panen. (Foto: Rinto Robertus)

TUAPEIJAT-Dua jenis benih padi varietas unggul yakni PB-42 dan varietas Junjung dikembangkan di Kabupaten Kepulauan Mentawai. Pengembangan benih padi yang sudah tersertifikasi tersebut dilakukan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kepulauan Mentawai dengan tujuan memenuhi ketersediaan benih bagi petani di Mentawai.

"Jadi benih yang tersertifikasi itu adalah varietas PB-42 dan varietas Junjung bukan padi Mentawai dan dua jenis padi yang kita kembangkan ini sudah tersertifikasi olehBalai Pengawasan dan Sertifikasi Benih di Bukit Tinggi," kata Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Mentawai, Novriadi kepada Puailiggoubat, Selasa, 7 Maret.

Kedua jenis padi tersebut telah diujicoba di Mentawai dan disesuaikan dengan kondisi lahan sehingga memiliki keunggulan dari produktivitas, kemudian tahan dari serangan hama.

"Jadi ini bukan benih Mentawai tetapi benih dari luar tapi kita kembangkan di Mentawai yang sama kualitasnya dengan daerah lain cuma kita berupaya menyediakan stok benih di Mentawai karena selama ini benih kita datangkan dari luar terus," kata Novriadi.

Dinas Pertanian dan ketahanan pangan Mentawai menginginkan adanya penangkaran benih padi di Mentawai. Saat ini penangkaran benih sudah ada di Pogari, Goiso Oinan dan Satuan Pemukiman (SP) 2 Sipora Utara.

"Kita ingin menciptakan penangkaran benih padi, dan dengan adanya itu kita bisa memproduksi benih padi dan itu tujuan kita, penangkaran yang kita kelola juga sudah ada dan penangkar milik masyarakat juga sudah ada, ini yang kita harapkan benih padi tidak didatangkan lagi dari luar," ujarnya.

Saat ini Dispangpan Mentawai memiliki stok benih padi yang tersertifikasi jenis PB-42 sebanyak 1 ton dan varietas Junjung 1,5 ton.

Sertifikasi ini, kata Novriadi, menggunakan jenis padi yang memiliki label oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian yang berada di Solok. Dalam satu kali musim tanam minimal ada dua kali pengamatan yang dilakukan oleh lembaga yang mengeluarkan sertifikasi atau Balai Pengawasan dan Sertifikasi yang ada di Bukit Tinggi.

Proses sertifikasi itu dimulai, setelah panen, kemudian padi diolah, dikeringkan, dibersihkan dan sampelnya dibawa ke BPSP untuk kemudian diuji. Pengamatan dimulai dari kebersihan, kadar airnya pada benih berdasarkan hasil pengujian tersebut dikeluarkanlah sertifikat.

"Kita tidak mengubah sifat dari benih padi ini tapi kita memperbanyak, dan umur bisa kita melakukan panen juga hampir sama 115-120 pada umumnya," katanya.

Kemudian terkait balai benih yang dikelola Dispangpan Mentawai, di dalamnya sudah ada berbagai jenis macam pohon durian, samung (langsat), durian asal Mentawai dari penangkaran seperti okulasi dan cangkok. Penyediaan tersebut bertujuan agar orang di luar atau pun orang Mentawai mengetahui jenis tanaman yang dimiliki Mentawai.

"Untuk perbanyakan lain lagi prosesnya, yang penting sumber daya genetik sudah ada di penangkaran kita dan jika melihat pohonnya sudah ada di kebun masyarakat," jelas Novriadi.

Sementara terkait peremajaan kelapa tahun ini dan sejak 2015 pihaknya tidak ada kegiatan sebab tak ada permintaan dari masyarakat.

"Kelapa tahun ini tidak ada,yang ada tahun 2015 seperti di Beriulou dan Betumonga tapi sekarang tidak ada dan kita melakukan tergantung permintaan masyarakat." Katanya.

(Patrisius Sanene/g)

  • Pin it
Komentar