Pengendalian Tuberkolosis di RSUD Mentawai

09-01-2017 10:46 WIB Opini
Pengendalian Tuberkolosis di RSUD Mentawai

Salah satu penderita TBC di Desa Betumonga Kecamatan Pagai Utara. (foto: rus akbar)

ABSTRACT

Latar Belakang: Kabupaten Kepulauan Mentawai terdiri dari 10 kecamatan, 43 desa dan 210 dusun yang tersebar di 4 pulau besar yaitu Pulau Utara Selatan, Sipora dan Siberut.

Di Kepulauan Mentawai ditemukan banyak kasus tuberkulosis sehingga harus dilakukan penanggulangan. Tuberkulosis (TB) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting di dunia ini. Pada tahun 1992 World Health Organization (WHO) telah mencanangkan tuberkulosis sebagaiGlobal Emergency.Laporan WHO tahun 2004 menyatakan bahwa terdapat 8,8 juta kasus baru tuberkulosis pada tahun 2002, dimana 3,9 juta adalah kasus BTA (Basil Tahan Asam) positif. Pada tahun 2004 WHO memperkirakan setiap tahunnya muncul115 orang penderita tuberkulosis paru menular (BTA positif) pada setiap 100.000 penduduk.

Saat ini Indonesia masih menduduk iurutan ke3 di dunia untuk jumlah kasus TB setelah India dan China. Di Sumatera Barat pada tahun 2014 tercatat sebanyak 7.404 orang penderita Tuberculosis dan di dinas kesehatan kabupaten kepulauan mentawai sebanyak 147 orang dan yang ada di Rumah Sakit Umum Daerah pada tahun 2015 sebanyak 20 penderita, sementara kasus yang ditemukan pada tahun 2016 sampai pada bulan November sebanyak 31 orang.

Tujuan: Penanggulangan penderita ini dilakukan bertujuan agar tidak terjadi penularan yang lebih luas serta mengurangi dampak penyakit yang lebih luas melalui metode penggunaan obat anti tuberkulosis (OAT).

Metode:Karya ilmiah ini adalah karya dengan rancangan study kasus jenis kualitatif melalui observasi dan cek dokumen penderita dari hasil pemeriksaan laboratorium dengan BTA positive dan Rongen postitive.

Hasil dan pembahasan: Jumlah kasus penderita mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Cakupan pengobatan tuberculosis menunjukkan anggka kesembuhan dari jumlah penderita yang mendapat pengobatan. Ketersediaan Sumber Daya Manusia, dana dan sarana pelaksanaan pengobatan serta wilayah yang sangat luas mengakibatkan efisiensi palaksanaan kurang optimal dan kebijakan makan obat anti tuberculosis menyebabkan efektifitas kurang optimal karena control petugas serta kesadaran pengawas makan obat dari keluarga yang rendah, selain dari itu kesadaran dari penderita yang sangat rendah.

Kesimpulan:Penanggulangan tuberculosis belum optimal dan efisiensi menurun disebabkan oleh manajemen program yang kurang baik.

Publikasi Karya Ilmiah

Dr. Tomar Sb. M.Kes

  • Pin it
Komentar