Pemilihan Siokko-Silainge Mentawai Menuai Polemik, Ini Penjelasan Juri

01-11-2016 18:28 WIB | Peristiwa | Editor: ocha
Pemilihan Siokko-Silainge Mentawai Menuai Polemik, Ini Penjelasan Juri

Silainge dan Siokko Mentawai 2016, Hendra Sababalat dan Ashfihani Basnur. (Foto: Patrisius Sanene)

TUAPEIJAT-Terpilihnya Ashfihani Basnur sebagai Siokko Mentawai 2016 dalam pemilihan Duta Wisata dan Budaya Mentawai 2016 menuai polemik di kalangan masyarakat Mentawai.

Ia dipersoalkan karena bukan berasal dari Mentawai, dan pernah menjadi Uni Berbakat Pesisir Selatan 2015 saat mengikuti Uni Pessel tahun lalu.

"Percuma saja namanya 'Siokko-Silainge' yang terpilih bukan orang Mentawai, padahal ada orang Mentawai yang lebih mengerti tentang budaya Mentawai, saya tidak setuju Siokkonya itu terpilih,"kata Rosalinda (43), salah satu warga Tuapeijat pada Senin, 31 Oktober.

Menanggapi itu Kepala Seksi Pelatihan dan Pengembangan Seni Budaya Disbudparpora Mentawai Laurensius Saruruk mengatakan ada target lain bahwa duta terpilih bisa memberikan informasi yang benar tentang Mentawai kepada masyarakat yang lebih luas bahkan dunia.

Di sisi lain menurut Lauren yang juga juri dalam pemilihan itu, pemilihan duta wisata yang dilaksanakan setiap tahun adalah kebutuhan Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Mentawai, agar duta terpilih bisa meluruskan informasi tentang image jelek Mentawai, misal soal Mentawai daerah yang rawan bencana, isu ini sangat berpengaruh dalam dunia wisata.

"Sampai sekarang orang di luar memiliki image jelek terhadap Mentawai, dari sisi itu salah satu tujuan kita juga lebih mempromosikan pariwisata Mentawai, dengan kemampuannya dan kecerdasannya, dia mengambil tindakan yang komplit," kata Lauren di kantor Disbudparpora Mentawai, 31 Oktober.

Lauren tidak mau menanggapi polemik soal domisili Siokko terpilih karena pemilihan duta wisata dan budaya dibuka untuk umum, dan pemilihan duta wisata ini diakuinya terlalu cepat pelaksanaannya karena mengingat acara pemilihan Uda-Uni di Padang.

"Di sisi lain kita juga menghadapi kegiatan Uda-Uni yang nota bene pesertanya adalah tingkat Sumbar. Kita juga yang ada di Mentawai ini harus juga tahu tentang suku dan adat budaya Sumatera Barat secara keseluruhan karena semua bagian dari kompetisinya," kata Lauren.

Ia memaklumi munculnya pro-kontra pasti akan muncul. Soal bahasa Mentawai menurutnya bisa diberi tahu. "Namun yang penting mampu mempromosikan Mentawai, kan tidak harus bahasa Mentawai, kita bisa memberikan sumbangsih kepada duta, ketika mereka tidak tahu, kita kasih tahu soal budaya kepada mereka, kita berikan edukasi, mereka adalah orang yang berkeinginan mendapat informasi," kata Luren lagi.

Konsep pemilihan Duta Wisata Mentawai menurut Lauren untuk mempromosikan Mentawai sehingga orang bisa lebih banyak mengunjungi Mentawai. "Misalnya orang Sumatera Barat atau di luar Sumbar bisa lebih banyak datang ke Mentawai, kita hapus image jelek Mentawai, saatnya kita membuka diri, saya tidak setuju menghilangkan budaya," katanya.

Sementara Kasi kelembagaan Seni dan Budaya Disbudparpora Mentawai Hasnah Asmi mengatakan, saat melakukan seleksi terhadap peserta pemilihan Duta Wisata Mentawai, tidak melihat keganjilan dan tidak tahu Ashfihani pernah mengikuti pemilihan serupa di daerah lain. Ia yakin semua peserta sudah melalui seleksi ketat Event Organizer (EO).

"Saya dipercaya untuk menyeleksi peserta di Padang, saya melihat tidak ada yang ganjil ,saya menjadi juri seleksi awal, sudah percaya saja, melihat geliat di sosial media memang ada hal pro kontra," katanya.

Ia mengaku melihat biodata peserta dari list yang diberikan EO, "Saya berpositif thinking saja bahwa pihak EO sudah menyeleksi secara administrasi dan tidak bermasalah," kata Asmi.

Karena itu ia berharap polemik ini diselesaikan sehingga tidak menimbulkan keriuhan di masyarakat.

Sementara 'Oktaviany Purnama Pariwisata' (OPP) selaku EO penyelenggara diwakili oleh Roby Rimeldo mengatakan tidak mengerti soal teknis karena yang lebih mengerti sudah berada di Padang. Saat diminta data identitas finalis, Roby mengaku tidak memilikinya.

Namun menurutnya penyeleksian duta wisata harus benar-benar memberikan kontribusi yang cerdas, good looking, yang jiwanya di Mentawai.

"Yang terpenting adalah orang berkontribusi untuk Mentawai, kita sangat berhati-hati memilih duta wisata, kita mengajak mereka tidak hanya sekedar tampil tapi juga memiliki kontribusi, dan salah satunya adalah kebutuhan Dinas Pariwisata kapan pun dinas butuhkan, lebih dari itu mereka juga berkontribusi secara sosial," kata Roby.

Sementara Silainge Mentawai 2016, Hendra Sababalat menyayangkan polemik yang muncul. Dia mengaku terpaksa sendirian saat sosialisasi tentang budaya Mentawai ke SMAN 01 Sipora dan SMAN 02 Sipora.

(Patrisius Sanene)

  • Pin it
Komentar