Lomba Turuk Di Siberut Utara Berawal Dari Festival Turuk YCMM

19-08-2016 23:21 WIB Pendidikan
Lomba Turuk Di Siberut Utara Berawal Dari Festival Turuk YCMM

ilustrasi

SIKABALUAN-Setiap tahunnya di Kecamatan Siberut Utara, lomba turuk laggai tingkat pelajar selalu diselenggarakan baik dalam memeriahkan HUT RI maupun kegiatan nasional lainnya. Untuk tingkat SD dalam dua tahun berturut-turut dalam memeriahkan HUT RI selalu ada lomba turuk laggai tingkat SD se-Kecamatan Siberut Utara dalam ruang lingkup wilayah kerja cabang dinas Kecamatan Siberut Utara.

Lomba turuk laggai di Siberut Utara dimulai sejak 2007 setelah festival turuk laggai tingkat Kabupaten Kepulauan Mentawai diadakan YCMM di Siberut Selatan. Oleh sekolah SD di Siberut Utara pada saat itu masih satu wilayah dengan Siberut Barat sepulang dari Siberut Selatan masih mengadakan malam bersama di aula Pastoran Sikabaluan dengan menampilkan semua turuk yang dibawa dalam festival. "Semua berawal dari sana. Waktu itu wilayah Simatalu masih gabung ke Siberut Utara," kata Sandro Sapotuk, guru di SDN 15 Bojakan pada Mentawaikita, Rabu, 17 Agustus 2016.

Dikatakan Sandro, awalnya ada perlombaan turuk tingkat SD, SMP dan SMA. Namun karena tidak satu tingkatan, dalam setiap perlonbaan selalu dikuasai oleh SMP dan SMA, sementara SD tidak masuk dalam nomor. "Akhirnya setelah SD mengkhususkan kegiatan tingkat SD, barulah semua SD dilibatkan. Tapi yang disayangkan tingkat SMP dan SMA tidak ada lagi. Kita berharap dgn adanya empat SMP dan satu SMA di Siberut Utara ini dapat dihidupkan lagi," katanya.

Bila tidak ada keberlanjutan dari SD menuju jenjang berikutnya, maka pengetahuan dan budaya ini akan hilang juga. "Selana ini hanya anak-anak dari daerah pedalaman saja yang tampil dalam turuk, namun daerah pesisir tidak ada lagi. Untuk pelajar perempuan, turuk pokpok perlu dimunculkan lagi krn itu berasal dari Siberut Utara," katanya.

Guru Budaya Mentawai (Bumen) di SDN 09 Muara Sikabaluan Salim Tasirilotik, mengatakan selama mengajarkan bumen disekolahnya yang didominasi murid dari keturunan anak tepi, antusias mereka cukup tinggi. "Untuk belajar turuk saja mereka semangat walau mereka tidak paham arti turuk yang dibawakan serta cara memainkannya merrka tidak mahir. Lalu anak-anak Mentawai sendiri yang ada ditingkat SD, SMP dan SMA bagaimana. Ini peran guru bumen yang ada dimasing-masing sekolah," katanya.

Ketua Panitia Pelaksanaan Kegiatan SD se-Kecamatan Siberut Utara Piater Sihotang mengatakan, dari 13 SD wilayah cabang Dinas Pendidikan Siberut Utara hanya lima SD yang mengikuti lomba turuk laggai, diantaranya SDN 15 Bojakan, SDN 12 Monganpoula, SDN 01 Malancan, SDN 09 Muara Sikanaluan dan SD Fransiskus Sikabaluan. "Sementara sekolah lainnya tidak ada mengikuti lomba ini. Ini menjadi PR guru bumen dimasing-masing sekolah dalam mempertahankan budaya Mentawai," kata Piater Sihatong yang juga kepala SDN 12 Monganpoula. (Bambang Sagurung)

  • Pin it
Komentar