Lamau Kateuba': Musik Etnik Kontemporer Mentawai

21-02-2016 07:37 WIB Sosok
Lamau Kateuba': Musik Etnik Kontemporer Mentawai

Daud Sababalat

"Itcokam teteu ta sikerei muturu' kuliat manyang, kuliat bilou, masitut Lamau Kateuba' masilaggeg siorak kisei...,"

Tetabuhan suara kateuba atau gajeuma (alat musik pukul khas Mentawai) yang dimainkan tiga orang menjadi pembuka pertunjukan Lamau Kateuba di Teater Sendratasik Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Padang, Rabu siang, 3 Februari lalu.

Dua penari berdiri di tengah panggung. Keduanya mengenakan busana khas sikerei (tabib atau dukun di Mentawai) yakni luat (ikat kepala manik-manik) dan kalung manik-manik. Sambil membunyikan jejeneng (genta yang biasa dipakai sikerei saat ritual adat), mereka bernyanyi urai paruangan yang mengisahkan tentang puji-pujian dan memanggil roh.

Pada pembukaan pertunjukan, diiringi hentakan kateuba keduanya melakukan gerakan uliat manyang (elang) dan uliat bilou (monyet Mentawai) sambil memegang daun-daun sura yang dipercaya bisa menyembuhkan. Mereka memanggil roh-roh leluhur dan mengusir roh jahat, serta melakukan persembahan yang mengibaratkan memotong ayam.

Usai penari memeragakan ritual pengobatan, suara kateuba dan tuddukat yang awalnya terdengar monoton tak lagi sendiri. Gitar akustik, suling, bas, djembe dan biola mengiringi dengan harmonis. Selain itu juga dibunyikan pupuilu (kerang yang dijadikan alat musik tiup).

Penonton yang memenuhi ruang teater siang itu terbawa suasana magis pertunjukan. Tak terasa 15 menit, pertunjukan berakhir ditandai aplus panjang penonton.

Lamau Kateuba' merupakan karya musik kontemporer Daud Sababalat, mahasiswa tingkat akhir Jurusan Sendratasik, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang. Karya tersebut merupakan tugas akhir sebagai syarat kelulusan di jurusan tersebut.

Menurut Daud, karya musik itu dibuat dengan modal nekad karena harus memulainya dari nol. Daud berasal dari Desa Mara, Sipora Selatan. Di kampungnya ritual sikerei dengan musik dan tarian khasnya bisa dikatakan sudah tidak ada. "Saya sama sekali tidak memiliki referensi," kata Daud usai pertunjukan.

Saat membuat karya akhir, dosen pembimbingnya mendorong Daud membuat karya dengan musik asli Mentawai. Daud sebelumnya sudah tertarik dengan musik asli daerahnya dan belajar tentang irama kateuba melalui Youtube.

"Saya menyiapkan karya ini selama satu tahun dan harus belajar sampai ke Muara Siberut yaitu Pak Mateus Simalinggai," katanya.

Perjumpaan dengan Mateus berawal dari pertunjukan musik di Padang. Saat itu Mateus tampil membawakan musik dan tarian khas Mentawai.

"Dari obrolan dengan Pak Mateus tentang sikerei dan ritual pengobatan, saya kemudian tertarik untuk membuat karya yang dilatarbelakangi ritual tersebut," kata Daud.

Lalu lahirlah karyanya yang berjudul Lamau Kateuba yang jika diartikan secara harfiah senandung kateuba. Bunyi-bunyian kateuba tersebut merupakan pengiring sikerei melakukan ritual pengobatan.

Daud mengaku mengeluarkan biaya cukup besar untuk menciptakan komposisi musik tersebut terutama biaya bolak-balik ke Siberut dan konsumsi selama latihan, sebab pertunjukan tersebut melibatkan 11 pemain. Mereka berlatih intensif selama empat bulan.

Satu bulan menjelang pertunjukan, Daud tiba-tiba ingin memasukkan gerakan tarian sikerei sebab ia merasa jika hanya menampilkan karya musikal dengan hanya diiringi vokal, makna Lamau Kateuba yang mengisahkan ritual pengobatan susah dipahami penonton, monotan dan bisa-bisa membosankan.

"Para penarinya hanya berlatih dua kali," kata Daud.

Untung saja, Joko, temannya sesama mahasiswa yang berasal dari Madobak yang awalnya hanya akan bernyanyi, juga bisa menari. Menemani Joko, diajak Gabriel, mahasiswa dari Buttui, Desa Madobak yang memang sudah terbiasa menari turuk sejak kecil.

"Kebetulan bapak si Gabriel adalah sikerei di kampungnya sehingga dia bisa menyanyikan lagu-lagu sikerei," kata Daud yang belajar menyanyi sikerei kepada Gabriel.

Pertunjukan Daud yang cukup sukses itu diganjar nilai terbaik oleh dosen pengujinya, sesaat usai tampil.

Tertarik Musik Sejak Kecil

Ketertarikan Daud pada musik sudah ada sejak kecil, bahkan ia sudah memainkan alat musik sejak kelas 3 SD, lalu aktif berkesenian di gereja dan di sekolah. Kecintaan pada musiklah akhirnya membawa putra sulung dari Dieter JN Sababalat ini diterima sebagai mahasiswa undangan di UNP tahun 2009.

"Saya ingin mempromosikan musik Mentawai kepada masyarakat terutama dari budaya yang berbeda," katanya.

Daud juga bercita-cita membuat sanggar musikal yang bisa menjadi wadah bagi anak-anak muda di Mentawai mengembangkan seni musik daerah kepulauan tersebut. Kini, Daud mulai mengoleksi kateuba. Saat ini dia sudah punya tiga.

"Saya juga berkeinginan bikin pagelaran dengan 20 pemain kateuba dan juga ingin tampil di Mentawai," katanya. (ocha)

  • Pin it
Komentar
Berita Lainnya