Polak Teteu, Lagu Ajakan Menjaga Lingkungan Demi Generasi dan Budaya

04-11-2018 20:33 WIB | Remaja | Reporter: Bambang Sagurung | Editor: Gerson M Saleleubaja
Polak Teteu, Lagu Ajakan Menjaga Lingkungan Demi Generasi dan Budaya

Mateus Samalinggai (kiri) berbincang dengan Mentawaikita.com. (Foto : Patris/mentawaikita.com)

MUNTEI—Lagu Polak Teteu tak asing lagi bagi masyarakat Mentawai. Bahkan dalam iven dan lomba, lagu polak teteu menjadi salah satu lagu wajib didalamnya. Terlebih lomba atau iven yang bertemakan lingkungan dan budaya. Namun, tak banyak orang yang mengerti dan memahami apa pesan dan nilai yang mau disampaikan dalam lagu oleh pencipta lagu.

Mateus Samalinggai, pencipta lagu Polak Teteu mengatakan pesannya sangat penting terkait alam Mentawai dan budaya.

"Budaya Mentawai sangat berkaitan dengan alam dan hutan. Dalam setiap kegiatan budaya, bahan dan aktivitasnya ada di dalam hutan," katanya kepada Mentawaikita.com usai acara lomba lagu Mentawai dalam rangka Festival Pesona Mentawai 2018 yang dilaksanakan di Muntei, Desa Muntei Kecamatan Siberut Selatan, Sabtu (3/11/2018).

Pada bait pertama lagu polak teteu bercerita tentang Pulau Mentawai yang terlihat indah dari atas bila dilihat seperti burung elang yang terbang tinggi.

Itcok polak teteu kelek manyang, Manyang katei manua, Maitcok ka matakku ena, Saksak, kungan tirik oinan, Oinan ka Mentawai'.

"Pada bait pertama lagu ini memperlihatkan keindahan Mentawai yang di kelilingi lautan, " katanya.

Kemudian masuk ke lirik, 'Itcok polak teteu ena, Polak nusa Mentawai, Leleuta simaeruk ena, Saksak kungan tirik oinan, Oinan ka Mentawai.'

"Ini menceritakan tentang Mentawai yang kaya akan hutan dan dijaga secara lestari," jelasnya.

Sementara pada bait ketiga, dikatakan kepala bidang promosi dan pemasaran di Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Mentawai, mengatakan soal ajakan seorang putra Mentawai kepada orangtua, saudara untuk menjaga hutan Mentawai.

'Alak aku oi bagi mae, Jago polak leleuta ena, Kau ima kate bagam oi bagi, Repdem punu teteu'

"Ini memberikan pesan bahwa hutan itu untuk generasi yang akan datang. Kalau hutan tidak dijaga maka akan habis dan tidak ada yang bisa diwariskan, " katanya.

Pada bait terakhir lagu polak teteu lebih menekankan pesan moral bagi generasi Mentawai agar tanah, hutan, kayu tidak diperjual belikan. Selain warisan kepada generasi Mentawai ke depan akan hilang, juga akan memberikan bencana dan kematian dan budaya akan hilang.

'Bak pakatai leleu saraina, Bak pasaki loinak nia, Babara eba sabeu ena, Bara kamateijatta saraina, Malimai arat laggaita'.

"Arat laggai Mentawai itu adalah Sabulungan. Kepercayaan itu ada di daun yang ada dihutan. Kalau hutan hilang dengan apa sikerei melakukan ritual. Kalau hutan habis dengan apa kita melakukan punen kalau katsaila, mumunen dan tumbuhan lainnya ada dihutan hilang," katanya.

Lagu polak teteu mulai diciptakan ketika maraknya rencana perkebunan kelapa sawit di Mentawai sekira tahun 2009. Dimana masyarakat resah akan kehilangan tanah ulayat, meski ada sebagian kecil kelompok masyarakat yang menerima. Aksi demo dan aksi penolakan dari masyarakat, mahasiswa dan lembaga pencinta lingkungan yang peduli Mentawai gencar melakukan penolakan.

"Karena kita punya potensi dari seni maka kita memberikan protes dan pesan melalui seni, yaitu lagu," katanya.

Pada dasarnya orang Mentawai tidak ingin melakukan kekerasan terhadap orang lain. Namun, dalam mempertahankan hak terhadap tanah ulayat masyarakat Mentawai berjuang karena itu warisan dari nenek moyang dan generasi sekarang mewariskan itu lagi pada genarasi kedepan.

"Orang seni protesnya dengan seni," katanya

  • Pin it
Komentar