Tiara Indah Perempuan Mentawai

03-11-2018 00:35 WIB | Budaya Mentawai | Reporter: Bambang Sagurung | Editor: Gerson M Saleleubaja
Tiara Indah Perempuan Mentawai

Tiara indah berbahan dari alam yang dipakai gadis Mentawai. (Foto : Bambang/mentawaikita.com)

MUNTEI—Susmi Satolae salah seorang peserta lomba ogokatau manai (bunga) Mentawai selalu tersenyum. Peserta dari perwakilan Kecamatan Siberut Utara yang masih duduk dibangku SMAN 1 Siberut Utara terus dipotret selama proses pemasangan ogok (hiasan kepala perempuan) hingga selesai.

Dalam lomba ogok/manai pada acara Festival Pesona Mentawai 2018 yang dilaksanakan di Muntei, Desa Muntei Kecamatan Siberut Selatan, Susmi akan menampilkan ogok atau manai perempuan dalam acara perkawinan dari Bojakan, Desa Bojakan Kecamatan Siberut Utara.

"Ini hiasan pengantin perempuan dari Bojakan. Salah satu tanda yang membedakan Bojakan dengan Sikabaluan hanya pada ogok kailaba, "kata Erina Sabebegen, perias ogok atau manai perwakilan Kecamatan Siberut Utara pada Mentawaikita.com, Jumat, 2 Nopember 2018.

Erina mengatakan, untuk Sikabaluan dengan Bojakan ada kemiripan hanya saja yang membedakan soal bulu Kailaba. Untuk daerah lainnya di Siberut Utara, seperti Malancan, Sotboyak, Monganpoula dan Sirilogui tidak ada yang memakai bulu Kailaba.

"Ini karena ada pengaruh dari Simatalu yang dua wilayah dari Bojakan dari penduduk Simatalu, seperti Lubaga dan Bai', " katanya.

Untuk riasan yang ogok yang dipasangkan pada Susmi Satolae, bagian mahkota kepala ada bulu Kailaba yang dipasang pada bagian belakang kepala dengan setengah lingkaran kepala. Pada bagian depan setelah bulu kailaba dipasang laigak leleu (daun kunyit bukit yang sudah kering) yang dipasang satu lingkaran kepala bagian belakang.

Setelah laigak leleu ada ogok dari bulun manuk (bulu ayam) yang diikat pada lidi daun kelapa atau pada bambu yang diraut sebesar lidi kelapa. Jumlah bulu ayam masing-masing lidi antara tiga hingga lima. Jumlah ogok yang dipasang hingga tiga puluh bahkan sampai lima puluh. Makin banyak dan tertata rapi maka akan makin bagus. Ini disematkan pada rambut yang sudah diikat.

"Riasan kepala menjadi mahkota yang berharga bagi perempuan. Ini mengartikan bahwa perempuan itu harus dihormati dan dijunjung," kata Erina.

Sedangkan pada bagian leher dipasang ngalou (kalung) dari manik-manik. Warnanya sebenarnya hanya warna biru yang jumlahnya ratusan utas. Karena ngalou merupakan harta turun-temurun yang diturunkan seorang ibu kepada anaknya.

Sedangkan pada kiri-kanan lengan dipasang papanat. Untuk menghiasi papanat dipasang daun surak sebagai bunga. Untuk bagian pergelangan tangan dipasang lencu (gelang). Sedangkan pada ikan pinggang dipasang lailai. Papanat, lencu dan lailai semuanya dari manik-manik.

"Untuk rok itu dari kain merah yang disebut laka. Sedangkan baju itu bosa kaos warna putih," katanya.

Sementara pada riasan motif dari Kecamatan Siberut Tengah pada bagian kepala dipasang luat (ikat kepala) dari manik-manik. Kemudian dipasang buluk gougouk (bulu ayam) yang jantan atau induk ayam bagian belakang setengah lingkaran kepala, kemudian bagian depannya dipasang buluk gougouk (bulu ayam) yang kecil, sedangkan pada bagian kening dipasang singengen dari daun laigak leleu yang kering. Pada bagian kiri-kanan kepala dipasang gajun gojo (batang sejenis jahe hutan yang biasa dijadikan obat) yang diserabutkan dan dikasih pewarna kunyit.

Biasanya pada salah satu kalung akan dipasangkan daun aileppet sebagai penyejuk jiwa. "Dalam setiap pesta di Mentawai daun aileppet selalu dipasang agar yang melaksanakan punen jauh dari marabahaya, " kata Agnes Sakatsilak, salah seorang perias dari Saibi.

Pada bagian lengan kiri-kanan dipasang lailai yang juga disematkan daun surak. Sedangkan pada pergelangan tangan dipasang letcu. Pada pinggang dipasang lailai tenga sebagai pengikat ikat pinggang. Untuk luat, lailai para, letcu dan lailai tenga dari manik-manik.

"Sedangkan rok dari dasar kain warna yang digabung antara biru, merah, kuning. Rok itu disebut Sineibak, " kata Agnes.

Dalam lomba ogok/manai ini Kecamatan Siberut Tengah mengirimkan dua orang peserta dan perias. Peserta lainnya dari SMPN 1 Siberut Tengah, baik perias maupun yang dirias sama-sama baru pertama kali mengikuti kegiatan Festival pesona Mentawai. Untuk yang dirias bernama Tio Siritoitet, dan yang merias bernama Mia Saguguran.

"Pengalaman pertama. Ini akan menjadi motivasi ke depan, " kata Mia, yang kini duduk di kelas III SMPN 1 Siberut Tengah.

Untuk Kecamatan Siberut Selatan pada bagian riasan kepala ada luat, bulun goukgouk, laigak leleu dan singengen. Pada bagian leher ada ngaleu, pada bagian lengan ada lekkau dan pada bagian pinggang dipasang lailai tenga. Untuk ngaleu, lekkau dan lailaitenga dari bahan manik-manik.

"Pada bagian punggung dipasang surak jenis tinanak iban laut dan tinanak gouk-gouk. Surak ini disematkan pada ngalou," kata Cicilia, perias ogok/manai Siberut Selatan.

Sedangkan untuk pewangi dipasang daun sijambi yang sama-sama dipasang pada bagian punggung. Ini akan tercium harum saat pemakainya lewat.

"Sedangkan rok disebut Sineibak. Arah lipatan ujung sineibak bila punen angkat baga (gembira) sebelah kiri. Namun saat suasana duka arah ujung lipatan sineibak sebelah kanan, " katanya.

Manai dari Taileleu, Kecamatan Siberut Barat Daya pada riasan kepala ada tetekuk, bekeu, sorot silailai, girikgirik dan simakiniu. Untuk leher dipasang inu, pada lengan dipasang gelang dan pada pinggang dipasang lailai dan bilabilak. Sedangkan untuk rok disebut komak.

"Kalau punen biasanya dipasang daun aileppet pada kalung dan kuning kunyit pada badan. Ini sebagai penyejuk dan penjaga diri," kata Dewi Susanti Saguguran peserta ogok manai dari Siberut Barat Daya.

Peserta terakhir yang ikut dalam lomba yaitu Kecamatan Siberut Barat. Untuk kecamatan Siberut Barat ada dari Desa Simalegi dan Desa Simatalu. Untuk riasan kepala ada ogok, kalung ada ngaleu, ikat lengan ada lekkau, pada ikat pinggang ada isit dan gelang tangan ada mangok dan rok ada laka.

"Kalau Simatalu memakai buluk kailaba, sedangkan di Simalegi tidak memakai buluk kailaba, " kata Teu Mariono.

Pastor Bernadus Lie, Pr, salah seorang dewan juri lomba ogok/manai mengatakan mestinya dalam kegiatan FPM tidak boleh diperlombakan manai atau ogok karena masing-masing daerah memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri.

"Untuk luat, ngalou, lekkau, lailai, letcu semuanya dari manik-manik. Tapi tidak model yang dibuat sekarang yang sudah mirip seperti Dayak," katanya.

Lanjut Pastor Bernad, mestinya hanya untuk ogok diperlihatkan kepada umum bahwa masing-masing daerah di Mentawai punya keunggulan. "Ini hanya dipawaikan. Kalau dinilai maka akan terjadi kesenjangan antara yang menang dan yang kalah, sementara tidak bisa menentukan mana yang bagus, " katanya.

Sedangkan Rosmaida Sagurung, dewan juri lainnya mengatakan ada tiga kriteria yang menjadi penilaian dalam lomba setelah dipertimbangkan. Diantaranya kerapian, keserasian, dan tampilan akhir atau hasil akhir.

"Kita berharap ada kreasi sedikit tapi tidak menghilangkan keaslian, " katanya

  • Pin it
Komentar