Warga Puro Keluhkan Rendahnya Harga Ubi

11-10-2018 17:27 WIB | Ekonomi | Reporter: Hendrikus Samonganuot | Editor: Gerson M Saleleubaja
Warga Puro Keluhkan Rendahnya Harga Ubi

Seorang warga Puro mengangkut pisang dari Majobulu. (Foto : Hendrikus/Mentawaikita.com)

PURO—Warga Dusun Puro, Kecamatan Siberut Selatan mengeluhkan harga jual ubi yang sangat rendah yakni sekarung hanya Rp30 ribu.

Leonardi, salah seorang warga Puro mengatakan, dalam 1 karung ubi berkapasitas 25 kilogram hanya dibeli pedagang Rp30 ribu. Penetapan harga tersebut dilakukan secara sepihak oleh pembeli.

Menurut Leonardi, harga yang pantas untuk sekarung ubi tersebut minimal Rp40 ribu-50 ribu. "Itu baru harganya sesuai, karena karung ukuran cakra 25 kg lumayan besar dan ubi yang diisi pun banyak," katanya kepada Mentawaikita.com, Selasa (9/10).

Leonardi menyebutkan, ia memiliki lahan setengah hektar yang berada di daerah Majobulu. Sebelum menjadi perladangan ubi dan penanaman nenas serta kelapa, lahan itu digunakan menanam padi yang sering gagal panen.

Pemanenan ubi dilakukan Leonardi tidak menentu sebab disesuaikan pesanan pembeli, terkadang sehari ia mendapat pesanan menyediakan ubi 3-4 karung ada kalanya juga tidak ada. Saat pesanan sepi dalam sebulan ubinya hanya terjual 10 karung. Ubi milik Leonardi dibeli pedagang dari Padang yang mendatangi ladang Leonardi.

Ia menyebutkan, jumlah panen ubi tidak menentu, sebab ubi baru dapat dipanen setelah berumum 6 bulan. "Hasil penjualannya tidak menentu berapa satu bulan saya dapatkan yang jelas sudah meringankan ekonomi keluarga," ujarnya.

Tidak hanya ubi, harga jual pisang juga sangat murah, setandan pisang dibeli pedagang pengumpul dari Padang hanya Rp25 ribu-35 ribu. Pisang ini merupakan jenis pisang medan yang memiliki tandan yang panjang dan buah yang besar. Jika pisang batu harganya lebih murah lagi yakni berkisar Rp10 ribu-15 ribu pertandan.

"Ini terpaksa saya jual karena memang tingkat ekonomi masih rendah dan sulitnya mata pencarian, kalau tidak dijual dapur tidak akan berasap, tetapi kalau ada penertiban harga ia sangat setuju, apa lagi dengan adanya pasaran ubi di Kecamatan Siberut Selatan ini," katanya.

Sependapat dengan Leonardi, Kepala Dusun Puro 2 Heronimus menyebutkan, harga ubi dipuro memang masih murah, namun pihaknya tidak bisa menekan tengkulak soal harga ini. "Sebab yang tahu soal harga hanya penjual dan tengkulak," katanya.

Ibu-ibu di Puro, kata Heronimus sudah menanam ubi, pisang dan sayur-sayuran sejak 2013 karena sawah gagal panen.

Ia mengharapkan adanya gerakan dari pemerintah untuk merencanakan membuat pabrik ubi, atau ubinya dibuat bentuk lain agar nilai jualnya tinggi.

Bahan baku di Mentawai menurutnya banyak namun belum ada yang membuat ubi tersebut menjadi makanan olahan dalam bentuk lain yang lebih berharga tinggi.

  • Pin it
Komentar