Pondok Pengungsi untuk Evakuasi Tsunami di Tamairang Siberut Utara Tak Terawat

10-10-2018 11:33 WIB | Peristiwa | Reporter: Bambang Sagurung | Editor: ocha
Pondok Pengungsi untuk Evakuasi Tsunami di Tamairang Siberut Utara Tak Terawat

Pondok pengungsian untuk evakuasi tsunami di Bukit Tamairang Desa Muara Sikabaluan Kecamatan Siberut Utara Kepulauan Mentawai. (Foto: Bambang Sagurung/Mentawaikita.com)

SIKABALUAN—Pondok-pondok pengungsian di Bukit Tamairang Desa Muara Sikabaluan Kecamatan Siberut Utara Kabupaten Kepulauan Mentawai kondisinya sudah tidak terawat. Pondok pengungsian ini dulu dibangun swadaya masyarakat pada 2006 sebagai tempat evakuasi saat terjadi gempa yang berpotensi tsunami.

Selasa (9/10) MentawaiKita.com mendatangi Bukit Tamairang. Jumlah pondok yang berdiri dan layak pakai jumlahnya makin sedikit, hanya tinggal sekira 30-an unit. Dibanding pada pembukaan lokasi pengungsian tahun 2006, jumlah pondok mencapai 100-an unit.

Meski dibilang pondok, namun bangunannya sudah memakai kayu yang bagus. Mirip seperti rumah ladang atau pondok ladang yang memakai lantai dan dinding papan serta beratapkan tobat (daun sagu) dan ada juga yang memakai atap seng. Namun karena jarang dihuni, bangunan jadi lapuk. Kondisi pemukiman ini juga sudah ditumbuhi rumput yang tinggi.

"Perlu ada gotong-royong masyarakat di Tamairang karena ini tempat pengungsian satu-satunya, " kata Fransiskus Beken Bawer, Kepala Dusun Nangnang, Selasa (9/10).

Pemukiman Tamairang ini terakhir dihuni masyarakat pada kejadian gempa dan tsunami Mentawai 2010. Sementara pada kejadian gempa yang terjadi setelah itu, tidak banyak lagi digunakan, apalagi kalau gempanya terasa tidak kuat, banyak warga memilih tidak mengungsi.

Jarak bukit Tamairang dari dua dusun yang ada di pusat Kecamatan Siberut Utara, yaitu Dusun Nangnang dan Muara sekira 3 Km. Jalan menuju bukit Tamairang hanya satu jalur yaitu jalan menuju Sikabaluan-Monganpoula, yang nantinya ada simpang menuju bukit Tamairang.

Kondisi jalan Sikabaluan yang dibangun P2D Mandiri yang lebarnya 3 meter sudah tidak layak pakai. Selain banyak yang rusak dan berlumpur, juga mengecil karena rumput dan semak yang tumbuh dibagian kiri-kanan badan jalan.

Dalam kondisi jalan yang masih bagus pada 2006, masyarakat Dusun Nangnang dan Muara bisa menempuh 15-30 menit menuju Bukit Tamairang dengan kondisi berlari. Namun pada saat mengungsi pada 2007, masyarakat mulai membawa gerobak tempat barang-barang seperti kasur, ember, televisi dan barang-barang lainnya serta banyaknya yang memakai sepeda motor membuat masyarakat menuju Bukit Tamairang makin lama, paling cepat sekira 30 menit.

Jalan dari simpang Bukit Tamairang hingga ke bukit yang dibangun melalui program PNPM-MP 2010-2012 kondisinya juga sudah rusak dan mengecil karena tidak terawat. Pondok evakuasi yang dibangun ASB di simpang Bukit Tamairang sekira tahun 2014 berukuran 9x7 meter sudah hancur sebelum terpakai.

"Bangunannya juga belum ada serahterima dari program ASB pada dusun atau desa pada waktu itu, " kata Aleksander Sapotuk mantan kepala Dusun Nangnang.

Pada kejadian gempa 2005, saat masyarakat Dusun Nangnang dan Muara mengungsi sekira satu bulan, pihak pemerintah Kabupaten Mentawai pernah berdialog dengan masyarakat untuk menjadikan Bukit Tamairang sebagai lokasi pemukiman baru sekaligus tempat evakuasi.

Pada saat itu, Edison Saleleubaja selaku bupati Mentawai meminta pemerintah desa dan beberapa tokoh masyarakat untuk melakukan pemetaan lokasi bukit Tamairang sekira 100 hektar. Pemetaan lokasi sekira 100 hektar berhasil dilakukan, namun pada saat penyerahan lahan dari pihak Sagurung selaku pemilik tanah ulayat kepada pemerintah terjadi kendala karena di atas lahan 100 hektar tersebut sudah ada pemilikan lahan secara perorangan dan meminta transaksi jual-beli.

"Karena soal ganti rugi lahan tidak duduk membuat rencana pembangunan pemukiman Tamairang batal dilakukan, " kata Merei Sagurung, salah seorang tim pemetaan.

Sejak mengungsi 2005, masyarakat menjadi bukit Tamairang tempat bertanam tanaman muda dan tanaman kebutuhan pokok di sekitar pondok pengungsian yang mereka miliki seperti ubi kayu, ubi jalar, keladi, pisang. Hingga saat ini tanaman itu tetap dipertahankan dan masyarakat yang sudah memiliki hak atas tanah secara perorangan di Bukit Tamairang sudah menanam tanaman tua seperti cengkeh, nangka, durian, pinang, coklat dan tanaman lainnya.

Fransiskus Beken Bawer mengatakan, pada pertengahan September lalu tim konsultan perencanaan pembangunan jalan dari simpang Bukit Tamairang menuju Tamairang dan ditembuskan ke samping lokasi baru SMAN 1 Siberut Utara yang berhadapan dengan lokasi baru kantor camat yang berada di jalan Sikabaluan-Monganpoula melakukan survei rencana pembangunan jalan.

Namun gagal dilakukan karena pihak konsultan perencanaan jalan tidak mau melakukan perencanaan di bagian kaki bukit, mereka inginnya di bagian punggung bukit agar dapat mendatarkan bukit Tamairang untuk dijadikan material timbunan badan jalan yang kondisinya rawa-rawa.

"Masyarakat jelas menolak karena ini bukit pengungsian satu-satunya. Belum lagi di Tamairang itu ada pondok dan tanaman masyarakat, " katanya.

  • Pin it
Komentar