Membangun Pariwisata Mentawai Perlu Kreativitas

30-08-2018 10:06 WIB | Opini | Reporter: Dika Riyanti S.Pd | Editor: Zulfikar
Membangun Pariwisata Mentawai Perlu Kreativitas

Turis asing membawa papan selancar usai bermain ombak di Katiet, salah satu lokasi surfing di Mentawai (Foto: Rus Akbar / www.mentawaikita.com)

20 Agustus 2018 lalu, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Mentawai baru saja menggelar Seminar Perencanaan Integratif Pariwisata dengan tema: Mentawai Menuju Wisata Kelas Dunia. Tentunya, tema ini sangat menarik karena jika dikemas dengan baik, Mentawai bisa menjadi destinasi wisata terbaik karena memiliki 196 obyek wisata. Tidak hanya itu, Mentawai juga dikenal dengan daerah yang memiliki ombak yang luar biasa dan memiliki kekayaan tato tertua serta hewan endemiknya.

Lantas, dengan telah dimilikinya banyak kekayaan alam. Apakah Mentawai akan otomatis menjadi salah satu destinasi wisata terbaik dunia. Jawabanya tentu tidak. Semua butuh usaha, butuh perencanaan dan kerjasama semua pihak. Jika tidak, maka wacana Mentawai Menuju Wisata Kelas Dunia hanya akan menjadi mimpi.

Menurut Undang-undang RI No. 10 Tahun 2009 disebutkan bahwa pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah dan pemerintah daerah. Pariwisata sendiri merupakan bagian yang tidakdapat terpisahkan dari kehidupan manusia terutama kegiatan sosial dan ekonomi.

Sejatinya, apakah selama ini pemerintah daerah tidak pernah berbuat? Apakah masyarakat kita sadar akan potensi yang ada? Apakah kita semua telah berbuat sesuatu untuk kemajuan pariwisata Mentawai?

Dalam berbagai bidang, pemerintah telah mencoba meluncurkan berbagai program untuk pembangunan potensi pariwisata. Namun persoalan yang yang ada adalah jika terlalu banyak program atau kegiatan yang dibentuk tanpa hasil optimal, dibentuk tanpa pertimbangan efisiensi dan efektifitas atau sekedar dibentuk untuk menunjukan bahwa pemerintah telah melakukan sesuatu. Hal tersebut dapat berakibat berkembangnya sikap apatis masyarakat karena melihat pemerintah mengeluarkan program yang dikategorikan sebagai business as usual (sesuatu yang sia-sia). Pertanyaannya adalah, apa sejatinya yang perlu dilakukan agar potensi pariwisata Mentawai dapat berkembang dengan baik?

Selama ini ternyata kita telah terlena. Saat daerah-daerah lain gencar melakukan pembenahan, inovasi dan pembangunan, kita hanya membanggakan apa yang telah kita punya. Jadi apa yang terlebih penting untuk kita saat ini lakukan? Promosi atau pembenahan?

Pariwisa tamerupakan sektor yang paling kecil menimbulkan kerusakan karena prinsip pembangunan pariwisata adalah sustainable atau berkelanjutan. Lingkungan yang terjaga merupakan aset bagi pariwisata untuk mendatangkan wisatawan. Namun, selama ini pembangunan pariwisata kita belum menunjukkan hasil optimal dan ramah lingkungan. Terutama, penataan destinasi wisata di kawasan pantai. Pantai yang terkena abrasi, banyaknya sampah atau pembangunan yang terlihat asal jadi.

Jadi seperti apakah pembangunan berkelanjutan (sustainable) yang bisa kita terapkan di Mentawai. Tiga poin utama untuk pengembangan sustainable tourism yang dimaksud yaitu, pertama lingkungan. Pengembangan sustainable tourism harus memperhatikan aspek pelestarian alam bebas, kualitas dan keamanan air, konservasi energi.

Kedua, komunitas pariwisata berkelanjutan juga wajib mempertahankan atraksi, memiliki manajemen untuk pengunjung, memperhatikan kebiasaan pengunjung, menjaga warisan budaya.

Ketiga yang tidak kalah pentingya itu ekonomi, sustainable tourism harus memantau perekonomian, ada peluang kerja bagi warga setempat, ada keterlibatan publik, ada penghargaan dan pemahaman bagi para turis, ada local access.

Selain itu bandara internasional juga menjadi kunci untuk menjadi destinasi kelas dunia, dimana minimal panjang landasan 2.500 M dan lebar 45 M dengan kekuatan menahan beban 56 Pcn yang bisa didarati Pesawat Boeing 737-800 dan ini telah dibuktikan di tempat lain yakniBanyuwangi pariwisatanya tumbuh 300 persen karena memiliki bandara internasional.

Sejauh ini Pemerintah Mentawai masih dalam proses pengerjaaan pengembangan Bandara Rokot yang ditargetkan selesai pada tahun 2021 dengan panjang landasan 1.600 dan lebar 30 meter.

Bench Marking (pembanding) juga seharusnya mulai dipikirkan pemerintah kita. Bench marking apa yang bisa kita gunakan sebagai pembanding pariwisata Mentawai dengan pariwisata di daerah lainnya. Pemerintah juga harus memikirkan taglines atau slogan pariwisata Mentawai yang dapat menjadi nilai jual dan daya tarik bagi wisatawan.

Tapi terlepas dari itu semua hal penting yang perlu dilakukan adalah penataan dan pembenahan. Penataan dan pembenahan yang direncanakan dengan baik dan dieksekusi dengan baik pula. Dengan memperhitungkan efektivitas dan tidak asal jadi yang akhirnya menyia- nyiakan anggaran tanpa ada hasil optimal.

Pemerintah daerah juga harus mampu merangkul semua kalangan termasuk masyarakat dalam proses pembangunan agar rencana pembangunan tersebut dapat berjalan sesuai dengan rencana. Berilah penyadaran kesemua pihak akan pariwisata, betapa pentingnya menjaga kelestarian alam dan lingkungan.

Sejatinya pembangunan pariwisata butuh kreativitas dimana kreativitas menggunakan prinsip pengetahuan atau kreativitas intelektual sebagai dasar pembangunan. Oleh karena itu ketika kita berbicara tentang pariwisata dan kreativitas, hal tersebut tidak dapat dipisahkan dari sumber daya manusia sebagai penciptanya. Jika penggerak pembangunan pariwisata tidak didasari dengan kreativitas maka wisata Mentawai hanya akan seperti seorang anak gadis manis yang lusuh. Cantik tapi tak terurus. Modal besar pun dikeluarkan untuk mempromosikan gadis ini tak akan menarik wisatawan.

  • Pin it
Komentar