Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi Pasiriok Uma di Siberut Tengah

14-08-2018 09:35 WIB | Budaya Mentawai | Reporter: Rinto Robertus Sanenek | Editor: Gerson M Saleleubaja
Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi Pasiriok Uma di Siberut Tengah

Warga Saibi Samukop mendirikan rumah salah satu warga. (Foto : Rinto/mentawaikita.com)

SAIBI SAMUKOP-Pasiriok Uma merupakan tradisi mendirikan rumah secara bersama-sama yang masih awet dipraktikkan warga di Desa Saibi Samukop, Kecamatan Siberut Tengah.

Tradisi ini sudah ada sejak dari leluhur dan dijalankan terus menerus saat ada seorang warga yang mau mendirikan rumah. Seperti yang terjadi di Saibi baru-baru ini yakni pendirian rumah baru milik Syafrizal Sanenek yang berlokasi di Dusun Pangasaat dekat perkantoran Kecamatan Siberut Tengah.

Saat mendirikan kerangka rumah Syafrizal Sanenek pada Sabtu (11/8), sekira 50 warga Saibi dari suku yang berbeda terlibat membantu pendirian bangunan itu.

Sebelum mendirikan rumah baru diawali dengan prosesi kegiatan kerohanian seperti bernyanyi dan berdoa bersama yang dijalankan oleh pendeta atau pejabat gereja untuk minta perlindungan kepada Tuhan supaya pendirian rumah terhindar dari segala hal yang tidak diinginkan.

Setelah berdoa, warga kemudian mendirikan kerangka rumah hingga tuntas pada hari itu. Sebelum mengenal agama modern seperti saat ini, kegiatan berdoa tetap dilakukan kepada leluhur dengan media yang berbeda.

Warga yang terlibat pada kegiatan pasiriok uma tersebut kemudian makan bersama yang disiapkan ibu-ibu dan menantu dan ipar sipemilik rumah. Suguhan pada pendirian rumah tersebut berupa daging babi dan ayam. Setelah bersantap bersama, warga kemudian pulang ke rumah masing-masing setelah semua kerangka rumah berdiri utuh.

"Pasiriok Uma ini secara bersama tradisi kita sebagai orang Mentawai karena ada dari nenek moyang kita, tidak bisa sendiri dan kita tidak akan mampu lakukan itu, maka dari itu kita bersama-sama dan tak memandang beda-beda suku sebab kebersamaan ini yang diajarkan kita sejak dahulu," kata Ketua Lembaga Adat Saibi Samukop, Gustaf Sageileppak yang ikut serta Pasiriok Uma, Sabtu (11/8/2018).

Gustaf menyebutkan, keterlibatan semua suku dalam kegiatan pasiriok uma ini muncul secara bersama menjadi nilai warisan dari nenek moyang mereka.

Dulu, kata Gustaf, nenek moyang mereka jika merencanakan membuat rumah, ukurannya tidak tanggung-tanggung dengan bangunan uma (rumah) yang sangat besar, anggota dalam satu suku tidak sanggup mendirikannya.

"Tiang atau tonggak uma dahulu itu besar dan panjang, dan mendirikannya harus ditancapkan ke tanah makanya dibutuhkan banyak orang hingga kini kebersamaan itu tak terlupakan," jelasnya.

Ia menyebutkan, perbedaan saat mendirikan rumah secara bersama hanya terletak pada ritual sebelum mendirikan. Sebelum agama modern, ritual yang dipakai menggunakan ritual adat yang dikenal sebagian orang Arat Sabulungan. Setelah agama modern dianut sebagian besar orang Mentawai maka ritual yang dilakukan disesuaikan dengan agama yang dianut pemilik rumah .

Gustaf menjelaskan, saat masih menganut dan mengamalkan Arat Sabulungan, sebelum mendirikan uma ada ritual pasibitbit (ritual mengusir hal-hal yang mengganggu Pasiriok Uma) yang dilakukan Sikerei atau orang yang memiliki kemampuan memimpin ritual. Media yang dipakai berupa daun ailelepet dan mumunen, setelah itu baru rumah didirikan.

Lanjut Gustaf, saat memulai pendirian rumah pada zaman dulu ada beberapa pantangan yang tidak boleh dilanggar.

"Misalnya besok rencana pasiriok uma, hari ini ada yang meninggal kegiatan pasiriok uma ditunda karena jika dipaksakan, diyakini akan terjadi hal yang buruk nantinya, jadi ditunggu lagi hari yang baik baru dijalankan, tapi sekarang tidak terlalu kita pikirkan itu yang penting didoakan pasiriok uma pun jalan sampai selesai, jadi sekali lagi tradisi ini membuktikan kebersamaan kita dalam bergotong royong yang masih kuat di Mentawai ini," terangnya

Jika rumah yang didirikan itu sudah selesai dibangun akan ada ritual lanjutan beruapa Lia Uma. "Kalau sekarangkan kita memanggil kerohanian untuk mendoakan sebelum pasiriok uma, tapi yang tidak berbeda pasiriok uma ini kebersamaan saja yang melibatkan semua orang," kata Gustaf

  • Pin it
Komentar