Pangurei, Pernikahan Adat Mentawai yang masih Eksis di Siberut Tengah

08-08-2018 14:46 WIB | Peristiwa | Reporter: Rinto Robertus Sanenek | Editor: ocha
Pangurei, Pernikahan Adat Mentawai yang masih Eksis di Siberut Tengah

Pengantin yang menjalankan pangurei di Saibi Kecamatan Siberut Tengah Kepulauan Mentawai. (Foto: Rinto Sanene)

SAIBISAMUKOP--Pangurei adalah pesta perkawinan adat Mentawai yang masih dijalankan masyarakat Desa Saibi Samukop Kecamatan Siberut Tengah Kepulauan Mentawai. Tradisi ini masih dijalankan tanpa terpengaruh budaya lain.

Bulan ini misalnya, dua suku di Saibi, Suku Siritotet-Sangaimang dan Sageileppak-Sangaimang menyelenggarakan pesta perkawinan adat Mentawai dengan lancar.

Prosesi Pangurei dimulai dari orangtua pengantin perempuan datang menjemput kedua mempelai ke rumah pengantin laki-laki lalu dibawa ke rumah orangtua pengantin perempuan.

Sehari di rumah orangtua perempuan, kedua pengantin diantar kembali ke rumah orangtua pengantin laki-laki dengan dirias pakaian adat Mentawai sambil membawa ayam dan babi, keladi serta kelapa. Barang bawaan itu diserahkan kepada keluarga laki-laki.

Setelah itu, keluarga pengantin laki-laki menyerahkan alat toga (mas kawin) sesuai permintaan misal kuali, kampak, parang juga keladi.

Pesta perkawinan adat tersebut melibatkan taliku-taliku (ipar pihak laki-laki) dan semua keluarga mempelai laki-laki sampai sampai selesai proses pangurei ini.

"Pangurei ini masih kita jalankan di sini karena ini kebiasaan kita dari leluhur sejak dahulu, memang acara perkawinan adat ini boleh dilakukan setelah selesai pernikahan di gereja dan boleh juga secara langsung," kata seorang tokoh adat di Saibi Samukop, Tak Sinaibau Siriratei (67), Minggu (5/8).

Meski pesta perkawinan adat ini masih terus berjalan, namun ada bagian prosesinya yang hilang seperti pakaian adat yang tidak selengkap dulu. "Mestinya semua pakaian itu dipasangkan seperti ada pemasangan ogok-ogok simasingin namun yang tidak dipasangkan itu kabit (cawat bagi laki-laki) hanya pakai celana saja," ujarnya.

Tak Sinaibau juga memaklumi tidak ada lagi anak muda yang mau pakai kabit karena perkembangan zaman. "Kelengkapan pakaian itu diperlukan karena kedua mempelai ini ada ritualnya seperti ritual bulu akenan dengan mempersembahkan daging babi atau ayam agar ulaumanua isukat ahek (diberkati) anak-anak kita yang dinihkahkan secara adat agar jadi keluarga yang baik ke depannya," ujarnya.

Namun Tak Sinaibau mengakui, meski dirinya bergelut dengan budaya dan kearifan lokal Mentawai, masih sangat banyak yang perlu dipahami lebih dalam tentang pangurei dan budaya yang lainnya. "Yang kita khawatirkan cara pesta perkawinan adat Mentawai ini lambat laun bisa hilang dan tak diketahui anak-cucu kita ke depan, maka dari itu dibutuhkan penggalian budaya ini lebih dalam dan tertulis hingga jadi pelajaran anak-anak cucu kita yang akan datang,"ujarnya.

  • Pin it
Komentar