Pentingnya Babi Dalam Alak Toga di Sikabaluan

02-08-2018 12:29 WIB | Budaya Mentawai | Reporter: Bambang Sagurung | Editor: Zulfikar
Pentingnya Babi Dalam Alak Toga di Sikabaluan

Membersihkan babi untuk upacara adat di Dusun Puro II, Desa Muara Siberut, Kecamatan Siberut Selatan, Mentawai (Foto: Zulfikar / www.mentawaikita.com)

SIKABALUAN -- Keberadaan babi di Mentawai merupakan salah satu hewan yang sangat penting, dalam aktifitas adat dan budaya di Mentawai, akan selalu berkaitan dengan adanya babi.

Misalnya saja, untuk pengobatan atau laggek, untuk alak toga atau mas kawin, sebagai pembayar denda atau yang dikenal dengan nama tulou, untuk melaksanakan pesta atau lia dan juga untuk membayar upah serta untuk dijual sebagai pemenuhan ekonomi.

Di Sikabaluan, Kecamatan Siberut Utara, babi masih menjadi alat pembayaran yang penting serta babi masih sangat penting dalam sebuah pesta.

Seperti halnya dalam alak toga di Sikabaluan khususnya di Dusun Nangnang yang terdiri dari lima macam ditambah dengan katukailo, katutuitui, katukandut.

Lima macam alak toga seperti kuali, periuk, kapak, parang, babi. "Bisa saja satu macam semuanya tapi jumlahnya lima, atau bermacam-macam tapi jumlahnya lima," ujar Salim Tasirilotik, guru bidang studi budaya Mentawai pada mentawaikita.com, Rabu, 1 Agustus 2018.

Kemudian, dikatakan Salim, untuk tiga macam lainnya diluar alak toga seperti katukailo atau tulou karena menanggung malu atau aib pihak perempuan maka diambil satu ekor babi. Katukailo ini ada katukailo sabeu (aib yang fatal) seperti anak perempuan pihak perempuan hamil diluar nikah, maka babi sebagai tulou bisa berukuran 80-100 kg.

"Untuk katukandut (laki-laki naik diatas rumah orangtua perempuan semasa pacaran) dan katutuitui (laki-laki membawa perempuan keluar dari rumah) biasanya babi masing-masing satu ekor namun ukuran 50 kg," jelasnya.

Babi yang diambil sebagai tulou, dikatakan Salim tidak menjadi milik pribadi orangtua perempuan, namun itu akan menjadi kepunyaan suku pihak keluarga perempuan.

"Itu bisa jadi lauk pauk saat punen (pesta adat) atau saat proses rangkaian punen berlangsung. Bisa dalam bentuk otcai (pembagian) bisa juga dalam bentuk makan bersama," kata Salim.

Sedangkan dalam mas kawin, lima macam yang diambil itu akan menjadi bayaran atau ucapan terima kasih kepada bajak, maman, saudara yang menyunbang babi pada keluarga perempuan. Pihak keluarga atau famili perempuan yang menyumbang babi disebut sipanere.

Meski babi masih penting dalam adat dan budaya Mentawai, di Sikabaluan masyarakat tidak banyak lagi yang memelihara babi. "Ada faktor karena lingkungan tempat tinggal tidak memungkinkan untuk memelihara babi, faktor tidak adanya kemauan serta faktor lainnya," katanya.

Untuk di Nangnang, bila ada pesta masyarakat hanya memesan babi pada masyarakat yang ada didusun atau desa tetangga, seperti Sirilanggai, Monganpoula, Sotboyak dan Bojakan.

"Kalau sama kita babi ini dipelihara diperladangan dalam jumlah besar karena babi memiliki nilai penting dalam kehidupan orang Mentawai," kata Barnabas, seorang tokoh masyarakat Sirilanggai.

Dikatakan Barnabas, karena masih tingginya nilai gotong-royong, suku dan masyarakat saling membantu membuat kandang babi.

"Kita pihak yang meminta tolong dibuatkan kandang babi hanya menyediakan bekal selama proses pembuatan kandang babi itu," ungkapnya.

Harga jual babi saat ini disekitar Bojakan, Sotboyak, Monganpoula, Sirilanggai dan Sikabaluan Rp30-35 ribu per kg. Harga penjualan dan pembelian babi akan meningkat ketika Natal, Tahun Baru Paskah serta Punen Putalimogat (pesta pernikahan).

  • Pin it
Komentar