Gelombang Tinggi, Pendapatan Nelayan Saibi Samukop Turun Drastis

10-07-2018 19:11 WIB | Ekonomi | Reporter: Rinto Robertus Sanene | Editor: Rus Akbar
Gelombang Tinggi, Pendapatan Nelayan Saibi Samukop Turun Drastis

Perahu nelayan Saibi di sungai Saibi Samukop. (Foto: Rinto Robertus/Mentawaikita.com)

SAIBI SAMUKOP-Memasuki pertukaran cuaca pada bulan Juni dan Juli ini, gelombang laut sangatlah tinggi di perairan Mentawai yang membuat aktivitas nelayan Saibi Samukop Kecamatan Siberut Tengah terganggu dan pendapatanpun turun drastis dari biasanya.

Seorang Nelayan Risman Saleleubaja (30) mengaku Gelombang tinggi ini sangatlah sulit diprediksi stuasinya berbahaya untuk pergi melaut. "Ganas gelombangnya saat ini dan bahkan sampai ketinggian 3 meter," katanya pada Mentawaikita.com ,selasa 10 juli.

Risman menyebutkan pada hari biasa dengan cuaca bagus dengan perahu dan mesin pompong dan peralatan alat tangkap seperti jaring dan pancing pergi melaut disekitar pintu Muara Saibi dalam sehari bisa empat kali melaut, di mulai pagi, siang dan sore 2 kali.

Berita Terkait:

Cuaca Buruk, Kapal Antar Pulau di Mentawai Tak Jalan

Ikan yang didapat dari ukuran kecil dan besar lumayan banyak yang dijual ke warga Rp20 ribu per ikat, ikan karang dan Rp10-15 ribu per plastik, dengan hasil sehari di kumpulkan sehari sekira Rp500 ribu. "Cuaca bagus ini sekali kita pergi melaut pasang jaring dan sambil mancing sekira setengah jam sudah ada ikan dan balik langsung dijual," ujarnya.

Namun kondisi gelombang tinggi, kata Risman aktivitas melaut tetap berjalan sehari 2 kali saja dengan mengintai cuaca dengan hasil hanya sekira Rp50 ribu.

"Kalau seharian cuaca gelombang tidak berubah kita tidak pergi melaut karena di pintu muara sangat ganas gelombangnya dan bahkan saya sering karam disitu, bahkan kita nekat juga melaut tapi mengintai dulu di mana ada ikannya pasang jaring dan bertahan sampai 2 jam dan hasilnya jelas sangat tidak memuaskan meski begitu demi kelangsungan hidup keluaga tetap kita lakukan," ujarnya.

Nelayan lainnya Alif Marjonas Sakerengan (34) mengaku dimusim gelombang tinggi ini aktivitas melaut hanya sekali dalam sehari dengan peralatan sampan dan pendayung tanpa mesin pompong serta jaring dan pancing, hasilpun tak memuaskan hanya sekira Rp25 ribu saja dari hasil penjualan ikan yang di dapat. "Gelombang tinggi ini tak menentu kita pergi melaut, kalau cuaca sedikit baik bisa pagi dan bisa juga malam," ujarnya.

Ketika hari biasa yang di sertai cuaca gelombang bagus, Alif menyebutkan aktivitas melaut bisa berjalan dua kali dalam sehari, pagi dan sore dengan hasil mencapai Rp200 ribu. "Kami nelayan ini hanya cuaca yang membuat kami mengalami kesulitan melaut, kalaupun dipaksa pergi dengan hasil pasti tak memuaskan," ujarnya.

  • Pin it
Komentar