Hasil Pertanian Warga Mabulau Buggei Tak Terjual Saat Badai

07-07-2018 13:19 WIB | Ekonomi | Reporter: Supri Lindra | Editor: Gerson Merari
Hasil Pertanian Warga Mabulau Buggei Tak Terjual Saat Badai

Seorang warga Mentawai mengangkut barang dengan perahu. (Foto : dok.mentawaikita.com)

SAUMANGANYAK-Musim badai dan gelombang besar tiap tahun menghampiri Kepulauan Mentawai. Pembukaan musim badai besar di kabupaten kepulauan yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia ini biasanya pada Juni dan memasuki Juli mencapai puncaknya.

Ketinggian gelombang yang mencapai 5 meter ini menyulitkan warga setempat mengangkut hasil pertaniannya ke pasar karena jalur transportasi utama dari suatu daerah ke daerah lain di kepulauan ini didominasi jalur laut.

Musim badai tahun ini cukup dirasakan warga yang berada di Dusun Mabulau Buggei, Desa Saumanganyak, Kecamatan Pagai Utara. Pada Juli ini mereka kesulitan menjual hasil pertaniannya seperti pisang, coklat dan yang lainnya karena perahu mereka tidak sanggup menembus gelombang tinggi menuju Kecamatan Sikakap yang menjadi daerah penjualan hasil bumi.

Akibatnya banyak pisang warga tersebut membusuk di batang karena tidak terjual, mereka sendiri tidak sanggup mengonsumsi sebab sudah berlebih.

Biasanya pisang dalam bentuk tandan ini dibawa ke Desa Sikakap, Kecamatan Sikakap dengan perahu boat yang membutuhkan bahan bakar minyak (BBM) premium sebanyak 30 liter. Modal untuk BBM itu sekitar Rp300 ribu-Rp400 ribu.

Syaridin Tasilipet, salah seorang warga Mabulau Buggei mengatakan, ketika musim badai mereka tak bisa mengangkut pisang ke luar dusunnya yang berada di pesisir pantai.

"Kami masyarakat Dusun Mabulau Buggei berharap Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai melanjutkan pekerjaan jalan trans Matobe-Saumanganyak supaya semua hasil pertanian masyarakat dapat keluar dengan mudah, tidak seperti sekarang hasil pertanian masyarakat baru keluar kalau cuaca air laut bagus," kata Syafridin kepada mentawaikita.com, Rabu (4 /7/2018).

Andai saja jalan trans Sikakap-Saumanganyak ada, kata Syafridin, mereka tidak akan tergantung cuaca saat menjual pisang ke Sikakap. Satu-satunya jalan agar hasil pertanian masyarakat dusun ini ke luar dengan mengunakan perahu besar yang mengunakan mesin boat.

Mesin boat yang digunakan minimal berkekuatan 15 pk dengan lama perjalanan 2-3 jam tergantung cuaca.

Hatigoran Sakarebau, petani pisang di Dusun Mabulau Buggei menyebutkan, jalan trans Mentawai dan alat tranportasi sangat dibutuhkan sekali oleh masyarakat Dusun Mabulau Buggei,

"Pisang masyarakat diangkut menggunakan jalur laut perahu yang diberi mesin boat, untuk satu kali jalan membutuhkan minyak mesin boat 15 pk 30 liter pulang pergi, harga bensin Rp10 ribu per liter, sementara isi perahu hanya 100 tandan sampai 150 tandan pisang itu sesuai dengan ukuran tandan pisang diangkut," katanya.

Jika pisang batu medan yang diangkut hanya muat 70 tanda, sementara pisang batu biasa muat 100 tanda. Panjang perahu 10 meter sampai 12 meter dengan lebar 80 centi meter.

"Kendala kalau membawa pisang dengan mengunakan perahu yang diberi mesin boat terkena air laut akan rusak sehingga tidak bisa dijual kepada penampung di Sikakap," ujarnya.

Pisang biasanya dibawa tiap hari Rabu saat jadwal kapal Gambolo dari Padang masuk ke Sikakap.

"Kalau ada jalan penghubung trans Sikakap- Saumanganyak tentu petani pisang tidak perlu lagi susah-susah menjual pisangnya ke penampung di Desa Sikakap, penampung pisanglah yang akan datang ke Dusun Mabulau Buggei, petani pisang hanya tinggal meletakkan pisangnya di kanan kiri jalan," katanya.

Hatigoran menyebutkan, jalan darat yang ada kondisinya tidak bagus dan hanya dapat dilewati sepeda motor sehingga paling banyak coklat yang dibawa hanya sekarung berat 50 kg. sedangkan jika pisang yang dibawa hanya muat paling banyak 5 tandan.

"Saya memiliki sekitar setengah hektar ladang pisang, tidak ada tranportasi pisang tersebut di konsumsi saja, sisanya dibiarkan masak di batang, kalau ada alat transportasi tentu pisang-pisang tersebut bisa di jual ke penampung yang ada di Desa Sikakap," kata Hatigoran.

  • Pin it
Komentar