Menjaga Sagu, Mempertahankan Pangan Lokal Orang Mentawai

26-06-2018 14:42 WIB | Budaya Mentawai | Reporter: Zulfikar Efendi | Editor: Zulfikar
Menjaga Sagu, Mempertahankan Pangan Lokal Orang Mentawai

Nikedemus (kanan) dan Vincent (kiri) memarut batang sagu untuk diolah di Dusun Puro, Desa Muara Siberut, Kecamatan Siberut Selatan, Mentawai (Foto: Zulfikar / www.mentawaikita.com)

Laju pompong (perahu tanpa mesin) membelah sungai Bat Oinan di Dusun Puro, Desa Muara Siberut, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai gerimis sejak pagi belum juga reda. Sekira 15 menit perjalanan, pompong menepi di sebelah kanan, di sela-sela rimbunnya pepohonan sagu di tepi sungai Bat Oinan terlihat dereat (tempat mengolah sagu) tradisional Mentawai masih sepi.

Vincent Sabulukungan (38) yang mengemudikan pompong memberikan aba-aba untuk turun ke daratan, dia mendekatan pompongnya di salah satu pompong yang sudah menepi di tepi sungai tersebut, kami turun dan menuju dereat.

Sesampai di dereat, dengan jarak 30 meter terlihat Nikodemus Sabulukungan (40) mengupas kulit pohon sagu yang telah ia tebang, kami menuju ke sana, pemarutan pohon sagu agar dapat diperas di atas dereat dimulai.

Dengan cekatan, Nikodemus yang dibantu Agustinus Durai (50) memarut pohon sagu menggunakan alat berbentuk sikat pencuci kain berukuran panjang, sekira 1 meter yang diberi paku sebagai alat pengikis pohon sagu tersebut.

Pohon sagu yang sudah ditebang dan dipotong sepanjang 1,5 meter serta kulit bagian tengahnya dikupas mulai perlahan menipis digerus alat pemarut sagu itu, parutan sagu mulai menumpuk.

Setelah selesai diparut, Nikodemus mengemas parutan sagu ke dalam bulukbuk (tong/keranjang tempat parutan sagu) untuk dibawa ke dereat dan dipisahkan antara parutan sagu dan intisarinya yang bakal dijadikan tepung sagu.

Nikodemus mulai menuangkan parutan sagu yang ada di dalam bulubuk ke dalam dereat, lalu dia naik dan mulai menari di atas dereat, pijakan demi pijakan sambil menuangkan air menggunakan ember kecil bertangkai panjang yang terbuat dari pelepah sagu, parutan sagu diinjak, perasan airnya mulai mengalir ke dalam wadah berbentuk sampan yang telah disediakan, itu merupakan salah satu bagian dari dereat.

Menurut Nikodemus, intisari sagu yang mengalir bersama air akan memenuhi wadah yang berbentuk sampan tersebut, intisari sagu akan mengendap di bagian bawah, itulah yang akan dimabil, lalu kemudian dijemur.

"Butuh waktu dua jam agar intisari sagu itu benar-benar mengendap di bawah, nanti airnya akan kita pisahkan dengan intisari sagu, setelah itu baru kita jemur," ujarnya.

https://image.ibb.co/cSvEUo/03.jpg

Menurutnya, intisari sagu yang telah dipisahkan dengan air akan dijemur, membutuhkan waktu dua jam sebelum sagu bisa dimasak. "Intisari itu biasanya kita masukkan ke dalam tappri (wadah yang terbuat dari pelepah sagu sepanjang satu meter dengan diameter 25 sentimeter) untuk dibawa ke tempat penjemuran," ungkapnya.

Selain itu, Vincent Sabulukungan mengatakan, sagu satu tappri itu bisa untuk makan satu bulan. "Untuk keluarga kecil, itu sudah cukup untuk satu bulan makan," jelasnya.

Jika untuk keperluan sehari-hari, maka pengolahan sagu akan dilakukan oleh anggota keluarga yang bersangkutan, sementara apabila sagu tersebut akan dipergunakan untuk keperluan upacara adat, maka yang akan bekerja adalah kaum laki-laki dari suku yang bersangkutan, katanya.

Menurutnya, selama ini belum pernah ada orang Mentawai yang kelaparan dan kekurangan makanan, sebab segala kebutuhan sudah disediakan oleh alam, seperti sagu yang tumbuh subur dan melimpah ruah di sekitar mereka.

Bukannya tidak pernah memakan nasi, menurut Vincent bahwa rata-rata orang Mentawai sudah terbiasa makan sagu, bahkan bagi mereka sagu lebih tahan lama di perut dari pada nasi. "Ini warisan dari nenek moyang kita," ujarnya.

Sementara itu, Agustinus Durai memaparkan, sagu yang akan diolah ada ketentuan yang harus dituruti, tidak semua sagu itu bisa diolah. "Sagu yang bisa kita olah itu harus cukup umurnya, kalau belum cukup berumur 17 tahun, belum bisa kita tebang," ungkapnya.

Umumnya, batang sagu yang usianya di bawah batasan tersebut belum terlalu berisi dan masih lunak untuk dapat diparut dan diolah, katanya.

Dikatakannya, setelah pohon sagu pada sebuah kawasan mulai berkurang, maka secara otomatis masyarakat akan langsung menanam penggantinya sehingga persedian sagu akan selalu ada untuk menunjang kehidupan masyarakat.

Agustinus menekankan, bahwa kehidupan masyarakat Mentawai sangat bergantung pada alam. Apabila alam mulai rusak dan tumbuhan sagu mulai menipis maka masyarakat akan mulai kesulitan untuk mendapatkan bahan makanan.

Memasak Sagu

Seusai mengolah sagu, Nikodemus, Agustinus dan Vincent kembali mengarahkan pompong miliknya kembali menuju Uma Sabulukkungan, rumah adat khas Mentawai kepunyaan Suku Sabulukkungan.

https://image.ibb.co/cXKKvT/04.jpg

Di dapur, tepat pada bagian belakang uma, beberapa orang wanita sibuk menyiapkan beberapa bahan yang akan diolah. Selain sagu, di sekitar perapian atau tungku beberapa batang bambu yang sudah dipotong-potong disandarkan untuk nantinya digunakan sebagai wadah dalam memasak sagu.

Sembari menghaluskan tepung sagu yang akan dimasak, Lidiana Sabulukkungan (50) menceritakan bahwa hingga saat ini masyarakat Mentawai masih memasak sagu menggunakan cara yang tradisional, yaitu memanggang sagu di dalam bambu atau dibungkus daun sagu.

Setelah mulai halus, Lidia kemudian memasukkan sagu ke dalam potongan-potongan bambu dan juga daun sagu untuk kemudian disangrai di sekitar api yang sudah dinyalakannya.

Deretan batang bambu dan daun sagu berisi tepung sagu mulai dijejerkan di atas tungku. Sesekali Lidia terlihat membolak-balikan bambu dan daun sagu tersebut agar masaknya bisa merata.

30 menit berlalu, ketika seluruh bagian bambu dan daun sagu mulai berubah warna kehitaman yang menandakan sagu mulai masak sempurna, Lidia mulai mengemas sagu yang telah masak sambil mengganti sagu lain yang akan dimasak.

Sambil menunjuk ke sagu yang dimasak dengan bambu, Lidia menjelaskan bahwa sagu yang dimasak dengan bambu namanya kaobbuk dan jika dimasak dengan daun sagu, namanya kapurut.

Lidia menjelaskan bahwa memasak sagu, api yang digunakan tidak boleh terlalu besar dan juga tidak boleh terlalu kecil. "Jika api yang digunakan terlalu besar, maka sagu tidak akan matang dengan sempurna, hanya bagian luarnya saja, sementara bagian dalamnya masih mentah. Selain itu jika api yang digunakan terlalu kecil, sagu juga bisa berubah rasa menjadi pahit," ungkapnya.

Tidak terlalu sulit dan tidak terlalu gampang, begitulah Lidia menjelaskan bagaimana cara memasak sagu. Untuk menambah cita rasa, sagu yang dimasak bisa saja ditambah dengan menggunakan parutan kelapa atau gula.

Lidia kemudian mencicipi sagu kapurut yang sudah matang, setelah dua kunyahan dia bergumam bahwa sagu yang sudah masak ini nanti akan lebih nikmat jika dikonsumsi dengan campuran ikan atau pun sayur-sayuran yang diambil dari ladang.

"Kami belum pernah merasa kekurangan bahan makanan, sebab apa yang kami konsumsi sudah disediakan oleh alam," jelasnya.

Sambil bergumam, Lidia menyebutkan mananam yang artinya enak.

  • Pin it
Komentar