Keindahan Menyusuri Danau Mangeungeu yang Eksotis di Mentawai

06-06-2018 10:29 WIB | Travel | Reporter: Tarida Hernawati | Editor: Zulfikar
Keindahan Menyusuri Danau Mangeungeu yang Eksotis di Mentawai

Danau Mangeungeu di Siberut Barat Daya (Foto: Hendrikus Bentar / mentawaikita.com)

Danau Mangengeu atau yang lebih dikenal dengan nama Bat Simaruei di Desa Taileleu Kecamatan Siberut Barat Daya Kabupaten Kepulauan Mentawai menyimpan banyak misteri yang belum terungkap hingga kini. Sejak pemerintah merelokasi warga di sekitar danau ke kampung Saumanuk dan kemudian ke Dusun Peipei, danau ini kembali ke dalam keheningan. Tersembunyi jauh dari permukiman dan aktifitas manusia dengan hutan sagu yang tumbuh subur mengelilingi danau.

Dari lokasi perkampungan lama di Saumanuk kita harus menyusuri anak sungai Bat Puabbangan dengan mendayung sampan ke hulu sungai. Sungai yang berliku-liku dan berair dangkal hanya bisa dilalui dengan sampan kecil tanpa mesin, hanya di hulu sungai mendekati muara danau, air sungai cukup dalam untuk dilalui perahu bermesin. Di kiri kanan sungai didominasi pohon-pohon sagu yang tumbuh subur. Dari balik rimbunnya pohon sagu, terlihat pula pohon-pohon bambu, durian, pohon-pohon kayu, dan tumbuhan semak lainnya.

Pohon-pohon yang tumbuh lebat dan menjulang tinggi di kiri kanan sungai seakan membentuk kanopi yang melindungi kita dari terpaan sinar matahari. Air sungai yang dingin dan jernih kemerah-merahan semakin menambah keteduhan bersampan di sungai ini. Cuaca mendung dengan hujan rintik-rintik pun membuat perjalanan kami menyusuri Bat Puabbangan terasa begitu menyejukkan. Sepanjang perjalanan kami mendengarkan cerita Kepala Dusun Simaruei Desa Taileleu, Rafael Sakelak tentang sejarah penduduk di sekitar danau ini.

https://image.ibb.co/gMmKoT/A.jpg

Suara percikan air dari pendayung turut menambah indahnya suasana. Semakin ke hulu, air sungai mulai bertambah dalam dan semakin melebar. Sesekali kami berteriak kecil melihat ikan-ikan yang nampak jelas berenang di sisi sampan. Lele, belut, nila, udang, dan ikan-ikan lain yang tidak saya ketahui namanya seakan-akan mengundang kami untuk turun ke dalam air. Sungguh sebuah perjalanan yang sangat menyenangkan.

Hanya saja ada sedikit rasa cemas ketika kami semakin dekat dengan danau, cerita tentang buaya penunggu danau yang saya dengar di dusun masih terngiang di telinga. Orang Peipei percaya ada buaya di danau ini meski belum pernah ada yang dapat membuktikannya. Cerita tentang buaya Danau Mangeungeu dikisahkan dari mulut ke mulut. Kabarnya pernah da seorang ibu yang melihat seekor buaya ketika ia sedang mengambil jaring ikan di tengah danau pada malam hari. Ada pula seorang ibu yang pernah melihat cahaya merah seperti dua buah bola mata di tengah danau. Cerita ini semakin dikuatkan dengan kesaksian beberapa orang yang pernah kehilangan anjing mereka secara misterius di tepi danau.

Mereka masih sempat mendengar anjing menggonggong dan beberapa menit kemudian suaranya menghilang dan anjing itu tidak pernah lagi ditemukan. Namun dari semua cerita itu belum pernah ada cerita tentang buaya yang memangsa manusia atau para pencari ikan di danau ini. Saya sesekali bertanya kepada Pak Rafael dan Pak Romi, apakah aman bagi kami menyusuri danau dengan sampan kecil tanpa ada senjata apapun yang dapat digunakan untuk menyelamatkan diri. Tetapi mereka hanya tertawa dan yakin buaya Danau Mangeungeu tidak akan mengganggu dan memangsa manusia.

Akhirnya setelah bersampan sekitar 1 jam, kami pun mulai melihat muara danau di kejauhan. Tampak hamparan air bening yang cukup luas dengan pohon-pohon sagu di sekelilingnya. Pemandangan yang menakjubkan. Pak Rafael dan Pak Romi semakin bersemangat mendayung sampan kami, meski mereka berdua orang Peipei, berkunjung ke Danau Mangeungeu tetap menjadi sebuah perjalanan berharga. Bahkan Pak Romi baru pertama kali ini mengunjungi Danau Mangeungeu. Sebagian besar penduduk Peipei dan Taileleu hanya mendengar cerita tentang danau ini tanpa pernah melihatnya dengan mata kepala sendiri. Apalagi para pejabat Mentawai dan pihak investor yang kabarnya akan "menguasai" danau ini untuk dijadikan Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata.

https://image.ibb.co/dH8oho/B.jpg

Setelah sampai di muara danau, tiba-tiba Pak Rafael menceburkan dirinya ke air dan ternyata air danau hanya sebatas lehernya saja. Ia meminta kami untuk mengambil foto sebagai kenang-kenangan dan bukti bahwa ia berada di danau kebanggaannya ini. Kami pun dapat melihat gulma yang memenuhi danau dan kelihatan jelas dari permukaan air yang jernih. Kami kemudian mengelilingi danau di sisi kanan dari arah kedatangan kami dan melihat dari kejauhan seorang ibu yang sedang membersihkan jaring di atas sampannya. Kami mendekatinya dan sempat berbincang-bincang singkat dengan ibu itu.

Danau ini tidak memiliki pantai namun memiliki banyak anak sungai di sekleilingnya. Saya berpikir mungkin jika digambarkan danau ini mirip seprti ubur-ubur yang memiliki banyak kaki di sekeliling kepalanya. Di aliran anak-anak sungai di sekeliling danau inilah orang-orang membuat pondok-pondok kecil untuk tempat beristirahat selama mencari ikan di danau. Sebab para pencari ikan bisa berada selama berhari-hari di danau ini. Kami melihat beberapa pelampung di tengah-tengah danau yang menandakan ada banyak jaring ikan di sana.

Jaring-jaring ini bisa dibiarkan selama berhari-hari untuk kemudian dipanen hasilnya. Selain menjaring, orang-orang juga biasa menggunakan leggeu (bubu) yang dipasang di tepian danau, dan juga menggunakan pancing. Aktifitas mencari ikan biasanya lebih banyak dilakukan pada malam hari. Oleh sebab itu suasana hening begitu terasa di danau yang cukup luas ini. Sebuah sampan dengan empat orang di dalamnya mengelilingi danau yang begitu luas dan sepi, disertai hujan rintik-rintik dan awan hitam yang menggantung dan hembusan angin yang menimbulkan riak-riak di permukaan danau, seperti sebuah petualangan yang fantastis sekaligus mendebarkan. Sambil terus memikirkan tentang misteri buaya yang bisa saja muncul tiba-tiba, saya juga sempat berharap melihat kemunculan si misterius lainnya yaitu ikan kolomot si penjaga danau. Meski tentunya tidak berharap akan datangnya musibah.

https://image.ibb.co/cfz5TT/C.jpg

Pak Rafael menunjuk dengan jarinya ke arah Leleu Sabeu yang nampak dari kejauhan di balik danau. Kabarnya Leleu Sabeu ini merupakan lokasi yang akan dijadikan sebagai bandara di kawasan KEK. Ketika hendak kembali pulang, kami melihat seorang perempuan muda sedang bersampan sambil memasang jaring mulai di hulu sungai Bat Puabbangan yang akan kami lalui. Kami sempat bertegur sapa sebentar sebelum akhirnya berpisah ke arah tujuan masing-masing.

Rasa penasaran tentang cerita banyaknya ikan di danau ini sepetinya terjawab sudah. Baru beberapa menit saja setelah di pasang oleh pemiliknya, Pak Rafael dan Pak Romi berkata bahwa sudah banyak ikan yang terjaring di sana. Saya bertanya bagaimana mereka tahu, katanya dari pelampung kecil di jaring yang terlihat bergerak. Untuk menjawab rasa penasaran saya, mereka pun mengangkat sebagian jaring ke permukaan dan benar ada seekor ikan nila (dalam bahasa lokal disebut kelak utek) sebesar telapak tangan orang dewasa tersangkut di jaring.

Sekejap kemudian pelampung jaring di bagian lainnya juga bergerak. Kami melihat ikan nila yang lebih besar tersangkut di sana, disusul bagian lain yang juga sudah mendapat ikannya. Ikan nila memang jenis ikan yang paling banyak di danau ini. Sedangkan ikan lain seperti lele, belut, dan udang ada di anak-anak sungai di sekeliling danau. Danau ini sungguh sebuah kekayaan alam yang patut dilestraikan dan dipertahankan. Bat Simaruei atau Danau Mengeungeu ibarat putri cantik yang dipingit karena kecantikan dan nilainya yang sangat berharga. Bagi saya perjalanan menyusuri sungai Bat Puabbangan dan Danau Mangeungeu ini layak menjadi sebuah perjalanan wisata.

  • Pin it
Komentar