Legenda Terjadinya Danau Mangeungeu di Mentawai

06-06-2018 08:58 WIB | Pumumuan | Reporter: Tarida Hernawati | Editor: ocha
Legenda Terjadinya Danau Mangeungeu di Mentawai

Danau Mangeungeu di Siberut Barat Daya (Foto: Hendrikus Bentar)

Siberut Barat Daya di Kepulauan Mentawai, keindahannya begitu mendunia. Para peselancar mancanegara banyak yang berkunjung ke teluk tersembunyi di pantai barat Pulau Siberut ini. Ada puluhan resort berada di gugusan pulau-pulau kecil berpantai indah ini. Tak heran, Siberut Barat Daya mengundang banyak investor ingin menanamkan modal. Pemerintah bahkan akan menjadikan Peipei dan Taileleu menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata.

Namun, keindahan Taileleu tidak hanya laut, ombak dan gugusan karangnya. Keindahannya juga mencakup danau air tawar yang terletak agak di ketinggian. Ada berbagai kisah mistis melingkupi danau yang menjadi tempat masyarakat mencari sumber protein dan ekonomi ini.

Danaunya bernama Mangeungeu atau atau yang lebih dikenal penduduk setempat dengan nama Bat Simaruei. Legenda Danau Mengeungeu ini sering dituturkan oleh para orang tua dahulu kepada anak-anaknya sebagai pengantar tidur. Namun sekarang legenda ini sudah mulai luntur dan hanya sedikit orang tua yang mengetahui dan dapat menceritakannya kembali. Jika para orang tua sudah tidak tahu lagi tentang legenda ini, dapat dipastikan para orang muda tidak ada lagi yang mengetahuinya. Kami mendapatkan cerita dari Kepala Dusun Simaruei, Rafael Sakelak, saat berkunjung ke sana, 24-25 Mei lalu.

Dikisahkan, dahulu kala ada satu keluarga dari Uma (suku) Sarimurat yang memelihara golak (ikan lele) dan kolomot (sejenis ikan yang memiliki sirip di sekitar kepala hingga menyerupai telinga) di kolam kecil yang sengaja dibuat di sekitar rumah mereka. Setelah ikan-ikan ini mulai besar, mereka pun melepaskannya ke dalam gineta (kolam rawa) di tengah-tengah hutan sagu. Tanpa diduga, ikan-ikan ini berkembang biak dengan sangat cepat dan mulai memenuhi kolam rawa tersebut. Perlahan, tanah di pinggir dan sekeliling kolam mulai terkikis akibat gerakan ikan-ikan lele yang meliuk-liuk dan sapuan sirip ikan-ikan kolomot itu. Akibat tanah yang terus terkikis, pohon-pohon sagu di sekitar kolam itu mulai bertumbangan dan jatuh ke dalam kolam. Kejadian ini terus berlangsung dan semakin lama kolam itu pun bertambah lebar dan dalam hingga menjelma menjadi sebuah danau.

Anggota Uma Sarimurat yang mengetahui kejadian ini merasa heran dan mulai panik melihat kolam rawa itu telah menjelma menjadi sebuah danau yang sangat luas. Mereka pun berembuk untuk mencari jalan keluar agar danau itu tidak semakin meluas dan menenggelamkan hutan sagu yang tersisa. Mereka juga khawatir danau itu akan menenggelamkan perladangan, peternakan babi dan juga permukiman mereka. Mereka akhirnya memutuskan untuk memburu semua ikan-ikan di danau itu. Persiapan berburu pun mulai dilakukan, mereka mengumpulkan jaring, tombak ikan, parang, pisau, dan peralatan lain untuk menghabisi ikan-ikan itu.

Pada hari yang telah ditentukan, mereka pun berangkat ke danau dan mulai memburu semua ikan yang ada di dalamnya. Berhari-hari lamanya mereka berburu untuk menghabisi ikan-ikan itu hingga mereka yakin tidak ada lagi ikan yang tersisa. Ketika hendak kembali ke perkampungan, mereka terkejut mengetahui masih ada 1 ekor ikan kolomot yang tersisa. Para orang tua dan sikerei (pemimpin ritual adat) percaya bahwa keberadaan ikan ini sebagai sebuah pertanda. Mereka pun tidak menghabisi ikan ini bahkan membuat sebuah ritual untuk memulihkan kembali kondisi danau yang sempat kacau balau dan porak poranda. Ikan kolomot ini diambil dan diberi lelebak atau hiasan sejenis kalung yang telah diberi mantera oleh sikerei. Setelah itu, ikan ini dilepaskan kembali ke dalam danau, dan sejak saat itu danau ini tidak lagi bertambah luas dan merusak pohon-pohon sagu di sekitarnya.

Di sekitar tempat ikan ini dilepaskan dahulu masih tumbuh satu rumpun sagu yang tidak pernah berkembang dan tidak juga mati hingga sekarang. Pohon sagu ini dapat dibedakan dari pohon-pohon sagu lain karena daunnya yang berwarna kuning. Hingga sekarang, para tetua adat dan masyarakat setempat percaya bahwa ikan kolomot ini masih hidup dan menjadi penjaga danau. Mereka juga percaya jika ikan ini muncul ke permukaan danau maka itu sebagai pertanda akan adanya musibah. Seperti datangnya wabah kolera dan penyakit menular lainnya.

Danau ini diberi nama Bat Simaruei yang berasal dari kata ruei yang berarti cepat, dikarenakan cepatnya ikan-ikan di kolam rawa yang merubah kolam itu menjadi danau. Danau ini juga disebut dengan nama Mangeungeu yang berasal dari kata ngeungeu yang bisa diartikan lunak seperti sifat lumpr yang dipijak. Meski saat itu hanya ada 1 ekor ikan kolomot yang tersisa namun beberapa saat setelah itu danau ini menjadi habitat berbagai jenis ikan dan biota danau air tawar lainnya. Danau ini dipenuhi dengan gulam (dalam bahasa lokal disebut lumut) sebagai pakan alami ikan-ikan di danau. Ikan nila (dalam bahasa lokal disebut kelak utek) disebut sebagai ikan yang paling banyak di danau ini.

  • Pin it
Komentar
Berita Lainnya