Lasman Saumanuk, Sarjana yang Membuka Lapak Pisang

15-05-2018 11:38 WIB | Sosok | Reporter: Silvester Suntoro Sarogdok | Editor: ocha
Lasman Saumanuk, Sarjana yang Membuka Lapak Pisang

Saumanuk Lasman

TUAPEIJAT—Tak banyak anak muda lulusan perguruan tinggi yang mau bergelut di dunia pertanian, menjadi petani ataupun menjual hasil pertanian. Kebanyakan dari mereka lebih memilih menjadi pegawai kantoran, entah di swasta ataupun pemerintah.

Lasman Saumanuk salah satu yang berbeda. Anak muda asal Sipora ini lebih tertarik berwira usaha. Ia kini punya usaha yang dinamakan UKM Lapak Pisang Saumanuk dengan modal awal Rp5 juta. Di lapaknya, Lasman menjual aneka buah hasil pertanian Mentawai dan sayuran..

"Modal awal saya sebenarnya Rp1,5 Juta, Rp3,5 Juta saya bayar uang kontrakan tempat usaha ini," katanya kepada Puailiggoubat, pada Senin (14/5/2018) di lapak sekaligus kediamannya di Km 2, Dusun Karoniet, Desa Tuapeijat, Kecamatan Sipora Utara.

Lasman tidak serta merta menjadi pedagang pisang. Ia sebenarnya sudah merencanakan akan membuka usaha hasil pertanian bahkan hasil bumi yang ada di Mentawai sejak masih duduk di bangku kuliah dan bekerja di salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dimana saat itu Lasman menjadi pendamping petani dalam membuat suatu usaha atau mengolah hasil pertanian menjadi makanan yang bisa dijual.

Lalu motivasinya muncul ketika melihat hasil pertanian masyarakat Mentawai tidak ada yang menampung. "Banyak hasil pertanian Mentawai, namun tidak ada yang menampung. Sehingga pada 2016 dan 2017, saya coba membeli sekarung atau dua karung hasil panen masyarakat, untuk coba --coba," jelasnya.

Menggeluti usaha dagang hasil kebun masyarakat diakui Lasman sempat mendapat sedikit pertentangan di keluarganya. Ayahnya punya rencana lain mengenai masa depannya, sementara sang Ibu sangat mendukung usaha yang ia lakoni sampai saat ini. Selain itu terkait nama usahanya yang membawakan suku Saumanuk yang menjadi perbincangan dengan keluarganya.

"Ini hanya terkait nama usaha saja, Lapak Pisang Saumanuk, ini mesti dirembukkan dengan keluarga, di sisi lain sebesar apapun potensi kalau tidak ada dukungan dari orang tua usaha apapun yang di jalani mungkin tidak akan berhasil," katanya.

Meskipun usahanya masih baru berjalan, lasman menjalaninya dengan tekun. Sebab bagi dia, menjadi sarjana tidak mesti harus bekerja di kantor pemerintah. "Sarjana tidak harus duduk di kursi empuk atau berdasi, tapi bagaimana caranya masyarakat juga bisa menikmati ilmu yang kita miliki, tidak mesti kerja di pemerintah,"ungkapnya.

Saat ini, diakui Lasman usahanya masih sekedar untuk mengembangkan potensi hasil tani beberapa orang, dan juga daerahnya, "Dari kita dulu, tidak usah kita bicara Mentawai, karena Mentawai itu luas. Mencintai Mentawai ini, kita harus mencintai daerah kita dulu, kampung kita dulu, untuk apa mencintai Mentawai, sedangkan kampung kita sendiri saja tidak kita cintai," katanya.

Berbisnis hasil pertanian masyarakat bukan tanpa masalah. Lasman mengaku menghadapi berbagai persoalan dalam menjalankan usahanya, seperti masalah harga yang tidak sesuai dengan penjual kepadanya, juga upah buruh yang tidak menentu, sering dihadapinya.

"Kadang kita membeli sama masyarakat, pisang misalnya Rp35 ribu satu tandan, mereka bilang itu murah, padahal modal kita kecil, kadang ada juga yang menipu busuk-busuk dikasihnya, termasuk buruh juga harga per karung tidak menentu, " katanya.

Mengenai pasaran, dikatakannya untuk khusus kawasan Tuapeijat masih seperti biasa, pelanggannya cukup banyak satu hingga tiga hari habis semua, "pembelinya lebih suka pisang, keladi, kelapa, itu banyak mereka beli," jelasnya.

Saat ini ia juga sudah punya pelanggan dari Padang. Ke depan, ia berencana membuat dus atau kemasan yang bermerek untuk pembeli agar terlihat rapi.

Melalui usahanya, Lasman mengajak anak-anak mdua di Mentawai yang baru selesai kuliah berwira usaha, entah makanan, atau kerajinan.

  • Pin it
Komentar