Selain Daging, Telur Penyu Ikut Diburu

02-05-2018 15:05 WIB | Lingkungan | Reporter: Bambang Sagurung | Editor: ocha
Selain Daging, Telur Penyu Ikut Diburu

Telur penyu yang dijual di Sikabaluan Kecamatan Siberut Utara, Mentawai. (Foto: Bambang Sagurung)

SIKABALUAN--Selain daging, telur penyu yang dihasilkan induk penyu ikut diburu oleh masyarakat Mentawai. Biasanya yang menemukan telur penyu ini nelayan yang berangkat melaut pada waktu subuh atau ibu-ibu yang menagkap ikan dengan tangguk pada pintu muara sungai.

Seorang perempuan yang enggan namanya ditulis ditemui Mentawaikita.com, Rabu (2/5) sedang menjajakan telur penyu dalam kotak di Desa Muara Sikabaluan. Ia mengaku, mendapatkan telur penyu itu dari suaminya yang bekerja sebagai nelayan.

"Saya jual Rp2 ribu per butir untuk yang belum dimasak," kata perempuan itu.

Mentawaikita.com lalu menemui suami penjual telur penyu. Ia pun enggan mengungkap nama aslinya, sebab mereka paham, menjual telur penyu adalah perbuatan dilarang.

Ia mengaku menemukan telur penyu saat hendak menurunkan sampan untuk menangkap ikan pada Rabu, 2 Mei 2018 sekira pukul 05.15 wib. "Saya melihat jejak kaki penyu. Kemudian saya coba cari kemana pergerakannya, " katanya.

Lebihlanjut dikatakan Anto, biasanya penyu suka membuat jejak palsu saat bertelur. "Biasanya saat naik dan turun berbeda jalur. Yang saat turun ini kadang dia menggunakan posisi terbalik sehingga saat kita lihat seakan penyu tidak turun ke laut, " katanya.

Setelah membaca pergerakan, akhirnya Anto melihat bagian sampah kayu, bambu dan semak lainnya yang berjarak sekira 10 meter dari bekas pergerakan penyu.

"Saya ambil kayu kecil untuk saya tusuk-tusuk ke tanah untuk mengetahui bagian tanah padat atau tidak. Kalau tusukkannya ke dalam tidak padat berarti telur penyu disimpan di sana, " katanya.

Saat membongkar sampah dan pasir tempat penyu bertelur hasilnya 100 butir.

Pada April lalu, dikatakan Anto, ia juga menemukan telur penyu namun jumlahnya dibawah 100 butir. "Kalau tidak dapat ikat hasil memancing, dengan menjual ini sama halnya kita mendapat 10 ikat ikan," katanya.

Menanggapi itu, Nofri Yani dari Yayasan Cahaya Maritim mengimbau masyarakat Mentawai tidak lagi konsumsi telur dan daging penyu karena sangat berbahaya bagi kesehatan.

"Saat dulu memang masyarakat di kawasan pesisir mengkonsumsi telur penyu, karena belum ada budidaya telur ayam dan telur itik. Namun saat sekarang semua bisa konsumsi telur ayam dan itik, juga telur puyuh," kata aktivis perlindungan penyu ini.

Konsumsi telur dan daging penyu yang cukup tinggi di masa lampau, menurut Yani, mengakibatkan berkurangnya populasi penyu, tidak ada lagi penyu yang menetas dan tumbuh menjadi dewasa untuk terus kawin dan bertelur lagi.

Padahal, sejak tahun 1995, semua jenis penyu menjadi terancam punah dan masuk dalam daftar CITES (hewan langka terancam punah di dunia).

"Dengan menjaga pantai dan tidak mengkonsunsi penyu dan telurnya, berarti masyarakat telah menjaga kelestarian alam ini, sehingga anak cucu kita masih bisa bertemu dengan penyu di pantai penelurannya dimasa yang akan datang, tidak seperti dinosaurus yang hanya bisa direka-reka bentuknya saja. Selain komodo, penyu adalah salah satu hewan purba selevel dinosaurus yang masih bisa kita temui di dunia saat ini," katanya.

Menurut dia, bulan-bulan ini hingga Juni biasanya memang jadwal rutin penyu naik ke darat untuk bertelur di pantai-pantai sepanjang perairan Indonesia karena merupakan daerah tropis.

"Penyu cenderung naik ke pantai saat pasang naik, pada malam hari dan kembali ke laut setelah bertelur, namun jika penyu tidak menemukan tempat yang cocok untuk menggali sarang, merasa terganggu oleh cahaya dan aktivitas manusia, maka penyu akan kembali ke laut tanpa bertelur di pantai. Penyu-penyu ini pada umumnya membuat sarang di atas pasang tertinggi sekitar 3-5 meter dari bibir pantai.

  • Pin it
Komentar