Penambangan Pasir dan Kerikil Marak, Pantai Saibi Makin Abrasi

06-04-2018 09:31 WIB | Lingkungan | Reporter: Rinto Robertus Sanene | Editor: ocha
Penambangan Pasir dan Kerikil Marak, Pantai Saibi Makin Abrasi

Tumpukan karung berisi kerikil yang diambil warga di lokasi bangunan abrasi pantai Saibi Samukop, Siberut Tengah, Mentawai. (Foto: Rinto)

SAIBISAMUKOP-Penambangan kerikil dan pasir pantai yang di Dusun Masoggunei Desa Saibi Samukop Kecamatan Siberut Tengah Kabupaten Kepulauan Mentawai makin marak. Warga menambang pasir dan kerikil justru di lokasi bangunan penahan abrasi pantai yang dibangun pemerintah.

"Aktivitas pengambilan kerikil maupun pasir di lokasi bangunan abrasi itu sering kali terjadi, baik itu untuk bangunan rumah pribadi atau proyek pemerintah.Sebenarnya kita mengerti juga karena ini untuk hidup (dijual), kita boleh saja mengambil kerikil atau pasir tapi mestinya jangan di lokasi abrasi itu harus di luar," kata Nawaitul Kadri (34), warga Masoggunei, Kamis (5/4).

Pemerintah telah membangun penahan abrasi pantai karena kikisan ombak yang makin meluas. "Tapi bangunannya sudah ada untuk mengantisipasi abrasi malah kerikil dan pasirnya diambil, kan makin rusak lagi jadinya," ujar Nawaitul.

Karena itu ia meminta pemerintah segera turun tangan mengatasi hal itu. Agar pengambilan pasir dan kerikil berhenti.

Ketua Satgas BPBD Siberut Tengah, Rudi Hartono Satoko, mengakui sering melihat penambangan itu. "Kebanyakan itu dari ibu-ibu untuk pembangunan material proyek program ADD termasuk juga tahun ini, sudah empat kali kita tegur dan sampaikan ke mereka untuk tidak mengambil terutama kerikil dan memang mereka mengaku salah juga," ujarnya.

Menurut Rudi jika pengambilan kerikil atau pasir untuk warga seperti membuat WC pribadi itu tak masalah. "Tapi ini untuk proyek pemerintah tentu membutuhkan kerikil atau pasir yang jumlah sangat banyak, contohnya saja akibat itu bagian abrasi ke selatan itu mulai berlubang ke bawah,lama-lama bisa besar lubangnya," ujarnya.

Rudi menyebutkan,sebagai petugas Satgas BPBD bukan hanya peka terhadap bencana saja tapi juga memiliki perhatian terhadap kerusakan lingkungan yang lama kelamaan mengakibatkan kebencanaan. "Jadi ini juga tanggung jawab kami di Satgas dan hal ini sudah kita sampaikan di pemerintahan setempat untuk kita bersama-sama menghentikan penambangan dan pengambilan kerikil dan pasir di lokasi abrasi," ujarnya.

Sementara staf Pemerintahan Kecamatan Siberut Tengah, Tastian Salabi, menyebutkan terkait adanya pengambilan kerikil dan pasir di lokasi abrasi sudah ada laporan warga ke kantor kecamatan. "Tapi untuk hal yang lain mungkin kita di kecamatan tidak punya kewenangan itu, hanya pemerintah desa yang punya wilayah tapi yang jelas pengambilan kerikil dan pasir di lokasi abrasi tidak boleh karena makin menambah abrasi," katanya.

Kepala Desa Saibi Samukop Binsar Saririkka membenarkan adanya penambangan kerikil di lokasi abrasi tersebut berdasarkan laporan masyarakat."Iya ketika ada laporan itu kita telusuri langsung dan memang ada kegiatan itu di sekitar abrasi dan kalau ini di biarkan ini akan merusak bangunan itu"katanya.

Setelah melihat hal tersebut, pemerintah desa langsung memasang plang pelarangan pengambilan kerikil dan pasir di sekitar bangunan abrasi. "Jelas pihak kita melarang itu dan plangnya sudah kita pasang kemarin," ujarnya.

Selain memasang plang pelarangan,pemdes akan membuat peraturan desa untuk tidak menambang kerikil dan pasir di pantai. "Tentu jika sudah ada peraturannya dan lokasi pantai mana yang kita larang nantinya tergantung lokasi yang butuh penyelamatan, jadi kita lihat perkembangannya nanti,"ujarnya.

  • Pin it
Komentar