Mengais Rezeki di Dasar Laut

13-03-2018 09:23 WIB | Sosok | Reporter: Rinto Robertus Sanenek | Editor: Gerson Merari
Mengais Rezeki di Dasar Laut

Johan Riky Sauddeinuk, penyelam kompresor di Saibi Samukop sedang memasak teripang. (Foto : Rinto)

SAIBI SAMUKOP -Menjadi penyelam kompresor merupakan pekerjaan yang berbahaya karena harus menyelam berjam-jam ke dasar laut untuk mengambil hasil laut berupa teripang, lobster dan ikan untuk dijual.

Selain karena di laut terdapat beberapa ikan buas, ancaman keselamatan jiwa juga bisa disebutkan karena hipotermia karena tubuh tidak bisa lagi menahan suhu dingin karena kelamaan berendam di air.

Meski sangat berbahaya, Nilus Sakailoat (31), warga Dusun Simabolak, Desa Saibi Samukop, Kecamatan Siberut Tengah tetap bertahan menjalani pekerjaan itu. Ia sering menyelam dengan mesin kompresor mencari teripang laut atau dalam bahasa lokalnya dikenal dengan nama sualo untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

"Ini teripang hasil menyelam kemarin dan pulang dini hari pukul 05.00 WIB tadi, ada juga dapat sedikit ikan dan lobster. Lumayanlah untuk hari ini," kata Nilus sambil membelah kayu bakar untuk memasak teripang di kuali besar, Kamis, 1 Maret.

Nilus mengaku hari ini (1/3) sore nanti setelah mengolah hasil tangkapan kemarin akan berangkat lagi menyelam,"tapi tergantung cuaca juga dan kami ada empat orang penyelam yang akan berangkat nanti," ujarnya.

Nilus menyebutkan, telah 10 tahun menjadi penyelam kompresor. Mulanya ia hanya ikut-ikutan dengan penyelam lain, namun lama kelamaan ia tertarik dan mulai mahir menjadi penyelam kompresor seperti yang lain. Setelah mahir ia mulai melengkapi peralatan menyelam seperti yang lain dari hasil menjual hasil laut yang diselam.

"Jadi bersama teman-teman pergi menyelam sudah memakai alat sendiri," ujarnya.

Nilus bersama tiga orang rekannya pergi menyelam pada sekira pukul 18.00 WIB menggunakan perahu pongpong. Peralatan yang mereka bawa berupa mesin kompresor sebagai sumber udara,tabung gas, selang, dakor, senter dan ramsum sekira Rp300 ribu.

Berselang sejam berangkat atau sekira pukul 19.00 WIB, mereka mulai menyelam ke dasar laut. Keempat orang tersebut turun secara bergantian termasuk Nilus. Sekali turun dua orang dan dua orang lagi berada di atas sampan mengoperasikan mesin kompresor.

Setelah 2 jam lamanya dua orang yang turun pertama naik ke permukaan dan duanya lagi turun. "Ada empat kali turun menyelam dan sekira pukul 05.00 WIB dini hari baru pulang," kata Nilus.

Menurut Nilus, kedalaman laut yang mereka selam sekitar 50-60 meter. Hasil laut yang ditangkap berupa teripang, lobster dan ikan.

"Kami menyelam hanya malam hari karena kalau malam teripang, udang dan ikan lebih banyak bermunculan dari pada siang hari jadi kalau lancar kami menyelam sehari itu hasilnya jika di uangkan bisa mencapai Rp500 ribu," tutur Nilus.

Harga teripang kering dari ukuran kecil sampai besar berkisar Rp30 ribu per kilogram hingga Rp1 juta. Besar harga itu ditentukan jenis teripang yang ditangkap.

Sementara harga lobster untuk ukuran kecil Rp100 ribu per kilogramdan yang besar Rp200 ribu per kilogram. Sementara ikan dijual dengan kisaran harga RP20 ribu-50 ribu per kilogram.

"Yang langsung kami jual itu ikan dan Lobster untuk biaya ramsum kami lagi dan untuk keluarga juga, kalau teripang kami olah dulu dan menampungnya kalau udah banyak kami jual ke Siberut Selata," ujarnya.

Biasanya teripang kering yang siap jual dikumpulkan selama dua minggu yang mencapai 30 kilogram dan bisa mendapat pendapatan sekitar Rp3 juta. "Itulah yang kami bagi tapi kali ini kami mau kumpulkan teripang selama sebulan baru kami jual," ucapnya.

Nilus mengaku mencari rezeki di laut hanya untung-untungan dan jika sedang hoki maka hasil yang didapat akan banyak. Biasanya mereka dapat hasil banyak jika menemukan titik sebaran teripang dan lobster, namun hal itu jarang terjadi.

Nilus mengatakan, risiko keselamatan jiwa sebagai penyelam kompresor sangat tinggi, salah satunya ancaman ikan buas seperti hiu sebab mereka menyelam pada malam hari.

Selain ikan, ancaman hipotermia yang dikalangan mereka dikenal dengan istilah terkena air tawar di laut juga bisa saja terjadi, ketika terkena itu organ tubuh bisa lumpuh dan beberapa kasus menyebabkan kematian.

"Ini lebih banyak para penyelam yang kena air tawar itu kadang bisa disembuhkan kadang bisa lumpuh dan bisa jadi kita mengalami kematian," kata Nilus.

Ancaman lain dapat disebabkan kecelakaan peralatan berupa terlilit selang kompresor. Namun menurut Nilus, kecelakaan itu terjadi karena penyelam tidak berhati-hati ketika melaut dan kurang berpantang.

"Jadi kalau kita mau berangkat ke laut tidak boleh cekcok sama istri atau teman penyelam,dan mengangganggu wanita serta makan sambil jalan, dan ini benar-benar dijaga dan kami yakini jika itu terjadi pasti selalu saja ada ancaman dan halangan, jadi kita pergi ke laut itu dengan pikiran senang saja dan mudah-mudahan tak akan ada ancaman itu," harapnya.

Johan Riki Sauddeinuk (25), penyelam lain mengaku, risiko keselamatan jiwa menjadi penyelam kompresor cukup besar.

"Tapi penyelam ini sudah jadi profesi sehari-hari dan kita bisa dapat cepat untuk memenuhi kebutuhan keluarga tapi kalau ada waktu juga kita masih bisa ke ladang dan kalau untuk biaya hidup keluarga iya harus menyelam," jelas Riki.

  • Pin it
Komentar