Anak Pedalaman Mentawai yang Mengais Rezeki di Laut

09-03-2018 16:13 WIB | Peristiwa | Reporter: Bambang Sagurung | Editor: ocha
Anak Pedalaman Mentawai yang Mengais Rezeki di Laut

Resto (berbaju olahraga merah muda) bersama ibu dan saudaranya memilih ikan hasil tangkapan. (Foto: Bambang Sagurung)

SIKABALUAN-Laut di kawasan pantai Sikabaluan, Kecamatan Siberut Utara terlihat tenang. Di bibir pantai, pada sore, Kamis, 8 Maret 201, Terlihat Resto Manai (8) bersama ibu dan saudaranya melepas ikan tamban dari jaring hasil tangkapannya.

"Sudah lumayan. Kalau pergi menjaring pasti dapat. Sedikitnya untuk ikan di rumah, " kata Resto pada Mentawaikita.com, Kamis (8/3).

Resto Manai Salelenggu berasal dari pedalaman Simatalu Lubaga yang dulunya tidak pernah melihat laut. Namun sejak keluarganya pindah dari Simatalu Lubaga Desa Bojakan Kecamatan Siberut Utara ke bagian pantai Sikabaluan tiga tahun lalu, hidup mereka berubah.

"Biasanya kami mainnya di sungai saat sekolah, tapi di pantai selain mandi laut kami bisa cari uang," kata murid SDN 09 Sikabaluan yang duduk di bangku kelas I.

Dikatakan Resto, setiap sore ia dan saudaranya Sandi melakukan aktifitas melaut. Menjaring ikan dan memancing. "Kadang kami ganti-gantian pergi. Kadang berdua, " katanya.

Bila berangkat sendiri, mereka hanya membawa jaring ikan. Namun bila berangkat berdua mereka membawa jaring dan alat pancing. "Sambil menunggu jaring kami memancing. Karena jaring yang dibeli bapak hanya untuk jaring ikan tamban hasilnya hanya ikan kecil. Untuk dapat ikan yang agak besar makanya kami memancing" katanya.

Sandi (11) mengatakan, mereka melakukan aktifitas melaut selain untuk mencari belanja juga untuk memenuhi kebutuhan keluarga. "Bapak tidak ada. Dia bekerja di perkebunan sawit di Pekan baru. Satu tahun sekali bapak baru pulang karena mereka dibayar satu tahun sekali, "kata siswa kelas V SDN 09 Sikabaluan.

Sebelum berangkat ke Pekanbaru, Umbek Lakeu Salelenggu, ayah Sandi dan Resto, membuatkan pondok keluarga dan membeli sampan, alat pancing dan jaring ikan. "Bapak beli jaring, sampan dan buat rumah. Untuk belajar memancing dan menjaring kami lihat sama orang lain caranya, " katanya.

Awal-awal dapat hasil tangkapan hanya untuk mereka konsumsi. "Untuk ikan sudah dapat, tapi untuk beli gula,beras dan belanja di sekolah tidak dapat. Makanya saya bilang sama kakak dan mamak untuk dijual (ikan) kalau dapat banyak, " katanya.

Pertama menjual hasil tangkapan, ikan tamban satu kantong plastik ukuran 1 kg diisi penuh dengan harga jual Rp10 ribu. Ikan yang bagus dijual Rp20 ribu dengan isi yang banyak.

"Akhirnya bapak-bapak nelayan Sikabaluan menegur karena ikan kami laku karena isinya banyak. Mereka minta supaya kami kurangi atau harga kami naikkan. Kami lihat bagaimana isinya sama mereka, tapi kami lebihkan sedikit biar laku, " katanya.

Lebihlanjut dikatakan Sandi, kalau berangkat melaut pada sore hari hasilnya mulai banyak biasanya mereka antar dulu untuk dijual dan mereka berangkat lagi.

"Kalau pergi dapatnya sedikit maka sekali pergi saja. Tapi kalau banyak dapat biasanya kami antar dulu lalu berangkat lagi. Kami hanya pakai tenaga, kalau bapak-bapak yang lain mereka pakai pompong, " katanya.

Dalam sehari minimal mereka mendapat penghasilan Rp20 ribu, saat hasil banyak mereka bisa memperoleh penghasilan hingga ratusan ribu. "Untuk uang belanja kami dikasih sama mamak (ibu) masing-masing Rp2 ribu satu orang," kata Resto.

Hasil yang diperoleh dari penjualan ikan disimpan dan dipergunakan untuk keperluan sehari-hari. Resto mempunyai empat saudara. Saudara sulung Resto bernama Herlina, lalu Sandi, Resto, Alfon dan Revan.

Herlina dan Sandi sama-sama duduk dibangku kelas V, Resto duduk dibangku kelas I karena tahun pelajaran lalu tidak naik kelas. Sementara Alfon dan Revan belum bersekolah.

"Melihat anak-anak saya semangat saya jadi semangat juga. Apalagi sejak tinggal dipantai dan anak-anak mencari ikan hasilnya ada. Kalau dulu di Lubaga susah menemukan uang karena ayam, babi, hasil ladang tidak ada yang beli, " kata Menua, ibu Sandi dan Resto.

Dikatakan Menua, ia tidak mau kalau anaknya tidak sekolah karena sudah bisa menikmati hasil keringat sendiri.

"Makanya walaupun mereka tinggal kelas tetap saya paksa untuk sekolah supaya mereka bisa berpendidikan. Tidak seperti kami," katanya.

  • Pin it
Komentar