Pelajar Simatalu, Hidup Mandiri Demi Lanjutkan Pendidikan

05-03-2018 09:53 WIB | Pendidikan | Reporter: Bambang Sagurung | Editor: Zulfikar
Pelajar Simatalu, Hidup Mandiri Demi Lanjutkan Pendidikan

Lukas dan Yudas, pelajar SMAN 1 Siberut Utara memperbaiki pondok mereka saat libur sekolah (Foto: Bambang Sagurung)

SIKABALUAN - Pondok berukuran 4x4 meter yang dihuni Lukas dan Yudas, pelajar SMAN 1 Siberut Utara tak lagi kokoh karena mulai teleng ke salah satu sisi. Agar tak roboh pondok tersebut mereka topang dengan menggunakan kayu panjang sebagai penyangga. Begitu juga dengan atap yang terbuat dari tobat (daun sagu) mulai lapuk dan bocor.

"Pondoknya memang sudah lama. Kami hanya meneruskan tinggal di sini," kata Yudas, pelajar kelas XI dari Simatalu, Kecamatan Siberut Barat kepada mentawaikita.com, Rabu, 28 Februari 2018.

Untuk mengantisipasi air hujan menerobos masuk ke dalam pondok yang bocor, mereka menutup bagian-bagian yang bocor dengan kertas, karpet bekas dan seng bekas.

Sementara dinding pondok yang terbuat dari papan bekas diambil dari pengolah kayu saat mereka membuat papan di hutan. Sedangkan lantai terbuat dari pohon nibung.

"Kami sudah masuk dua tahun tinggal di pondok ini, sebelumnya yang punya pondok sudah tinggal sekitar 5 tahun," kata Yudas.

Pondok yang ditempati Yudas merupakan peninggalan dari siswa sebelumnya yang telah menamatkan sekolahnya dan melanjut ke Padang. Pondok itudihuni Yudas dan Lukas sejak lulus dari SMPN 1 Siberut Utara.

"Karena untuk siswa SMA tidak diterima di asrama pastoran, maka orangtua kami membeli pondok ini sama yang punya. Diganti dengan satu ekor babi, " kata Lukas, pelajar dari Dusun Suruan, Desa Simatalu, Kecamatan Siberut Barat.

Saat libur Imlek, Lukas dan Yudas memanfaatkan waktu itu untuk mengambil beberapa batang kayu mengganti perkayuan pondok yang mulai lapuk dan atap yang sudah rusak.

"Libur bukan berarti santai, libur kami manfaatkan untuk perbaiki pondok. Biasanya kalau libur kami cari kerja," kata Lukas.

Kerja yang mereka lakukan biasanya membantu orang membersihkan ladang, mengangkat pasir untuk timbunan rumah, membantu pedagang untuk menyusun barang dagangan yang baru masuk dari Padang dan pekerjaan lainnya yang ditawarkan masyarakat sekitar Sikabaluan.

"Ada yang kasih Rp25ribu-Rp50 ribu sehari. Pokoknya tidak menentu, tergantung dari kerja kami juga, " kata Lukas.

Dari hasil yang mereka dapat biasanya digunakan untuk membeli keperluan sekolah atau keperluan sehari-hari. "Kadang kalau uang yang mereka kasih lumayan kami beli celana, beli tikar, baju, " katanya.

Untuk ikan sehari-hari dikatakan Lukas tidaklah sulit mereka dapatkan karena teman-teman mereka yang diajak setiap sore hari tukang pukat dibagi-bagi.

"Selain mereka dikasih uang jajan, ikan yang kecil-kecil diberikan gratis sama mereka. Makanya mereka bagi-bagi juga sama kami yang ada di sini," kata Yudas.

Orangtua Lukas dan Yudas dari kampung datang membawa bekal atau datang mengontrol satu atau dua kali sebulan. Paling cepat satu kali dalam sebulan karena jarak tempuh yang jauh.

Pelajar dari wilayah Simatalu, seperti Suruan, Lubaga dan Baik yang tinggal di dekat pantai arah pintu Muara Sikabaluan sekira 20 orang, ada yang duduk di bangku SMP dan SMA. Mereka tinggal di pondok-pondok sederhana yang dibuat orangtua mereka. Dan mereka bergabung satu lokasi dengan masyarakat Simatalu yang pindah ke Sikabaluan bagian pantai.

  • Pin it
Komentar