Silumang, Kepemilikan Harta Warisan Suami di Mentawai

26-02-2018 01:34 WIB | Budaya Mentawai | Reporter: Bambang Sagurung | Editor: Zulfikar
Silumang, Kepemilikan Harta Warisan Suami di Mentawai

Ilustrasi upacara pernikahan di Mentawai (Foto: Zulfikar)

Kepemilikan harta warisan bagi masyarakat Mentawai sudah ada dan dijalankan masyarakat secara turun-temurun. Pembagian harta warisan ini salah satunya hak seorang istri ketika suaminya meninggal dunia.

"Pembagian harta warisan serta aturan kepemilikan harta warisan itu sudah ada bagi masyarakat Mentawai," kata Selester Saguruwjuw, salah seorang tokoh adat Mentawai dari Rogdok, Siberut Selatan.

Dikatakan Selester, di Mentawai ketika suami meninggal dunia, maka harta keluarga yang dimiliki suami istri akan dikuasai secara langsung oleh pihak keluarga suami. Namun, bila suami-istri sudah punya anak laki-laki yang dewasa, maka harta keluarga tersebut dimiliki oleh anak laki-laki.

"Kalau anak perempuan saja, maka harta yang dimiliki akan dimiliki oleh saudara suami yang meninggal. Sementara, anak-anak mereka diasuh oleh saudara dari suami," kata Selester.

Lebih lanjut, dikatakan Selester, istri dari suami yang meninggal akan kembali kepada keluarganya. Ia kembali kepada orang tuanya hanya membawa beberapa pakaian. "Ini yang disebut Silumang. Bukan karena miskin, namun karena aturannya memang begitu yang membuat dia harus kembali pada orangtuanya tanpa membawa apa-apa," jelasnya.

Menurut Selester, kembalinya istri kepada orang tuanya tanpa membawa harta warisan keluarga demi menjaga harga diri keluarga pihak perempuan, agar jangan sampai pihak keluarga suaminya beranggapan bahwa istri mau menguasai harta suami atau adanya anggapan dari suku lain tentang penguasaan harta warisan.

Salim Tasirilotik, salah seorang pemerhati budaya Mentawai yang juga guru budaya Mentawai mengatakan, perempuan saat akan kembali kepada orang tua ketika suaminya meninggal dunia dengan tidak membawa dan memiliki harta yang dicari bersama, karena pada waktu peminangan untuk menjadi sebuah keluarga, pihak laki-laki sudah membayar mas kawin atau alat toga.

"Alat toga itulah sebagai ganti harta perempuan saat kembali kepada orangtuanya. Dimana alat toga itu diambil pada waktu pihak keluarga laki-laki meminang istrinya," ujar Salim.

Namun, budaya yang seperti ini menurut Selester dan Salim tidak sesuai lagi di Mentawai, karena perempuan saat ini sudah bekerjasama dengan suami dalam mencari harta bersama serta perempuan Mentawai sudah memiliki strata sosial yang sama dengan laki-laki, misalnya soal pendidikan.

"Sekarang, perempuan yang berkeluarga itu sudah ada pendidikan SMA atau sarjana. Malah sudah ada yang pegawai. Kalau dulu perempuan Mentawai tidak bersekolah, mereka hanya dibawa orangtuanya keladang. Ini salah satu hal yang membuat budaya Silumang itu tidak sesuai lagi," kata Salim.

Saat ini, di Mentawai, ketika suami meninggal, istri tetap berada dirumah dan memiliki harta yang diperoleh bersama suami. "Apalagi kalau mereka sudah punya anak laki-laki dewasa atau punya anak yang sudah dewasa," ungkap Salim.

Memang dikatakan Selester, ketika suami meninggal pihak keluarga suami akan memgadakan punen penutupan masa berkabung serta mengantar istri saudara mereka yang meninggal kepada pihak keluarganya. Setelah satu atau dua hari istri almarhum akan kembali kerumahnya untuk berkumpul dengan anaknya.

"Karena pihak keluarga almarhum mengatar dia kepada pihak keluarga sebagai syarat budaya saja," katanya.

Namun, dalam beberapa kasus terakhir yang terjadi dibeberapa tempat, budaya Mentawai tentang Silumang ini kembali dimunculkan. Bahkan ada istri almarhum yang dikembalikan kepada orangtuanya tanpa membawa harta yang dicari bersama, yang lebih memprihatinkan lagi, harta yang mereka peroleh itu lebih banyak dikuasai Saulu atau ipar, bukan pihak keluarga laki-laki.

  • Pin it
Komentar