Pakilia, Pesta Pernikahan Nan Eksotik Namun Langka

23-02-2018 17:33 WIB | Budaya Mentawai | Reporter: Bambang Sagurung | Editor: Zulfikar
Pakilia, Pesta Pernikahan Nan Eksotik Namun Langka

Prosesi Pakilia di Sikabaluan, Kecamatan Siberut Utara (Foto: Bambang)

Kedua pengantin memakai riasan adat Mentawai bagian Sikabaluan Kecamatan Siberut Utara. Terlihat indah dan eksotik.

Kedua pengantin didampingi dua orang perempuan yang juga memakai pakaian adat.

Dalam iringan, pihak keluarga mengantin membawa buah kelapa sekira 30 buah, keladi tiga Opa/Uan (keranjang), Siaru (keladi yang dimasak dalam bambu), ayam satu roigen (long ayam) dan daging babi yang sudah di timbok (Daging babi yg diselai). Daging babi yang diselai ini merupakan iban toga (daging babi untuk anak perempuan yang menikah yg wajib disediakan dari pihak keluarga perempuan).

Sementara, pihak keluarga pengantin laki-laki sudah bersiap didepan rumah untuk menyambut kedatangan keluarga baru didalam uma atau suku mereka.

Didepan rumah keluarga penganten laki-laki sudah bersiap Taleku Sikaraja (85) sikebbukat Uma Sikaraja yang akat membawakan sukat Pakilia. Pakilia merupakan proses penyambutan keluarga baru dalam sebuah uma di Sikabaluan. Taleku Sikaraja merupakan satu-satunya orang yang bisa menyampaikan sukat di Sikabaluan.

Untuk membantu Taleku, sudah ada Berman Kiniu Samanjolang yang membantu memberikan katsaila (daun pucuk enau) kepada pengantin dan pendamping, serta Mateus Siribere yang membantu memberikan anak ayam kepada pengantin dan pendamping. Sedangkan Merei Sagurung membantu Taleku untuk memegang ayam jantan yang menjadi buluat (persembahan) kepada leluhur.

Dengan berdiri disamping pengantin dan pendamping pengantin, Taleku mengangkat ayam jantan keatas sambil mengucapkan sukat.

Ekeu kina toiten

Sibalu takakna

Elek simaingo buana

Abe kabuntenna

Simatoroimianan

Elek sigerei bagana

Sigerei bagamai

Ini merupakan perumpamaan tentang sebatang pohon kelapa yang memiliki tangga untuk dinaiki dan berbuah lebat. Dimana dalam kehidupan sehari-hari kehidupan dijalani dengan tahapan hingga mencapai hidup yang tentram dan sejahtera.

Ekeu kina repdep

Raikraik gajuna

Elek ka buntenna

Elek simakuiraman

Elek tak simairam mata

Maila mata mai

Elek tak sigerei bagana

Sigerei bagamai

Ini tentang sejenis tumbuhan tebu yang tumbuh dipinggir sungai yang bergoyang ketika arus sungai deras. Hal ini memberikan makna dimana dalam berkeluarga harus menjaga sikap dan tingkahlaku agar menjadi panutan.

Setelah sukat disampaikan, Taleku memitong bagian ujung paruk ayam dengan dibantu Merei Sagurung. Darah yang keluar dari paruk ayam ditempelkan pada salah satu bagian wajah pendamping dan pengantin. Tanda ini disebut gombiat.

Setelah selesai, gajauma dibunyikan oleh penabuh gajeumak. Dengan iringan gajeumak, pendamping dan pengantin berjalan diatas papan dengan menginjitkan menuju teras rumah. Dibagian teras rumah sudah siap menyambut pihak keluarga pengantin laki-laki.

"Tidak tahu lagi apakah ini masih akan berjalan ketika saya akan pergi, " kata Taleku pada mentawaikita.com.

Dikatakan Taleku, Pakilia ini tidak dilakukan di suku lain karena tidak ada lagi yang bisa mengucapkan sumpahnya.

"Memang untuk prosesnya banyak yang tahu, tapi sukat ini banyak yang tidak tahu, " katanya.

  • Pin it
Komentar