Harmonisasi Dunia Roh dan Manusia dalam Budaya Mentawai

22-02-2018 10:15 WIB | Budaya Mentawai | Reporter: Gerson Merari Saleleubaja | Editor: Zulfikar
Harmonisasi Dunia Roh dan Manusia dalam Budaya Mentawai

Rangkaian upacara Lia Bubuk Uma di Uma suku Sabulukungan, Dusun Puro II, Desa Muntei, Kecamatan Siberut Selatan (Foto: Zulfikar)

Sore itu sekira pukul 16.00 WIB pada hari Sabtu, 25 November 2017, Daniel Toggilat Sabulukkungan dengan penuh wibawa memberikan aba-aba kepada kaum laki-laki di dalam umanya (suku). Dengan tenang ia membagi tugas kepada mereka untuk menyiapkan kebutuhan untuk lia bubuk uma (pesta bubungan uma).

Kaum laki-laki dalam kaumnya itu diperintahkan menyiapkan makanan untuk kebutuhan lia seperti sagu, sebagian lagi diantara mereka diperintahkan untuk melakukan penjemputan babi untuk dikumpulkan di uma.

Kemudian sekira 10 orang ia perintahkan untuk mencari dahan tobat leleu (sejenis tanaman duri) yang tumbuh di hutan. Kepada mereka ia berpesan untuk mengambil daun yang bagus sebab daun itu akan digunakan untuk bubungan uma mengganti bubungan lama yang telah rusak.

Tak lupa ia berpesan kepada mereka untuk membuat sabbau (kayu penahan bubungan) dari kayu lolosit di hutan. Pemilihan kayu untuk menahan bubungan agar tidak diterbangkan angin ini tidak boleh sembarangan, harus dari kayu yang keras, tahan air dan memiliki berat yang cukup untuk menekan bubungan. Jenis pohon ini hanya ditemukan di hutan sebab di sana tempat tumbuh dan berkembangnya kayu tersebut. Jarang orang Mentawai menanamnya. Sabbau ini dibuat sedemikian rupa agar dapat dipasang berbentuk silang tanpa dipaku, hanya dikaitkan antara satu dengan yang lainnya yang kira-kira berukuran 1 meter.

Setelah membagi tugas kepada kaum laki-laki yang terdiri dari anggota umanya, menantu, cucu dan iparnya, Tonggilat kemudian masuk dapur. Di sana ia membagi tugas kepada kaum perempuan untuk mengambil gettek (talas) di ladang masing-masing untuk dikumpulkan ke uma. Sebagian lagi diberikan tugas mengambil pisang dan menyediakan bambu-bambu besar dan yang berukuran sedang. Bambu besar digunakan untuk memasak keladi atau talas dan juga memasak daging babi yang akan dipotong ketika lia dimulai. Sementara bambu yang berukuran kecil yang dikenal dengan uman sagu digunakan untuk tempat memasak sagu. Ibu-ibu yang bergerak lebih leluasa diberi tugas mengambil daun sagu untuk memasak kapurut (sagu yang dimasak di daun sagu).

Semua yang diberikan tugas kemudian segera bergerak menjalankan tugas masing-masing. Pembagian tugas itu telah mereka bahas dalam musyawarah uma pada hari sebelumnya. Lia Bubuk Uma merupakan acara ritual untuk menyucikan uma yang habis direhabilitasi karena bubungannya rusak. Lia jenis ini termasuk sangat besar dalam tradisi Mentawai sebab akan melibatkan banyak pihak, baik dari kaum suku itu sendiri maupun menantu, ipar dan cucu-cucu suku itu.

Kerabat yang diundang dari suku lain ini disebut sinuruk. Sinuruk ini kerjanya membantu anggota suku menyiapkan segala sesuatu dengan cara bergotong royong. Meski tidak digaji, namun sinuruk tetap bekerja seperti yang dikerjakan anggota uma. Sikebbukat Uma harus menyediakan makanan dan minuman untuk mereka, ditambah dengan rokok untuk dinikmati bersama. Sinuruk yang diundang dalam lia tersebut berjumlah sekira 60 orang kaum laki-laki belum termasuk perempuan dan para keponakan Suku Sabulukkungan yang juga turut membantu.

Setelah pembagian tugas itu ia kemudian duduk tenang di salah satu sudut uma bagian depan, tak ada minuman seperti kopi atau teh di hadapannya. Bahkan air putih dan sagu yang biasanya dimakan di uma tak terlihat disajikan oleh kaum perempuan di uma itu meski Daniel Toggilat adalah Sikebbukat Uma (kepala suku) di dalam Malinggai Uma—nama uma yang mereka pakai.

Ia hanya duduk tenang, tak kunjung memberi perintah kepada kaum perempuan menyediakan makan dan minuman untuk dirinya. Daniel saat itu memang sedang mukeikei (berpantang) tak boleh makan dan minum sebelum waktu yang ditentukan.

"Saya tak boleh makan atau minum, saya harus berpuasa agar menjaga berjalannya lia lancar, semua anggota uma selamat tidak ada yang kena parang atau kayu saat bekerja," kata Daniel.

Ia menyebutkan pantang itu dimulai sejak subuh dan baru dapat makan pada malam harinya setelah seluruh aktivitas berat seluruh anggota uma berhenti. Selain makan dan minum, ia juga tidak boleh memakan makanan yang asam dan pedas. Ia juga tak boleh mengunyah makanan sambil jalan. Ia juga tak boleh mencuci tangan dengan air atau bersentuhan dengan air agar tidak turun hujan, itulah ajaran dalam arat sabulungan yang menjadi kepercayaan dan dapat dikatakan sebagai agama yang diajarkan leluhurnya.

Di kepala Daniel Toggilat terikat luat (ikat kepala) yang diberi ornamen manik-manik, sementara di depannya disematkan daun ailelepet dan bekeu (bunga raya). Daniel saat itu hanya mengenakan kabit (cawat) sementara di lehernya melingkar seikat ngalou (kalung) dari manik-manik.

Meski Daniel sendiri telah dibabtis menjadi Katolik sekira 1960-an namun arat sabulungan tak pernah ditinggalkannya. Menurut pria kelahiran 1 Maret 1947 ini kepercayaan itu terus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari sejalan dengan ia menjalankan agama Katolik yang telah dianutnya.

Lia bubuk uma kata Daniel merupakan ritual yang harus mereka lakukan sebab dalam kepercayaannya semua bahan uma yang diambil di hutan seperti kayu, daun dan kebutuhan lainnya memiliki jiwa. Jiwa-jiwa dan roh-roh pemilik kayu dan hutan itu terkadang tidak berkesesuaian dengan jiwa-jiwa yang dimiliki oleh dirinya dan para anggota suku. Agar tidak terjadi pertentangan jiwa tersebut maka untuk menetralisirnya mesti diadakan ritual untuk mengharmonisasikan antara jiwa pohon-pohon dan penghuni uma.

Bagi Suku Mentawai, hutan bukan hanya wadah mendapatkan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti makanan, bahan bangunan tetapi menjadi sumber inspirasi spritual dalam kehidupan sehari-hari. Suku Mentawai meyakini hutan dijaga oleh roh-roh, baik yang baik maupun yang jahat. Sehingga apapun yang diambil di hutan harus meminta izin kepada penghuni di tempat itu agar mereka tidak mendapatkan murka dan penyakit.

Sabtu itu persiapan sudah selesai dilakukan, hari mulai gelap seluruh penghuni uma kemudian berkumpul untuk bersantap malam. Sekira pukul 19.00 WIB para Sikerei—orang yang memiliki kemampuan berkomunikasi dengan jiwa-jiwa dan roh serta mempunyai keahlian mengobati. Sikerei yang diundang sebanyak 5 orang, kemudian mereka memasuki uma Sabulukkungan.

Mereka berpakaian seperti Daniel Toggilat, di bahu masing-masing menjinjing baklu (sejenis tas terbuat dari pelepah sagu). Baklu tersebut berisi peralatan kerei ketika melakukan ritual. Sikerei ini berfungsi sebagai penghubung antara alam manusia dan alam roh. Mereka juga akan melakukan ritual pembersihan uma untuk mengusir roh jahat seperti yang diperintahkan Sikebbukat Uma. Mereka sekaligus mempersiapkan berbagai daun untuk obat dan magri (penyucian diri dan uma). Magri ini ada dua macam, yakni magri simaeruk dan magri sikatai.

Setelah pagi, Minggu, 26 November, seluruh anggota suku berkumpul, bahan bubuk yang telah dikumpulkan di hutan kemudian mulai diangkat satu per satu. Dengan menaiki jenjang, bubuk itu kemudian mereka naikkan di atas atap rumah. Bubuk dari tobat leleu itu terdiri dari 15 lapis tiap ikatan yang berukuran panjang sekitar 2 meter.

Sebagian dari penghuni uma berdiri di atas bubungan uma menarik bubungan uma. Satu per satu bubungan uma tersebut disusun sedemikian rupa. Setelah terpasang pada posisinya, kemudian bubungan uma tersebut ditindih dengan sabbau yang berfungsi sebagai penahan agar tidak diterbangkan angin. Sekitar dua jam pemasangan bubuk yang dilakukan sekira 10 orang laki-laki itu selesai.

Mereka kemudian beristirahat pada siang harinya sekira pukul 13.00 WIB, di dalam uma, Daniel yang bersiap bersantap. Makan siang yang dilakukan Daniel sebagai tanda bahwa acara ritual pemasangan bubuk pada tahap pertama telah selesai.

Ibu-ibu kemudian menyiapkan makanan untuk Sikebbukat Uma, pria berusia 70 tahun ini berupa sagu dan ikan. Sebelum Daniel bersantap ia mengambil secuil sagu dan ikan kemudian dia berikan kepada bakkat katsaila atau bakkat buluat (tempat persembahan) yang digantung di dinding uma pada bagian dapur. Bakkat buluat itu terdiri dari berbagai macam daun yang dipetik di hutan yang diletakkan di dalam bambu besar, di sampingnya menggantung tiga buang gong. Di sana ia membaca mantera kepada leluhur mereka. Setelah itu ia bersantap, ia tak mencuci tangan saat makan maupun setelahnya.

Di bagian luar pelataran uma, anggota uma telah bersiap menunggu giliran makan, mereka belum boleh makan sebelum sikebbukat uma selesai makan.

Mengambil Daun Pameruk

Sorenya, sikerei yang terdiri dari lima orang yakni Aman Boroi Ogok Sakaliou dari Madobag, Teu Legei Kunen Satoleuru, Pangarita atau Aman Promosi Sabaggalet, Aman Keineng Kunen Saruruk dan Tarek Sagulu berangkat ke hutan mencari dedauan yang dibutuhkan untuk pameruk uma (penyucian uma). Jarak hutan dengan uma itu sekitar 100 meter. Masing-masing sikerei sudah punya tugas mengambil daun apa saja untuk pameruk uma.

Mereka menyusuri tiap sudut hutan untuk mencari daun, ada dua macam kelompok daun yang harus mereka ambil di hutan yakni untuk magri simaeruk dan magri sikataik.

Magri simaeruk adalah bagian dari ritual penyucian badan uma dan diri anggota uma serta menjaga keselamatan uma yang menggunakan air dalam bambu yang diberikan bunga pada bagian penutupnya yang telah didoakan kepada saukkui (leluhur dan para roh yang baik) yang biasanya disebut dengan istilah nenenei.Nenenei ini menggunakan air yang diambil dari bambu kemudian digabungkan dengan beberapa dedaunan.

Selain magri simaeruk, juga dipersiapkan magri sikatai, berupa daun-daun yang diambi dari hutan yang berguna mengusir roh dan jiwa-jiwa yang jahat yang bersemayam di dalam uma dan diri anggota uma itu. Air untuk mengusir roh jahat ini digunakan dengan cara dicipratkan melalui daun yang dicelupkan di air disebut sosoisoi. Air sosoisoi ini diambil dari air yang menempel di daun dan sebagian diambil dari air kali yang dicampur dengan tumbuhan hutan tertentu yang menghasilkan air berwarna keruh yang dinamai simalimok..

Magri sikatai yang berfungsi mengusir roh jahat yang masuk ke uma karena pemakaian kayu atau daun dari hutan untuk bahan uma terdiri dari daun tapot sala, siklu, osap, engeu, tatak baga, kekle dan tepa.

Sementara daun untuk magri simaeruk atau untuk mendatangkan kebaikan berupa mumunen, ailelepet, soga, taggekdan duruk diramu dengan air bersih dari batang bambu (pulelek ) yang bersih (simalatcat).

Setelah mengumpulkan daun, sikerei itu kemudian membersihkan diri pada sebuah kali bersih, ini sebagai bentuk penyucian diri mereka sebelum upacara ritual pada malam harinya dimulai.

Setelah sampai di uma para Sikerei ini membagi daun sedemikian rupa dan diletakkan pada bagian atas uma agar tidak diganggu atau dilangkahi.

Aman Boroi Ogok, salah satu sikerei yang berusia sekitar 58 tahun ini mengatakan, daun-daun pameruk uma ini harus lengkap, karena jika kurang akan mengurangi kekuatan magis saat dipergunakan. Meski jauh, lanjut dia sambil menghisap sebatang rokok lenting yang dibungkus dengan daun pisang, mereka harus mendapatkannya.

"Meski jauh harus kami cari, seberapapun jauhnya itu, makanya kami jaga hutan kami tetap baik agar dedauanan itu gampang didapat," jelasnya.

Ketika hutan dirusak apalagi diambi oleh perusahaan kayu, mereka yang berprofesi sikerei pihak pertama yang akan merasakan dampaknya sebab tanaman yang mereka gunakan untuk pengobatan atau pengusiran roh jahat tumbuh liar di dalam hutan.

Aman Boroi Ogok menyebutkan, tanaman dan dedaunan yang mereka butuhkan bukan tidak dapat ditanam di pekarangan rumah namun permasalahannya dedaunan itu akan cepat habis. Kemudian ada beberapa tumbuhan yang tidak cocok dengan iklim di pekarangan rumah yang terbuka. Setelah bercerita kemudian ia masuk ke dalam uma bergabung dengan rekan-rekannya yang sedang memilih daun-daun yang mereka kumpulkan dari hutan.

Sementara Sikebbukat Uma pada sore harinya berdiri di depan panangga yang terbuat dari bambu yang diberikan daun dan kain merah dan putih serta tanaman pelekak yang telah digurat-gurat. Di hadapan panangga, mulut Daniel komat-kamit merapal mantra, setelah itu ia berseru kepada seluruh roh leluhur mereka dan roh-roh lain yang berada di sekitar uma meminta izin bahwa lia bubuk uma akan dimulai pada malam hari.

"Saya harus memohon restu kepada mereka (leluhur) dan penghuni daerah ini akan memulai acara ritual supaya kami tidak diganggu, supaya mereka tidak tersinggung merasa tidak dilibatkan" ujar Daniel menjelaskan apa yang baru ia lakukan.

Pasibitbit Uma

Tiba malam hari, Sikerei kemudian menyiapkan semua peralatan kereinya, sebelum mereka memulai acara pengusiran masing-masing anggota uma disematkan daun aileppet atau ailelepet di kalung dengan merapal mantra, "aileppetda satogaku, sia lek maleppet tubu," (aileppet anak-anakku, menjadikan badan mereka adem dan sehat).

Beberapa daun untuk magri simaeruk diletakkan di atas kayu seggeijet atau paran kayu bagian depan pintu masuk ke uma.

Setelah itu ritual memanggil para roh kerei atau dikenal dengan istilah saukkui untuk menunjukkan cara melakukan pengusiran dan memberi kekuatan kepada mereka untuk menjalankannya.

Saukkui tersebut dipanggil dengan media nyanyian yang dilantunkan sikerei dan rapalan mantrayang diiringi dengan suara lonceng kecil yang digerakkan di tangan. Nyanyian sikerei ini sulit diartikan sebab bahasa itu keluar saat sikerei melakukan pembicaraan dengan saukkui atau dikenal dengan bahasa roh.

Mereka meyakini saukkui bersemayam pada empat tempat yakni Bojei Leleu yakni daerah bukit yang ada di Puro, Desa Muara Siberut,Siberut Selatan. Kemudian Matoro, tepatnya di Tiop yang terletak berhadapan dengan Bojei Leleu, kemudian Masoine berlokasi di depan sungai Muara Siberut yang berdekat dengan Tanjung Sikabei. Kemudian Tibbalet, di dekat batu tonggak, Sipora Utara.

Setelah memohon petunjuk, kemudian sikerei melakukan pengusiran roh jahat yang merasuki bakkat buluat atau bakkat katsaila. Roh jahat itu menurut Pangarita Sabaggalet atau lebih akrab dipanggil Promosi (52) mengatakan, masuk ke bakkat buluat melalui media kayu-kayu dan bahan lain dari hutan yang terbawa tanpa sengaja masuk uma.

"Itu harus diusir dan dibuang jika tidak ia akan dominan dan menyebabkan penyakit dan bala kepada seisi anggota uma, atau kepada Sikebbukat Uma, roh itu paling jahat," tuturnya.

Menurut pandangan kereinya (indera yang dapat melihat roh), roh jahat yang menguasai bakkatkatsaila itu sangat mengerikan, roh itu kuat dan berbahaya. Mereka menyebut roh itu Sipittok.

Sikerei yang bersiap mengusir sipittok kemudian membuat formasi mengepung di dalam uma tepatnya di dapur, mereka mengelilingi bakkat buluat yang digantung di dinding. Daun tepa, siklu, tatak baga, kekle dan osap yang diikat dalam satu untaian dikibas-kibaskan, sambil menari-nari sikerei tersebut berputar mengibaskan dari sudut terkadang ke arah atas.

Tepa sendiri berarti tampar, kekle berarti tolak, siklu berarti menyikut dengan keras, tatak baga berarti tidak berisi sementara osap merupakan tumbuhan yang dilambangkan mengurung, ini merupakan simbol pengusiran yang diyakini bisa menaklukkan roh jahat.

Sipittok jahat ini, kata Promosi bisa berubah-ubah wujud dan meloncat ke atas sehingga mereka harus melakukan formasi mengelilingi untuk mengepung roh ini. Namun saking kuatnya beberapa sikerei terlempar ke luar dari dapur hingga ruang tengah uma. Aman Promosi sendiri hampir terlempar ke dalam abut uma—merupakan perapian yang terletak di tengah uma di yang sedang digunakan memanaskan gajeumak.

Ia kesurupan karena tak bisa menahan serangan balik sipittok, beberapa anggota uma secepatnya menyambar tubuh Aman Promosi agar tidak masuk perapian. Ketika itu Aman Promosi tidak sadarkan diri karena terpengaruh bajou sipittok—(bajou merupakan kekuatan magis) atau disebut dengan igobok (dalam kondisi kesurupan).

Aman Keineng Kunen Saruruk, sikerei senior yang memiliki tingkatan ilmu yang lebih tinggi segera menyadarkan Aman Promosi. Aman Keineng, Sikerei yang berusia sekitar 67 tahun itu memberikan ramuan kerei di hidung Aman Promosi. Setelah itu mereka kembali melakukan pengusiran, kini giliran Stefanus Teu Sanang, sikerei berusia sekira 57 tahun itu terlempar yang segera ditangkap anggota uma yang sudah bersiap. Setelah Teu Sanang kini giliran Aman Boroi Ogok yang ikut terlempar.

Teu Sanang bercerita pengusiran sipittok sangat payah, saat kena gobok, tubuh terasa kaku dan seakan tersengat suatu kekuatan magis yang membuat dirinya terlempar. "Seketika saja tubuh terlempar tanpa dapat dikontrol," katanya.

Setelah sipittok berhasil ditundukkan menggunakan api dan diusir barulah mereka melanjutkan pasibitbit uma dengan menggunakan daun yang sama.

Tanpa menunggu komando mereka mengambil daun-daun yang pertama untuk magri sikatai. Sambil merapal mantra daun-daun itu dikibaskan yang dimulai dari belakang uma dan berakhir di depan uma menyerupai gerakan orang mengipas. Anggota uma yang berjumlah sekitar ratusan itu telah berkumpul. Ritual ini adalah ritual pembersihan atau penyucian uma, daun yang dikibaskan sebagai lambang mengusir bajou sikataik (roh jahat) yang bersemayam di dalam uma untuk keluar.

Dengan langkah tegap Aman Promosi kemudian mengibaskan daun sambil merapal mantra, " soisoi mai satogaku sipangunyaina, simalimok, bara simakatai nganga, bara sipuailiggou, ai pangonyaiat sia, aipa limok at matadda simakatai nganga, (ini percikan air untuk anak-anakku untuk mengusir seluruh roh jahat dari air keruh, jika ada yang berniat jahat, jika ada yang menghantui mereka, mata orang yang berbuat jahat kepada mereka sudah kabur karena telah terkena air keruh), " bersamaan dengan rapalan mantra tersebut, percikan air dari daun yang diikat tersebut mengenai seluruh anggota uma.

Beberapa daun yang dipakai pasibitbit disematkan pada bagian kasau atap uma bagian depan yang terbuat dari daun sagu.

Lajo Simagre

Setelah beristirahat sekira l5 menit, sikerei itu kemudian menyiapkan diri sambil menyanyi dalam bahasa roh yang sulit diartikan oleh orang awam. Sementara anggota uma sebanyak tiga orang telah mengambil posisi di salah satu sudut ruangan. Mereka menabuh gajeumak (gendang Mentawai) dengan tiga tingkatan nada. Suara pertama nada bas, kemudian nada dua dan nada tiga yang dikenal dengan sinnai yang bunyinya melengking. Kadang untuk menghasilkan suara sinnai mereka menggunakan botol yang dipukul yang menyelaraskan bunyi lain. Patokan bunyi gajeumak diambil dari sinnai, jika penabuhan nada sinnai mulai cepat maka suara lain harus mengikuti.

Bersamaan penabuhan gajeumak tersebut, keenam sikerei kemudian berdiri dan membentuk formasi melingkar di tengah uma, selang beberapa detik kemudian mereka menari berputar dengan menghentakkan kaki ke lantai yang terbuat dari kayu tersebut.

Ritual ini disebut dengan mulajo, secara harfiah ritual itu ini berarti berlayar namun itu hanya bahasa kias yang dipakai untuk memanggil seluruh simagre atau jiwa-jiwa anggota uma untuk berkumpul di uma agar mereka menempati raganya masing-masing ketika lia bubuk uma dimulai keesokan harinya.

Nyanyian sikerei saat mulajo merupakan bentuk percakapan dalam mencari simagre yang pergi mengembara ke beberapa tempat. Mereka menanyakan kepada beberapa roh penguasa beberapa tempat di mana simagre anggota uma pergi. Menurut kepercayaan Sabulungan Mentawai, simagre atau jiwa terkadang mengembara ke beberapa tempat.

Dengan kekuatan magik yang dimiliki, roh sikerei segera melakukan pencarian.

Pencarian kemudian dimulai pada tempat pertama kepada saukkui Tibbalet, daerah dekat batu Tongga, Tuapeijat, Sipora Utara namun penghuni di sana menyampaikan bahwa simagre itu tidak ada di tempat tersebut. Kemudian pencarian dilanjutkan ke daerah Sirourogi di daerah Taileleu. Di sana mereka juga tak ada, perjalanan berlanjut ke daerah Matat Monga (depan Muara Siberut) yang dikenal dengan nama Masoine.

Masoine secara harfiah merupakan daerah terakhir jatuhnya sinar matahari sebelum menemui malam. Mereka juga tidak ditemukan di sana, pencarian lanjut ke Tirit Oinan atau daerah bagian hulu juga tidak ada, penghuni di sana menyarankan mencari mereka di Tak Orat (kuburan), ternyata mereka juga tidak ditemukan di sana.

Di Tak Orat, sikerei berkomunikasi dan meminta tolong untuk memberitahu di mana simagre ini pergi, penghuni Tak Orat mengatakan bahwa, "carilah mereka kaleuru sosoroatnu (di hilir pelabuhan sampanmu," ujarnya.

Di Kaleuru Sosoroat ternyata simagre berada di sana, sikerei melakukan diplomasi dengan penguasa daerah itu agar mereka tidak menahan simagre yang tinggal di sana. Mereka berkata bahwa mereka hanya sikerei sibaleakek (sikerei pinjaman) yang disuruh menjemput simagre untuk pulang.

Setelah berdiplomasi maka penghuni Kaleuru Sosoroat berjanji mengantarkan simagre itu ke uma, sebagai bayarannya maka di uma dipasangi panakiat, yang berisi daun dan diberi secuil ikan atau telur. Selain itu di tali digantung beberapa kain, kalung dan beberapa barang lain sebagai upah bagi sipengantar simagre.

"Secara mata manusia awam, memang mereka tidak nampak mengambilnya, namun bagi kami itu jelas diambil," kata Teu Sanang.

Saat ritual pemanggilan simagre, beberapa sikerei kesurupan sebab ada tarik menarik dengan beberapa roh yang menguasai simagre. Selain itu ada beberapa simagre yang liar, biasanya ini adalah jiwa anak-anak yang sulit dipanggil. Prosesi ini bisa menghabiskan waktu 1 jam lebih.

Simagre yang datang kemudian ditampung dalam sebuah piring yang diberi bunga dan makanan serta telur ayam. Media ini sebagai pemancing simagre datang karena disediakan hidangan. Jika piring tersebut penuh maka akan ditampungkan pada panakiat. Panakiat ini sendiri berarti tempat membeli. Jika simagre itu membandel datang maka panakiat dicabut dan dijadikan langsung wadah pemanggil simagre dengan cara dibawa menari oleh salah satu sikerei.

Menurut Teu Legei Kunen Satoleuru, bentuk simagre saat menaiki jenjang uma seperti manusia biasa pemilik simagre itu, namun mendekati tempat pemanggilan simagre berubah menjadi semacam sinar kecil masuk ke piring tempat masitinok simagre (penampungan simagre). Selain simagre anggota uma yang masih hidup, simagre anggota uma yang telah meninggal pun datang. Mereka terlihat lebih segar dan awet muda meski telah meninggal.

Jika simagre anggota uma yang melakukan lia sudah lengkap, barulah dibagikan satu per satu dengan cara di dekatkan di kepala masing-masing dengan diiringi nyanyian kerei dan bunyi lonceng kecil.

Simagre sudah menempati raga masing-masing, malam telah larut, sikerei dan peserta lia sudah kecapaian. Jam telah menunjukkan pukul 04.00 WIB. Teu Lakka Manai Sabulukkungan, sikerei senior yang menjadi penasihat spritual uma Sabukkungan memberi komando untuk beristirahat memulihkan stamina menyambut lia sabeu atau lia inti yakni lia bubuk uma. Daniel Toggilat mengangguk menerima saran dari Teu Lakka. Semua anggota uma pun bubar, beberapa diantaranya memilih tidur di dalam uma.

Lia Bubuk Uma

Ngong (gong) dipukul bertalu-talu, gajeumak yang ditabuh turut mengiringi suara gong, pada bakkat katsaila Teu Sanang menghentak-hentakkan kakinya sambil memukul gong yang dibantu dengan anggota uma lainnya, hari itu Senin, 27 November sekira pukul 08.00 WIB. Tak jauh dari Teu Sanang, Daniel Toggilat khusuk merapal mantra tanda lia bubuk uma akan dimulai.

Kemudian ia mengambil janur dari enau, daun ini disebut katsaila yang dipercaya menghalangi malapetaka kepada sipemakainya. Janur enau itu kemudian dibuka satu-per satu kemudian diikatkan pada kalung yang dipakai oleh setiap anggota uma sambil merapalkan mantra keselamatan dan dijauhkan dari bencana.

Lia bubuk uma adalah upacara ritual menyucikan uma karena bubungan uma baru diganti. Lia ini bertujuan menyelaraskan dan menetralisir semua energi asing atau luar yang datang dari bubungan baru yang dipasang dan kegiatan lain agar tidak menyakiti anggota uma. Lia ini juga sebagai upacara penghormatan kepada leluhur karena mereka telah dijaga. Lia ini sengaja digelar sebagai bentuk rasa terima kasih kepada roh penguasa hutan, anggota uma berharap mendapat berkat sebab bahan rehabilitasi uma diambil dari hutan.

Selain itu, ini juga penghormatan kepada roh terkuat dan penguasa jagat raya yang telah menangungi dan menyertai mereka hingga uma mereka selesai diperbaiki. Roh penguasa tertinggi ini dikenal Ulau Manua.Ulau Manua dalam konsep kepercayaan tradisional Mentawai merupakan roh yang melayang-layang di udara, langit hingga ke dalam bumi. Meski Arat Sabulungan menghormati berbagai roh di dalam bumi, roh penguasa air, roh penguasa hutan dan lain-lain, namun posisi ulau manua merupakan roh penguasa tertinggi yang tak bisa digapai. Roh itu hanya bisa dirasakan dengan indera yang tak biasa.

Secara leksikal ulau manua berasal dari kata ulau dan manua. Ulau yang dapat berarti di luar dan tak terhingga, sementara kata manua dapat berarti langit atau tempat yang paling tertinggi. Sehingga jika kedua kata tersebut disatukan akan memberi arti bahwa ulau manua menjadi konsep penguasa semesta yang paling tinggi dan memiliki kekuasaan yang tak terhingga.

Setelah pemasangan katsaila, seluruh sikerei berkumpul di tengah uma, seekor babi besar diletakkan di hadapan mereka. Babi yang masih hidup itu diletakkan di bawah eruket. Eruket merupakan janur enau yang dibuang lidinya kemudian di gantung di antara dua tonggak uma. Pada beberapa daun janur tersebut diikatkan beberapa benda seperti kain, tairosik (lonteng kecil yang biasa dipakai pada anak-anak) dan beberapa ngalou.

Ritual ini merupakan kegiatan pameruk yakni membuat semacam obat penyembuh dan penangkal santet yang lebih sering dinamakan nenenei. Nenenei ini diletakkan dalam wadah sebuah bambu yang diisi beberapa daun dari hutan. Di atas penutupnya diletakkan beberapa bunga.

Babi yang diletakkan di bawah eruket ini sebagai upah kepada roh yang baik untuk memberikan kekuatan nenenei agar berkhasiat. Selain itu, babi hidup tersebut sebagai bekal kepada roh yang menguasai uma yang tidak sesuai agar mereka segera pulang.

Setelah ritual itu selesai dilanjutkan dengan lia gougou (lia ayam) yakni ritual mempersembahan ayam kepada leluhur yang bertujuan mememinta kedamaian dan kemakmuran uma. Ayam ini pertama kali dipersembahkan sikebbukat uma kepada bakkat katsaila kemudian setelah mengucapkan mantra, ayam tersebut diusap-usapkan kepada bagian dada seluruh anggota uma. Bagian ayam yang diusapkan kepada anggota uma yakni ekor ayam, ini sebagai simbol bahwa semua hal buruk telah tinggal jauh di belakang dan tak akan mendekati anggota uma.

Setelah prosesi itu, ayam tersebut kemudian dipotong untuk santapan lia, bersamaan dengan itu, babi yang berjumlah 5 ekor sekira berat 50 kilogram dipotong. Sebelum dipotong, sikerei membacakan beberapa mantra pada bagian leher babi dengan melekatkan beberapa daun. Tujuan dari ritual yang dilakukan pada babi ini yakni agar babi tersebut meski telah dipotong tetapi diminta kepada roh penjaga babi untuk tidak membinasakan babi itu melainkan menambah jumlah babi tersebut.

Kemudian babi dipotong beberapa bagian daging babi diambil khusus santapan sikebbukat uma, bagian daging ini dianggap sebagai makanan jimat. Biasanya diambil pada bagian kanan dan memiliki daging yang besar.

Potongan daging ayam dan babi yang telah selesai kemudian didoakan sikerei, mereka duduk jongkok mengelilingi daging yang telah dipotong kecil-kecil sambil berkomunikasi melalui bahasa roh dalam bentuk nyanyian. Ritual ini merupakan doa pelepasan seluruh roh yang dipanggil pada saat acara ritual pertama kali dimulai. Saat roh berangkat seluruh tangan sikerei terangkat setengah badan mengarah di tempat daging tersebut. Ini menjadi cara para sikerei memberikan salam pelepasan roh untuk pergi.

Dalam kaca mata sikerei, seluruh daging tersebut telah dibawa secara utuh oleh para roh-roh secara tidak kasatmata. "Sebenarnya tidak ada lagi yang tersisa," jelas Teu Legei Kunen.

Setelah ritual pelepasan itu, seluruh daging itu kemudian dibagikan kepada setiap anggota uma—jatah daging ini disebut otcai yang beralaskan daun pisang dan pelepah batang pisang. Otcai itu kemudian dibawa ke rumah masing-masing anggota uma. Sebagian lagi disisakan untuk dimasak di dalam uma sebagai makanan untuk santap bersama.

Malamnya, seluruh anggota uma bersantap bersama sambil bergembira, Sikerei yang membantu ritual sebagian telah pergi. Sikerei yang pergi setelah pembagian otcai adalah sikerei yang memiliki rumah yang dekat, sementara yang jauh masih menginap di uma dan baru berangkat keesokan harinya.

Paginya, anggota uma pergi muera (berburu) binatang di hutan, muera ini merupakan ritual penutupan secara resmi acara lia bubuk uma. Muera ini harus dilakukan, ada atau tidak binatang yang diburu ritual ini harus dilakukan.

Kebetulan saat itu, Suku Sabulukkungan tidak mendapat apa-apa, selanjutnya keesokan harinya sikebbukat uma sekeluarga mengasingkan diri ke hutan atau dikenal dengan istilah masibujuk. Masibujuk ini untuk memberi kesempatan kepada uma untuk hening. Setelah itu ia kembali dan melanjutkan melakukan ritual pasibulu jurutet (persembahan makanan). Ritual ini sebagai penanda bahwa seluruh anggota uma telah dipersilahkan melakukan kegiatan rutinnya seperti berladang atau kegiatan lainnya.

Sebagai penutupan mereka harus melakukan kegiatan menyagu sebagai penutup ritual, namun mereka tidak boleh membuat sampan selama satu tahun karena itu sangat pantang bagi orang Mentawai. Membuat sampan dengan model isi sampan yang terbuka merupakan simbol kematian.

Siang berganti sore, kesunyian menghampiri Malinggai Uma setelah ditinggal anggota uma yang mulai beraktivitas di ladang masing-masing. Tinggal Daniel Toggilat yang tersisa di uma sebab ia tinggal di uma tersebut. Beberapa keluarga intinya juga berada di sana bersiap bersantap malam bersama.***

  • Pin it
Komentar