Harmonisasi Dunia Roh dan Manusia dalam Budaya Mentawai

22-02-2018 10:15 WIB | Budaya Mentawai | Reporter: Gerson Merari Saleleubaja | Editor: Zulfikar
Harmonisasi Dunia Roh dan Manusia dalam Budaya Mentawai

Rangkaian upacara Lia Bubuk Uma di Uma suku Sabulukungan, Dusun Puro II, Desa Muntei, Kecamatan Siberut Selatan (Foto: Zulfikar)

Sore itu sekira pukul 16.00 WIB pada hari Sabtu, 25 November 2017, Daniel Toggilat Sabulukkungan dengan penuh wibawa memberikan aba-aba kepada kaum laki-laki di dalam umanya (suku). Dengan tenang ia membagi tugas kepada mereka untuk menyiapkan kebutuhan untuk lia bubuk uma (pesta bubungan uma).

Kaum laki-laki dalam kaumnya itu diperintahkan menyiapkan makanan untuk kebutuhan lia seperti sagu, sebagian lagi diantara mereka diperintahkan untuk melakukan penjemputan babi untuk dikumpulkan di uma.

Kemudian sekira 10 orang ia perintahkan untuk mencari dahan tobat leleu (sejenis tanaman duri) yang tumbuh di hutan. Kepada mereka ia berpesan untuk mengambil daun yang bagus sebab daun itu akan digunakan untuk bubungan uma mengganti bubungan lama yang telah rusak.

Tak lupa ia berpesan kepada mereka untuk membuat sabbau (kayu penahan bubungan) dari kayu lolosit di hutan. Pemilihan kayu untuk menahan bubungan agar tidak diterbangkan angin ini tidak boleh sembarangan, harus dari kayu yang keras, tahan air dan memiliki berat yang cukup untuk menekan bubungan. Jenis pohon ini hanya ditemukan di hutan sebab di sana tempat tumbuh dan berkembangnya kayu tersebut. Jarang orang Mentawai menanamnya. Sabbau ini dibuat sedemikian rupa agar dapat dipasang berbentuk silang tanpa dipaku, hanya dikaitkan antara satu dengan yang lainnya yang kira-kira berukuran 1 meter.

Setelah membagi tugas kepada kaum laki-laki yang terdiri dari anggota uma-nya, menantu, cucu dan iparnya, Tonggilat kemudian masuk dapur. Di sana ia membagi tugas kepada kaum perempuan untuk mengambil gettek (talas) di ladang masing-masing untuk dikumpulkan ke uma. Sebagian lagi diberikan tugas mengambil pisang dan menyediakan bambu-bambu besar dan yang berukuran sedang. Bambu besar digunakan untuk memasak keladi atau talas dan juga memasak daging babi yang akan dipotong ketika lia dimulai. Sementara bambu yang berukuran kecil yang dikenal dengan uman sagu digunakan untuk tempat memasak sagu. Ibu-ibu yang bergerak lebih leluasa diberi tugas mengambil daun sagu untuk memasak kapurut (sagu yang dimasak di daun sagu).

Semua yang diberikan tugas kemudian segera bergerak menjalankan tugas masing-masing. Pembagian tugas itu telah mereka bahas dalam musyawarah uma pada hari sebelumnya. Lia Bubuk Uma merupakan acara ritual untuk menyucikan uma yang habis direhabilitasi karena bubungannya rusak. Lia jenis ini termasuk sangat besar dalam tradisi Mentawai sebab akan melibatkan banyak pihak, baik dari kaum suku itu sendiri maupun menantu, ipar dan cucu-cucu suku itu.

Kerabat yang diundang dari suku lain ini disebut sinuruk. Sinuruk ini kerjanya membantu anggota suku menyiapkan segala sesuatu dengan cara bergotong royong. Meski tidak digaji, namun sinuruk tetap bekerja seperti yang dikerjakan anggota uma. Sikebbukat Uma harus menyediakan makanan dan minuman untuk mereka, ditambah dengan rokok untuk dinikmati bersama. Sinuruk yang diundang dalam lia tersebut berjumlah sekira 60 orang kaum laki-laki belum termasuk perempuan dan para keponakan Suku Sabulukkungan yang juga turut membantu.

Setelah pembagian tugas itu ia kemudian duduk tenang di salah satu sudut uma bagian depan, tak ada minuman seperti kopi atau teh di hadapannya. Bahkan air putih dan sagu yang biasanya dimakan di uma tak terlihat disajikan oleh kaum perempuan di uma itu meski Daniel Toggilat adalah Sikebbukat Uma (kepala suku) di dalam Malinggai Uma-nama uma yang mereka pakai.

Ia hanya duduk tenang, tak kunjung memberi perintah kepada kaum perempuan menyediakan makan dan minuman untuk dirinya. Daniel saat itu memang sedang mukeikei (berpantang) tak boleh makan dan minum sebelum waktu yang ditentukan.

"Saya tak boleh makan atau minum, saya harus berpuasa agar menjaga berjalannya lia lancar, semua anggota uma selamat tidak ada yang kena parang atau kayu saat bekerja," kata Daniel.

Ia menyebutkan pantang itu dimulai sejak subuh dan baru dapat makan pada malam harinya setelah seluruh aktivitas berat seluruh anggota uma berhenti. Selain makan dan minum, ia juga tidak boleh memakan makanan yang asam dan pedas. Ia juga tak boleh mengunyah makanan sambil jalan. Ia juga tak boleh mencuci tangan dengan air atau bersentuhan dengan air agar tidak turun hujan, itulah ajaran dalam arat sabulungan yang menjadi kepercayaan dan dapat dikatakan sebagai agama yang diajarkan leluhurnya.

Di kepala Daniel Toggilat terikat luat (ikat kepala) yang diberi ornamen manik-manik, sementara di depannya disematkan daun ailelepet dan bekeu (bunga raya). Daniel saat itu hanya mengenakan kabit (cawat) sementara di lehernya melingkar seikat ngalou (kalung) dari manik-manik.

Meski Daniel sendiri telah dibabtis menjadi Katolik sekira 1960-an namun arat sabulungan tak pernah ditinggalkannya. Menurut pria kelahiran 1 Maret 1947 ini kepercayaan itu terus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari sejalan dengan ia menjalankan agama Katolik yang telah dianutnya.

Lia bubuk uma kata Daniel merupakan ritual yang harus mereka lakukan sebab dalam kepercayaannya semua bahan uma yang diambil di hutan seperti kayu, daun dan kebutuhan lainnya memiliki jiwa. Jiwa-jiwa dan roh-roh pemilik kayu dan hutan itu terkadang tidak berkesesuaian dengan jiwa-jiwa yang dimiliki oleh dirinya dan para anggota suku. Agar tidak terjadi pertentangan jiwa tersebut maka untuk menetralisirnya mesti diadakan ritual untuk mengharmonisasikan antara jiwa pohon-pohon dan penghuni uma.

Bagi Suku Mentawai, hutan bukan hanya wadah mendapatkan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti makanan, bahan bangunan tetapi menjadi sumber inspirasi spritual dalam kehidupan sehari-hari. Suku Mentawai meyakini hutan dijaga oleh roh-roh, baik yang baik maupun yang jahat. Sehingga apapun yang diambil di hutan harus meminta izin kepada penghuni di tempat itu agar mereka tidak mendapatkan murka dan penyakit.

Sabtu itu persiapan sudah selesai dilakukan, hari mulai gelap seluruh penghuni uma kemudian berkumpul untuk bersantap malam. Sekira pukul 19.00 WIB para Sikerei—orang yang memiliki kemampuan berkomunikasi dengan jiwa-jiwa dan roh serta mempunyai keahlian mengobati. Sikerei yang diundang sebanyak 5 orang, kemudian mereka memasuki uma Sabulukkungan.

Mereka berpakaian seperti Daniel Toggilat, di bahu masing-masing menjinjing baklu (sejenis tas terbuat dari pelepah sagu). Baklu tersebut berisi peralatan kerei ketika melakukan ritual. Sikerei ini berfungsi sebagai penghubung antara alam manusia dan alam roh. Mereka juga akan melakukan ritual pembersihan uma untuk mengusir roh jahat seperti yang diperintahkan Sikebbukat Uma. Mereka sekaligus mempersiapkan berbagai daun untuk obat dan magri (penyucian diri dan uma). Magri ini ada dua macam, yakni magri simaeruk dan magri sikatai.

Setelah pagi, Minggu, 26 November, seluruh anggota suku berkumpul, bahan bubuk yang telah dikumpulkan di hutan kemudian mulai diangkat satu per satu. Dengan menaiki jenjang, bubuk itu kemudian mereka naikkan di atas atap rumah. Bubuk dari tobat leleu itu terdiri dari 15 lapis tiap ikatan yang berukuran panjang sekitar 2 meter.

Sebagian dari penghuni uma berdiri di atas bubungan uma menarik bubungan uma. Satu per satu bubungan uma tersebut disusun sedemikian rupa. Setelah terpasang pada posisinya, kemudian bubungan uma tersebut ditindih dengan sabbau yang berfungsi sebagai penahan agar tidak diterbangkan angin. Sekitar dua jam pemasangan bubuk yang dilakukan sekira 10 orang laki-laki itu selesai.

Mereka kemudian beristirahat pada siang harinya sekira pukul 13.00 WIB, di dalam uma, Daniel yang bersiap bersantap. Makan siang yang dilakukan Daniel sebagai tanda bahwa acara ritual pemasangan bubuk pada tahap pertama telah selesai.

Ibu-ibu kemudian menyiapkan makanan untuk Sikebbukat Uma, pria berusia 70 tahun ini berupa sagu dan ikan. Sebelum Daniel bersantap ia mengambil secuil sagu dan ikan kemudian dia berikan kepada bakkat katsaila atau bakkat buluat (tempat persembahan) yang digantung di dinding uma pada bagian dapur. Bakkat buluat itu terdiri dari berbagai macam daun yang dipetik di hutan yang diletakkan di dalam bambu besar, di sampingnya menggantung tiga buang gong. Di sana ia membaca mantera kepada leluhur mereka. Setelah itu ia bersantap, ia tak mencuci tangan saat makan maupun setelahnya.

Di bagian luar pelataran uma, anggota uma telah bersiap menunggu giliran makan, mereka belum boleh makan sebelum sikebbukat uma selesai makan.

  • Pin it
Komentar