Sakaladhat, Lokasi Surfing Baru di Siberut Barat

26-01-2018 14:19 WIB | Travel | Reporter: Bambang Sagurung | Editor: Zulfikar Efendi
Sakaladhat, Lokasi Surfing Baru di Siberut Barat

Anak-anak di Dusun Limu, Desa Simatalu, Siberut Barat bermain luncuran ombak menggunakan potongan papan (Foto: Bambang Sagurung)

Matahari baru terbenam di laut Samudera Hindia pada Kamis, 19 Oktober 2017, namun di bibir pantai masih terlihat asyik Girelly bersama istrinya, Carol dan anaknya. Keluarga kecil dari Brazil ini sudah menikmati wisata Sakaladhat, Desa Simalegi Kecamatan Siberut Barat sejak September lalu.

"Ombaknya tidak bagus, karena menyamping. Yang bagus itu kalau dari laut ke pantai dengan lurus, " kata Girelly kepada puailiggoubat dalam bahasa isyarat.

Menurut informasi dari masyarakat setempat, selain menikmati wisata, Girelly melakukan pengobatan kepada masyarakat secara gratis. "Mereka main surfing pagi, siang, malam. Awal mereka datang mereka melakulan pengobatan, namun karena obat habis mereka tidak melakukan pengobatan lagi, " kata Mak Ani,salah seorang warga.

Mak Ani mengatakan, menurut informasi yang mereka peroleh, Girelly akan berada di Sakaladhat bersama keluarga hingga Desember. Mereka bebas menikmati wisata yang ada dan tinggal di pondok yang sudah didirikan oleh pengusaha wisata di Sakaladhat.

"Kontrak mereka untuk tinggal di Sakaladhat empat bulan hingga Desember, mereka tinggal menikmati wisata yang ada, " katanya.

Wisata bahari khusus surfing di Dusun Sakaladhat Desa Simalegi mulai dinikmati pada 2016 lalu hingga sekarang. Wisatawan yang datang umumnya dari Brazil. Mereka datang menggunakan kapal cepat MV. Mentawai Fast dari Muara Padang-Pokai Desa Sikabaluan Kecamatan Siberut Utara, kemudian dilanjutkan dengan boat dari Pokai menuju Sakaladhat.

Selama di Sakaladhat mereka hanya tinggal di tenda yang mereka bawa atau meminta warga setempat membuat pondok darurat di tepi pantai. "Tinggal dikasih atap daun sagu berlantaikan tanah itu sudah cukup. Yang penting mereka bisa nyaman selama bermain ombak, " kata Mak Ani.

Selain yang datang menggunakan kapal reguler, ada juga yang datang pakai kapal sendiri dan tidak turun ke darat. Setelah bermain surfing mereka langsung kembali ke kapal untuk beristirahat.

"Namun sejak kawasan wisata ini dibeli oleh pengusaha wisata, orang yang datang menggunakan kapal sendiri atau di luar dari tamu langsung diusir, " kata Warman Tatauteu, salah seorang warga.

Transaksi jual beli tanah di kawasan wisata antara masyarakat setempat dengan pengusaha membuat wajah wisata di Sakaladhat berubah. Kini, tiap bulan ada saja tamu datang, biasanya dua trip dengan jumlah berbeda. Ada kalanya yang datang dalam satu trip itu empat orang dan ada yang mencapai 15 orang.

Menurut Plt. Camat Siberut Barat, Jop Sirirui, Pemerintah Kecamatan Siberut Barat pernah menanyakan soal transaksi jual-beli tanah lokasi wisata Sakaladhat kepada pengusaha yang membeli dari Brazil dengan luas lahan 4 hektar senilai Rp200 juta. Di tanah itu akan dibangun resort wisata. Namun yang dibayar pada Juni 2016 itu baru Rp100 juta, sisanya Rp100 juta lagi akan dibayar setelah pembangunan resort dilakukan.

"Kita bersama pemerintah desa langsung mengambil sikap karena pihak luar atau negara asing tidak boleh membeli tanah di Indonesia atau Mentawai. Untuk membeli tanah harus memakai perusahaan, " kata Jop.

Untuk menyelesaikan persoalan tersebut, pemerintah kecamatan mengundang pemilik lahan dan tanaman serta pengusaha yang akan membuka usaha wisata di Sakaladhat untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

Dalam perjanjian jual beli tanah yang menghadirkan saksi batas sempadan, akhirnya luas lahan yang awalnya 4 hektar menjadi 2 hektar dengan harga Rp100 juta yang sudah dibayarkan sebelumnya. Kepemilikan lahan yang awalnya menjadi perorangan menjadi milik PT. Surfdelights Internasional.

Pencarian lahan untuk lokasi pembangunan wisata surfing ini diawali oleh salah seorang warga Siberut Selatan. "Mereka datang dan menanyakan siapa yang punya lahan. Pada waktu itu langsung dilakukan pengukuran lahan. Pada waktu itu belum disebutkan kalau tempat itu mau dijadikan tempat turis. Karena kami butuh biaya anak untuk sekolah akhirnya kami jual, " kata Teu Guru Tapokka, pemilik lahan.

Selama tamu PT. Surfdelights International datang ke Sakaladhat, boat yang membawa wisatawan dari pelabuhan Pokai ke Sakaladhat dan kembali ke Pokai milik jasa boat di Sikabaluan, baik jumlah rombongan satu trip maupun jumlah rombongan yang mencapai tiga trip.

"Sementara masyarakat setempat ada juga yang punya boat, tapi jarang dipakai. Itupun dikasih kalau sedang mendesak untuk mengantar mereka kembali ke Pokai, " kata Mak Ani, salah seorang pemilik boat di Sakaladhat.

Mak Ani menyebutkan, biasanya khusus untuk mengantar tamu ke Pokai dari Sakaladhat Rp4-5 juta. "Hanya sambil membawa barang dagangan saja ketika kita akan balik setelah mengantar mereka. Untuk cateran menjemput dan mengantar belum pernah, " katanya.

Sementara itu, wisatawan yang datang berselancar ke Sakaladhat belum dipungut retribusi. Menurut Jop pembangunan resort PT. Surfdrlights Internasional sudah mulai dibangun 2018, maka wisatawan yang masuk sudah terdaftar sesuai dengan Perda Retribusi Surfing, dalam satu klausul perda tersebut disebutkan selama15 hari kunjungan dikenakan retribusi untuk turis asing Rp1 juta.

"Kalau sekarang mereka masih bebas masuk, ketika kita koordinasi dengan kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga, ternyata retribusi baru bisa dikenakan setelah resort dibangun. Artinya tanda gelang sebagai penikmat ombak Mentawai saat ini belum diberlakukan bagi mereka yang menikmati ombak Sakaladhat," katanya.

Jop menganjurkan tenaga kerja resort yang dipakai harus lebih banyak masyarakat setempat yang memiliki jaminan sosial tenaga kerja (Jamsostek). "Untuk 80 persen dipakai tenaga lokal itu sudah bagus. Kalau tidak begitu maka resort yang masuk tidak memiliki dampak ekonomi bagi masyarakat lokal, " katanya.

Wisatawan yang akan masuk ke Sakaladhat, ke depannya menurut Jop, akan diatur agar boat yang membawa tamu wajib turun di Betaet sebagai pusat kecamatan, dari Betaet menuju Sakaladhat menggunakan jasa ojek milik masyarakat setempat.

"Tahun 2018 kita akan membangun jembatan di Sute'uleu, karena akses jalan yang terkendala saat ini di Sute'uleu. Kita akan coba anggarkan Rp600 juta untuk membangun jembatan. Sementara umtuk pembenahan jalan kita arahkan ADD (Alokasi Dana Desa), " katanya.

Wisata budaya khususnya di wilayah Desa Simatalu, kata Jop, selain wisata bahari, Kecamatan Siberut Barat memiliki wisata budaya Mentawai yang masih asli dan dan kental. "Tinggal mengatur ke mana mereka diarahkan bila wisatawan itu mau menikmati acara perkawinan, acara peresmian uma atau penampilan turuk laggai, " katanya.

Jop mengingatkan, sebagai daerah tujuan wisata masyarakat setempat harus memiliki tata krama yang baik, lingkungan yang bersih serta dapat membuat wisatawan betah untuk terus berkunjung.

"Masyarakat juga harus siap dari segi mentalitas karena pengaruh budaya akan kuat. Kalau masyarakat tidak siap maka hal ini akan berbahaya juga bagi masyarakat setempat, " katanya.

Berdasarkan pantauan Puailiggoubat pada Kamis, 19-20 Oktober di lokasi wisata Sakaladhat, wisatawan terlihat sepi, hanya yang ada keluarga Girelly yang menginap di rumah milik PT. Surfdelights Intetnational. Sementara di depan rumah, tepatnya di bagian bibir pantai sudah ada pondok-pondok beratapkan daun sagu yang dipasang meja dan bangku sederhana. Jumlahnya 16 unit. Lokasi seluas 2 hektar tersebut sudah terlihat bersih dan indah. Sabut kelapa bekas buah kelapa yang dipanen warga sudah dikumpulkan dan disusun rapi di bawah batang kelapa.

"Saat ini tidak ada wisatawan yang datang. Mereka akan datang pada 28 Oktober besok,"kata Warman, salah seorang warga.

  • Pin it
Komentar