Goiran, Sikerei Terakhir di Gorottai

08-12-2017 09:49 WIB | Budaya Mentawai | Reporter: Bambang Sagurung | Editor: ocha
Goiran, Sikerei Terakhir di Gorottai

Goiran Sirisurak, sikerei di Gorottai, Desa Malancan, Siberut Utara, Kepulauan Mentawai. (Foto: Zulfikar)

GOROTTAI--Menjelang sore, Goiran Sirisurak, seorang sikerei di Gorottai mengenakan luat (ikat kepala manik-manik) dan sabok (kain penutup bagian pinggang hingga lutut depan). Sikerei adalah sebutan khusus untuk orang yang ahli mengobati secara tradisional di Mentawai. Tidak hanya keterampilan mengobati, sikerei biasanya juga menjadi penghubung kepada roh-roh leluhur saat pengobatan tradisional maupun acara adat di Mentawai.

Sore itu, Goiran sedang meramu obat untuk pasien yang sakit keras. Sabok merupakan salah satu pakaian yang menandakan sikerei tengah melakukan ritual pengobatan.

"Ini merupakan salah satu bagian sakral sikerei, " katanya kepada Puailiggoubat, Rabu, 29 November 2017.

Dikatakan Goiran, salah satu tanda obat yang dibuat merupakan obat untuk penyakit keras adalah ramuan tersebut akan dibuang ke sungai. "Ini kerei agot karena akan dikomunikasikan kepada leluhur obat yang akan dibuat, " katanya.

Untuk kerei, dikatakan Goiran, ada kerei simatak yang hanya bisa meramu obat dan kerei agot yang bisa berkomunikasi dengan leluhur di alam gaib. "Istri saya simatak tapi tidak bisa berkomunikasi dengan alam gaib, dia hanya bisa meramu obat, " katanya.

Dalam meramu obat dan berkomunikasi dengan leluhur di alam gaib, seorang sikerei tidak akan sadarkan diri. Saat mulai menuju alam gaib dan tidak sadarkan diri disebut paumat.

Dikatakan Goiran, kesulitannya bila sedang meramu obat untuk penyakit yang keras ketika mulai berkomunikasi dengan alam gaib sambil muturuk (melakukan gerakan serupa tarian yang menghentak)memainkan obat yang diramu. Karena ketika tidak sanggup untuk membawakan obat maka sikerei akan terlempar.

"Kalau kita lebih dari satu, saat kita mulai tidak sanggup menarikan obat maka akan dibantu dengan sikerei lain. Begitu juga ketika kita sudah tidak sadarkan diri, maka untuk membuat kita sadar harus ada yang membantu memberikan pangeilak, " katanya.

Pangeilak merupakan ramuan atau wewangian sikerei yang dipakai untuk menyadarkan sikerei yang terletak di bagian belakang ikat kepala sikerei (luat), yang nantinya akan diberikan pada hidung sikerei untuk menyadarkan diri.

Sore itu, saat sedang memasang atribut sikerei, tiba-tiba angin bertiup kencang disertai hujan lebat. Herannya angin bertiup kencang hanya di rumah Goiran Sirisurak. "Tiga kali atap rumah terlempar karena angin kencang. Herannya angin terasa kuat hanya d irumah ini, " kata Manase, anak Goiran.

Di Gorottai, hanya Goiran satu-satunya sikerei yang tinggal. Di kampung kecil yang terletak di hulu Sungai Terekan itu, tidak ada generasi muda yang tertarik menjadi sikerei. Selain karena tidak ada panggilan, syaratnya yang harus banyak berpantang baik makanan dan perilaku ini terasa memberatkan banyak orang. "Ini memang sebuah keresahan, tapi zaman yang membuat begini, " kata Goiran.

Manase, anak Goiran mengatakan, untuk menjadi sikerei sangatlah sulit karena pantangan dan juga persiapan. "Ketika diri sendiri sudah siap, namun istri tidak merestui dan mendukung maka akan berakibat bagi diri sendiri, " kata Manase.

Ia mengaku sudah mempelajari beberapa jenis tanaman obat kepada Goiran ayahnya. "Kalau untuk obat keluarga yang masih mudah diramu maka masih bisa kita ramu, namun kalau sudah obat keras tidak bisa lagi, " katanya.

Salim Tasirilitik, guru budaya Mentawai mengatakan mencari sikerei baru untuk zaman sekarang ini susah sangat sulit. Selain karena tidak ada generasi muda yang tertarik dan memiliki panggilan, juga orang lebih tertarik untuk menjadi pengobat dalam pendidikan formal.

"Sementara tidak semua penyakit yang bisa disembuhkan demgan medis. Kalau tidak dilestarikan maka beberapa tahun yang akan datang sikerei akan hilang. Seperti halnya di Gorottai, " katanya. (Bambang Sagurung)

  • Pin it
Komentar