Hadapi Banyak Kendala, Warga Siberut Tengah Terus Bersawah

06-12-2017 22:27 WIB | Ekonomi | Reporter: Rinto Robertus Sanenek | Editor: Gerson Merari
Hadapi Banyak Kendala, Warga Siberut Tengah Terus Bersawah

Hamparan sawah di Saibi, Kecamatan Siberut Tengah. (Foto : Rinto)

SAIBI SAMUKOP-Kegiatan bersawah warga Kecamatan Siberut Tengah, Kabupaten Kepulauan Mentawai yang meliputi Desa Saibi dan Cimpungan terus berlanjut meski mereka banyak mengalami kendala yang menyebabkan hasil produksi padi menurun.

Sekretaris Kelompok Tani Untuk semua Saibi Samukop, Letisman Salabi menyebutkan, salah satu masalah yang dihadapi petani adalah serangan hama yang belum bisa diatasi.

"Biasanya ketika padi sudah berbuah hama ini sudah menggangu dan kadang tak mampu lagi obat-obatan tapi meski begitu kami tetap bersawah," katanya kepada MentawaiKita.com, Rabu (6/12/2017).

Letisman mengatakan, dulu kendala yang mereka alami berupa pengairan dan jalan menuju ke sawah. Kedua masalah itu sudah tertangani karena pada tahun ini pemerintah telah membangun saluran irigasi dan jalan menuju persawahan. Setelah itu teratasi muncul masalah hama yang merusak produksi padi.

Meski mengalami banyak masalah, kata Lestisman, petani pantang mundur meninggalkan sawahnya. Malah pada tahun ini jumlah anggota meningkat menjadi 200 kepala keluarga yang dulu jumlahnya hanya sekira 100-an orang. Jumlah sawah yang digarap pun bertambah luas dari 35 hektar bertambah menjadi 60 hektar.

"Dan sekarang di bulan Desember ini beberapa anggota kelompok sudah melakukan penanaman lagi dan sebagian belum karena masih menyelesaikan proyek perumahan dan di bulan Januari tahun depan baru serentak turun ke sawah," ujarnya.

Penyuluh Pertanian Saibi Samukop Alex Manto mengakui, banyaknya kendala yang dihadapi petani ketika bersawah. Kendala itu muncul, menurut Alex disebabkan petani tidak serentak saat memulai menanam.

"Tidak serentak turun bersawah bahkan penanaman padi makanya hama selalu menyerang dan obat-obatan selalu ada bantuan pemerintah desa maupun daerah namun sulit dibasmi akibat tidak serentaknya ini," katanya.

Selain itu, lanjut Alex, petani belum membuat saluran pembuangan air untuk sirkulasi air masuk dan keluar. Air yang tidak bertukar menarik tikus menempati sawah tersebut sebab binatang pengerat itu menyenangi genangan air di sawah.

Mengantisipasi hal tersebut, Alex bersama pengurus kelompok pada setiap pertemuan selalu menjadwalkan bergotong royong bersama membuat saluran persawahan. Namun masalahnya saat gotong royong dari 200 anggota petani sawah yang hadir hanya 10 orang.

"Jadi kebersamaan ini yang perlu sebenarnya tapi kita memang akan terus berusaha agar warga bisa ada kebersamaan," ujarnya.

Pembukaan lahan sawah baru seluas 25 hektar pada tahun ini didanai APBD Mentawai 2017 melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dispanpang) Mentawai sebanyak Rp180 juta.

Namun pencairan dana tersebut, kata Alex, dilakukan per tahap menurut item pekerjaan seperti pembabatan, pemotongan kayu dan pembersihan kayu untuk lahan seluas 9 hektar telah dibayarkan. Sisanya masih dibersihkan warga sehingga pencairan dana ditunda menunggu lahan bersih.

Selain di Saibi, kendala yang sama juga dialami warga Desa Cimpung namun menurut Ketua Kelompok Tani Sawah Betian Cimpungan, Adam Saporuk, aktivitas bersawah tak ditinggalkan sejak turun temurun.

Pada 2016 kelompok ini membuka sawah baru seluas 50 hektar yang difasilitasi Dispanpang Mentawai yang menelan biaya sekira Rp200 juta. Tapi sayang dua kali penanaman tak membuahkan hasil.

"Dua kali penanaman dan panen hasil padinya tidak sampai satu ton disebabbkan tanahnya seperti tanah liat dan keras sehingga tumbuh tanaman padi tak bagus dan hasilnyapun sedikit," kata Adam.

Mengakami kegagalan, petani yang berjumlah 90 orang tersebut meninggal sawah yang baru dibuka dan beralih menggarap sawah lama yang memiliki luas sekitar 100 hektar. Di sawah lama tersebut sudah tiga kali petani menerima panen yang hasilnya cukup banyak.

Ia sendiri mengaku mendapat panen sebanyak 60 kaleng biskuit ukuran besar hampir setara dengan 20 kilogram beras. Panen yang dihasilkan tersebut belum dijual, masih kebutuhan keluarga.

"Kenapa hanya kebutuhan keluarga karena wadah semacam koperasi untuk menjualnya itu belum ada itupun juga kebutuhan kami saja belum mencukupi," ujarnya.

Ia mengakui meski mendapat panen yang cukup lumayan namun kendala hama pengerat dan wereng juga menyerang sawah mereka. Penyebab karena pestisida dan alat untuk melawan gangguan tersebut tidak mereka miliki.

"Obat-obat tidak punya dan alat-alat menyemprot juga tak ada kami sangat membutuhkan itu," ucapnya.

Selain belum memiliki pestisida, mereka juga tidak memiliki mesin penggiling sebab mesin lama telah rusak. Untuk menggiling padi mereka menumpang di Desa Saibi.

  • Pin it
Komentar