Mengenalkan Budaya Melalui Aksesoris Khas Mentawai

06-12-2017 12:37 WIB | Ekonomi | Reporter: Gerson Merari Saleleubaja | Editor: Gerson Merari
Mengenalkan Budaya Melalui Aksesoris Khas Mentawai

Kalung dan luat yang dibuat Kelompok Dasa Wisma Melati 1 Dusun Bat Joja, Desa Maileppet. (Foto : Gerson)

MAILEPPET-Tak seberapa luas pelataran pondok itu, jika diukur hanya sekitar 3X3 meter, atapnya dari daun sagu (tobat). Pada sambungan pelataran tersebut terdapat sebuah gudang kecil tempat penyimpanan beragam warna manik-manik dan aneka hasil kerajinan tangan tadisional Mentawai.

Pondok itulah yang dijadikan semacam galeri oleh kelompok ibu-ibu di Dusun Bat Joja, Desa Maileppet, Kecamatan Siberut Selatan, Mentawai yang menamakan dirinya Kelompok Dasa Wisma Melati 1 Dusun Bat Joja. Galeri sederhana itu berjarak sekitar 100 meter dari Kantor Kecamatan Siberut Selatan.

Ada sebanyak 10 orang ibu-ibu saat MentawaiKita.com berkunjung ke galeri tersebut Jumat, 1 Desember 2017. Tangan ibu-ibu itu sibuk menarik benang pada salah satu ujungnya dan di ujung lain dikaitkan pada kaki mereka agar tidak kusut. Benang itu merupakan alat merangkai manik-manik dari berbagai warna sesuai motif yang diinginkan oleh pemesan.

Kelompok Dasa Wisma Melati 1 Dusun Bat Joja memang mengkhususkan dirinya memproduksi kerajinan khas Mentawai khususnya manik-manik seperti ngalou (kalung), lekkau (gelang lengan) sikairat dan luat (ikat kepala), gelang nama, lailai tengah (sabuk Mentawai) dan bentuk serta membuat sobbe (rok tradisional Mentawai).

Kelompok ini beranggotakan 12 orang ibu rumah tangga di Dusun Bat Joja yang dibentuk pada 2 Januari 2016 yang difasilitasi oleh Pemerintah Desa Maileppet. Tetapi saat pembentukan pertama oleh Pemdes Maileppet bukanlah kerajinan tetapi hanya untuk membuat tanaman toga di pekarangan rumah.

Ketua Dasa Wisma Melati 1 Bat Joja, Riana Angelina Neni Saurei mengatakan saat itu Pemdes Maileppet memberikan bantuan uang sebanyak Rp400 ribu untuk membuat tanaman toga sekaligus pagarnya. Program itu sama dengan kegiatan yang dilakukan beberapa Dasa Wisama lain di Desa Maileppet.

"Bukan untuk kerajinan ini sebenarnya kelompok kita dibentuk hanya untuk tanaman toga," kata Neni kepada MentawaiKita.com yang dibenarkan oleh ibu-ibu yang lain.

Setelah berhasil membuat tanaman toga dan pagar untuk perlombaan tingkat desa yang berhasil mereka menangkan, kemudian terpikir oleh para anggota kelompok ini untuk melanjutkan kegiatan yang tidak sekadar lomba-lombaan.

Dari perbincangan mereka muncullah ide membuat kalung manik-manik untuk dijual sebab beberapa orang di Mentawai juga membuatnya. Mereka berpikir kalung Mentawai ini nantinya menjadi suvenir yang bisa dijual kepada siapa saja yang datang ke Mentawai karena khas kerajinan dari daerah tersebut.

Setelah matang membuat perencanaan tersebut, pada 26 Januari 2016 merekapun menyiapkan bahan berupa manik-manik yang dibeli di Padang, Sumatera Barat. Sisa dana pembuatan tanaman toga dan pagar itu dijadikan modal awal.

Dari coba-coba tersebut usaha itu kemudian berlanjut karena permintaan tiap bulan selalu ada meski jumlahnya tak signifikan. "Kadang 3 atau 5 buah kalung per bulan pada awal membuat usaha kecil ini, tidak banyak memang namun berlanjut," jelas Neni.

Permintaan meningkat hingga 100 buah kalung menjelang Festival Pesona Mentawai, iven itu dimanfaatkan Dasa Wisma Melati 1 Bat Joja menjual dan sekaligus memperkenalkan produknya.

Teknik pemasaran sangat sederhana yakni kepada anggota kelompok dibebaskan mempromosikan hasil kerajinan mereka kepada teman. Bagi anggota yang memiliki akun pada media sosial dijadikan lapak daring mempromosikan kerajinan kepada khalayak ramai.

Hasilnya cukup memuaskan, dari promosi itu, kata Sekretaris Kelompok Dasa Wisama Melati 1 Bat Joja, Karolina, permintaan pun bertambah termasuk ragam jenis kerajinan dari awalnya hanya kalung kemudian merambah kepada kerajinan lain seperti lekkau, sikairat,luat, gelang nama, lailai tengah dan sobbe.

Bahan manik-manik yang dibeli di Padang seharga Rp25 ribu per kilogram untuk satu warna, jika membutuhkan empat warna maka kelompok ini mengeluarkan modal sebesar Rp100 ribu yang dipesan kepada salah satu kerabat yang ada di kota itu ditambah ongkos kirim.

Empat kantung plastik manik-manik dari empat macam warna ini dapat menghasilkan 10 sampai 20 buah kalung tergantung berapa untaian kalung dalam satu ikatan dan panjang kalung tersebut. Boleh jadi ketika yang dominan warna putih maka warna putih yang akan cepat habis dan mesti ditambah tiga kilogram dengan perbandingan warna lain sebaanyak sekilo.

Biasanya pekerjaan mereka lakukan pada sekira pukul 14.00 WIB, tetapi jika orderan lagi banyak mereka memulai pekerjaan pada pagi dan berakhir pada sore hari.

Kelompok ini memasang tarif harga untuk 1 buah kalung berkisar Rp50 ribu-Rp100 Ribu, sikairaat dan lailai tengah dijual Rp100 ribu-Rp150 ribu, lekkau dijual Rp60-Rp80 ribu per pasang (kiri dan kanan) dan dan gelang dijual nama Rp20 ribu Rp25 ribu 1 buah. Sementara untuk harga jual 1 buah luat berkisar Rp200 ribu-Rp250 ribu dan sobbe Rp100 ribu-Rp200 ribu per buah tergantung motifnya.

Dalam sebulan produk yang berhasil dijual tak bisa dipastikan, terkadang jumlah kalung bisa terjual mencapai 10 sementara produk lain hanya 2 atau 3 buah saja. Namun semua hasil penjualan disimpan yang nantinya dibagikan kepada anggota kelompok jika sudah diputuskan yang biasanya dilakukan per semester.

Pemesan produk biasanya berasal dari Padang, Tuapeijat, Siberut Selatan dan Siberut Utara, kadang ada dari lembaga ada juga yang perseorangan.

Menurut Neni, 1 buah ngalou dengan 10 untaian benang seikat membutuhkan waktu 1 hari membuatnya. Pekerjaan itu dilakukan secara keroyokan dan mendapat jatah membuat 1 untai per orang.

Karolina menyebutkan, pada Juli -September tahun lalu, mereka berhasil membagi keuntungan Rp1 juta per orang sebab permintaan sangat banyak. Sistem pembagian keuntungan kelompok dibagi sesuai dengan partisipasinya setelah dikurangi modal yang dikeluarkan dan modal produksi berikutnya.

Permintaan yang bertambah membuat kelompok ini kesulitan mendapatkan modal usaha untuk membeli bahan baku. Melalui keputusan rapat anggota, mereka memutuskan mengajukan proposal permintaan dana Alokasi Dana Desa Maileppet. Marianti Satoinong, salah satu anggota ditugaskan mempersiapkan syarat dan pembuatan proposal tersebut.

Sekitar September proposal mereka terjawab, Pemdes Maileppet mengucurkan dana bantuan sebanyak Rp2.250.000. Dana itulah kemudian dijadikan modal membeli material baik manik-manik, benang dan peralatan lainnya.

Melihat keseriusan dan kelanjutan kegiatan kelompok ini, Pemdes Maileppet kemudian memberikan bantuan 2 unit mesin jahit atas permintaan Kelompok Dasa Wisma Melati 1 Bat Joja. Mesin ini menjadi alat menjahit sobbe yang digunakan kelompok ini.

Pada 2017 bantuan kembali diberikan berupa mesin jahit sebanyak 2 unit untuk membantu kelompok ini membuat sobbe.

Selain membuat kerajinan khas Mentawai, kelompok ini juga merambah pada usaha katering kecil-kecilan. Mereka biasanya dipesan memasakkan makanan jika ada lembaga melakukan kegiatan di Siberut Selatan.

Meski memiliki potensi usaha kerakyataan yang dapat dikembangkan, menurut pengakuan kelompok itu belum ada pembinaan dari instansi terkait semacam Dinas Perindustrian, Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah Kabupaten Kepulauan Mentawai untuk pengembangan usaha ini. Mereka bergerak dengan inisiatif sendiri. (g)

  • Pin it
Komentar