Menuju Budaya Literasi di Sekolah

05-12-2017 11:54 WIB | Opini | Reporter: Agustinus Aris, S.Pd | Editor: Zulfikar Efendi
Menuju Budaya Literasi di Sekolah

Sarau Sakukuret (10), warga Dusun Madobag belajar menggunakan penerangan seadanya (Foto: Hendrikus Bentar)

Mungkin ada yang berkesan bahwa judul di atas terlalu gagah dan berlebihan bahkan sedikit provokatif! Yakni kata 'budaya'. Namun, sejatinya tidak, dengan catatan bahwa kebudayaan dimaknai sebagai praktik-praktik budaya (cultural practices) yang senantiasa melekat dalam kehidupan manusia sehari-hari. Budaya selalu berkembang sesuai dinamika konstruksi pemikiran manusia dalam setiap ruang dan waktu. Oleh sebab itu penyisipan kata 'budaya' dalam judul di atas dimaknai sebagai buah pikiran yang lahir dari kebiasaan-kebiasaan kecil namun besar manfaatnya bagi diri sendiri mau pun bagi orang lain.

Selanjutnya, kata 'literasi'. Literasi ini menjadi benang merah yang mengantar kita pada pokok bahasan. Kata literasi barangkali masih asing bagi sebagian orang bahkan juga guru. Budaya literasi sebenarnya sudah kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari apa lagi para guru yang setiap hari sebenarnya sudah menerapkan literasi sejak jejang pertama pendidikan di SD. Literasi bukan sekadar membaca dan menulis, lebih dari pada itu, literasi mencakup kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, menulis, membaca dan menghitung.

Literasi adalah kemampuan seseorang dalam mengolah dan memahami informasi saat membaca dan menulis. Istilah literasi dalam bahasa Inggris disebut literacy yang berasal dari bahasa Latin yakni literatus, yang berarti orang yang belajar (a learned person). Dalam bahasa Latin juga dikenal dengan istilah littera (huruf) yang artinya melibatkan penguasaan sistem-sistem tulisan dan konveksi-konveksi yang menyertainya, Ahmad Maulidi, (2016).

National Institute for Literacy, mendefinisikan literasi sebagai "Kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecakan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat. Istilah literasi sudah mulai digunakan dalam arti yang lebih luas, seperti literasi informasi, literasi computer, dan literasi sains yang kesemuanya itu merujuk pada kompetensi atau kemampuan yang lebih sekadar kemampuan baca tulis. Hanya saja, pemahaman yang paling umum mengenai kata literasi ini adalah kemampuan membaca dan menulis. Namun lebih dari itu, makna literasi juga mencakup melek audiovisual yang artinya kemampuan untuk mengenali dan memahami ide-ide yang disampaikan secara audiovisual. Misalnya, adegan, video, gambar, mendengarkan, menyimak, medongeng dan memahami.

Gerakan Literasi di Sekolah

Seorang guru, mengajar di kelas tidak cukup hanya satu buku pegangan sebagai sumber referensi pembelajaran. Guru yang baik akan terus menerus mencari informasi baru dari berbagai sumber referensi belajar yang relevan dengan konteks pembelajaran dalam kaitannya dengan kehidupan masyarakat sekitar untuk anak didiknya. Pembelajaran akan mudah dimengerti oleh anak didik. Pembelajaran macam ini disebut dengan metode pengajaran dan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning Method).

Sebagai guru, penulis berusaha meningkatkan kebiasaan anak sejak dini untuk mencintai buku dan menjadikan buku sebagai teman belajar yang paling setia. Dalam proses pembelajaran penulis berusaha menyisipkan kegiatan literasi khususnya membaca. Membaca merupakan kegitan yang dapat menambah wawasan anak. Ketika anak menemukan kata-kata sulit, anak dapat bertanya bahkan dengan otomatis bertanya pada guru.

Usai anak membaca, anak dibimbing untuk membantu memahami konten bacaan yang telah dibacanya, penulis menyediakan pertanyaan reflektif kepada anak. Pertanyaannya sebagai berikut (1) Buku apa yang telah saya baca? (2) Halaman berapakah bacaan yang telah saya baca? (3) Apa judul bacaan tersebut? Untuk kelas yang lebih tinggi dapat ditambahkan pertanyaannya. Misalnya, (4) apa yang bisa saya pelajari dari bacaan tersebut?, (5) apa manfaatnya bagi saya setelah membaca? Pertanyaan dapat disesuaikan dengan tingkat kemampuan dan usia anak. Hal ini dilakukan supaya anak terbiasa membaca bukan sekadar membolak balik halaman untuk melihat gambar yang terdapat dalam buku yang dibacanya. Kebiasaan seperti ini telah penulis mulai ketika masih PPL di salah satu SD Yogyakarta tempat penulis melaksanakan PPL. Saat ini pun setelah penulis masuk di dunia kerja sebagai guru, penulis tanamkan lagi kebiasaan ini kepada anak-anak didik penulis. Harapannya anak didik dapat melek informasi dan meningkatkan kemapuan literat.

Selanjutnya, muncul pertanyaan, mengapa literasi ini ditujukan di sekolah? Pertanyaan mendasar bagi penulis bahwa sekolah merupakan wadah bagi orang yang ingin membangun (mengkonstruksi) pengetahuannya lewat proses pembelajaran yang didapatkan baik dari guru mau pun dari buku sebagai sumber informasi dan pelajaran yang paling setia. Peran aktif pemangku kepentingan dalam pendidikan formal, yakni kepala sekolah, guru, tenaga pendidik, dan pustawakan sangat berpengaruh untuk memfasilitasi pengembangan komponen literasi peserta didik. Selain itu, diperlukan juga pendekatan cara belajar-mengajar yang keberpihakannya jelas tertuju kepada komponen-komponen literasi ini. Sekolah memiliki peran yang amat penting dalam menanamkan budaya literasi pada anak didik. Oleh sebab itu, tiap sekolah tanpa terkecuali harus memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan literasi. Akan tetapi, sekolah tidak akan bisa berdiri sendiri dalam meningkatkan budaya literat di dalam ekosistem sekolah.

Pemerintah, para pemangku kepentingan dan masyarakat (stake holders) semestinya turut andil dalam pengembangan literasi di sekolah. Sangat disayangkan jika pemerintah berdalih jika ada sekolah swasta mengajukan proposal permohonan dana untuk pembangunan gedung pustaka bahwa sekolah swasta tidak masuk aset Negara. Oleh sebab itu pembangunannya dialihkan ke sekolah yang berstatus sekolah negeri yang (katanya) masuk sebagai aset negara. Padahal, baik sekolah negeri mau pun sekolah swasta sama-sama memberikan pelayanan pendidikan kepada anak bangsa. Kartono, (2009) dalam bukunya yang berjudul 'Sekolah Bukan Pasar' mengatakan bawah: "Baik lembaga pendidikan yang diselenggarakan oleh Negara maupun swasta dalam kenyataannya melayani semua warga Negara tanpa pandang bulu dan demi kemajuan bangsa".

Selain itu penyebab lainnya karena pemangku kebijakan pendidikan belum memahami secara mendalam tentang literasi itu sendiri. Akibatnya, literasi (baca tulis) belum menjadi bagian dominan dari kurikulum pendidikan kita. Meskipun banyaknya anggaran pendidikan kita sebanyak 20 persen ternyata kurang berpengaruh ke peningkatan sektor pendidikan, khususnya budaya literasi. Perpustakaan dan buku-buku menjadi barang yang sangat langkah di beberapa sekolah terutama sekolah-sekolah pelosok. Fakta ini menunjukkan tidak masksimalnya pemerintah mengelolah sistem pendidikan yang mencerahkan bagi segenap anak bangsa yang potensial dan cerdas.

Akhirnya, kesemuanya dikembalikan kepada hati nurani para pemangku jabatan yang telah diberikan kewenangan yang tertuang dalam undang-undang otonomi daerah. Merujuk pada pendapat HAR Tilaar yang menegaskan fungsi pemerintah dengan 4M, yakni membimbing,membina, mendorong, dan mengayomi. Fungsi 4M mestinya diartikan sebagai penciptaan kondisi serta situasi yang kondusif bagi sekolah swasta. Jika sekolah swasta dianggap sebagai mitra dalam pelayanan pendidikan anak bangsa (di Mentawai), maka tidak sepantasnya sekolah swasta dianaktirikan dalam pemerataan pembangunan pendidikan. Pembangunan gedung perpustakaan, dan penambahan buku untuk memenuhi kebutuhan literasi di sekolah merupakan hal yang tidak terpisahkan dari pemerataan pendidikan.

Salam Literasi!

Penulis: Alumnus Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta dan Guru SD Fransiskus Sikabaluan

  • Pin it
Komentar