Gerakan Literasi Sekolah, Pentingkah?

05-12-2017 11:36 WIB | Opini | Reporter: Mespin Zulian Samaloisa, S.Pd | Editor: Zulfikar Efendi
Gerakan Literasi Sekolah, Pentingkah?

Murid Sekolah Uma Tinambu, Desa Saliguma, Kecamatan Siberut Tengah menggunakan Balai Dusun untuk belajar (Foto: Gerson)

Tulisan ini saya buka dengan kata EPEN KAH? Kata epen kah yang dipopulerkan oleh MOP Papua ini menjadi sangat terkenal karena menyatakan tentang penting kah? Artinya Gerakan Literasi Sekolah, Epen kah?

Mungkin banyak diantara anak-anak sekolah baik SD, SMP, atau bahkan SMA tidak mengerti jika ditanya tentang arti dari literasi. Apa lagi ditanya tentang seberapa penting literasi ini mendukung proses pembelajaran di sekolah. Dirasa penting bahwa literasi merupakan bagian penting dalam melaksanakan praktik pendidikan di sekolah agar semua warga sekolah tumbuh sebagai pembelajar sepanjang hayat. Oleh sebab itu penulis ingin menjelaskan literasi secara sederhana agar ketika mengetahui arti dari literasi ini, baik anak-anak ataupun guru di sekolah dapat menyadari akan pentingnya gerakan literasi dibudayakan disekolah.

Dalam bahasa inggris, literacy artinya kemampuan membaca dan menulis (the ability to read and write) dan kompetensi atau pengetahuan di bidang khusus (competence or knowledge in a specified area). Secara tradisional arti literasi adalah kemampuan membaca, menulis, dan berhitung aritmatika atau biasa dikenal dengan calistung. Kebiasaan calistung ini kerap kali diterapkan pada anak-anak kelas bawah (antara kelas 1 sampai kelas 3 SD). Calistung merupakan modal penting bagi anak-anak kelas bawah sebelum memasuki tahap pembelajaran yang lebih menekankan pada pemahaman materi. National Institute for Literacy (NIFL) mengemukakan "Literasi merupakan kemapuan individual untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat".

Fakta di lapangan bahwa baik anak-anak ataupun guru belum memiliki kebiasaan membaca dan menulis yang baik sehingga pembelajaran yang berlangsung di sekolah cenderung sangat membosankan. Banyak anak-anak yang sudah di kelas tinggi tetapi kemampuan membaca, menulis dan menghitungnya masih terbatas. Melihat permasalahan yang sudah hadir sejak lama ini, sudah sepatutnyalah gerakan literasi sekolah dirasa penting untuk dibiasakan agar anak-anak dan guru dapat mengolah informasi dengan baik, membiasakan diri menulis dan membaca sehingga pada akhirnya anak-anak maupun guru mempunyai cakrawala yang luas. Ada pepatah mengatakan bahwa buku adalah jendela dunia yang artinya ketika membaca, anak-anak bisa mengetahui informasi apa saja yang ada di seluruh dunia. Gerakan literasi di sekolah perlu menjadi perhatian seluruh golongan baik pemerintah maupun sekolah. Sinergitas harus dibangun agar proses peningkatan mutu pendidikan dapat tercapai.

Apa itu gerakan literasi sekolah? Gerakan Literasi Sekolah (GLS) merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik mulai dari semua pemangku kepentingan di bidang pendidikan, dari tingkat pusat sampai desa, hingga satuan pendidikan yang melibatkan peserta didik, guru, kepala sekolah, komite sekolah, orangtua, dan masyarakat. Banyak gerakan yang dilakukan dalam gerakan literasi sekolah, misalnya kegiatan 10-15 menit membaca buku non pelajaran sebelum waktu belajar di mulai. Selain itu, khusus di Tuapeijat, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan sudah melaksanakan kunjungan perpustakaan berjalan ke sekolah-sekolah untuk menerapkan budaya literasi bagi anak-anak dan guru. Kegiatan ini tentu merupakan salah satu cara untuk menarik minat baca siswa dan berlomba-lomba untuk menambah wawasannya tentang apa yang dibacanya.

Perlu disadari bahwa membaca dan menulis (literasi) merupakan satu aktivitas penting dalam hidup yang setiap hari kita lakukan. Sebagian besar proses pendidikan kita di sekolah atau dimanapun bergantung pada kemampuan dan kesadaran literasi ini. Budaya literasi dimaksudkan untuk melakukan kebiasaan berfikir diawali dengan kegiatan membaca dan menulis hingga teripta sebuah karya bahkan terjadi perubahan budi pekerti yang baik. Budaya literasi yang tertanam dalam diri peserta didik ataupun guru dapat mempengaruhi tingkat keberhasilan baik di sekolah maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Itulah sebabnya tidak berlebihan jika kiranya Farr (1984) menyebut bahwa "Reading is the heart of education" karena pendidikan tidak bisa dilepaskan dari yang namanya "membaca". Membaca sudah menjadi rohnya pendidikan sehingga membaca merupakan awal bagi setiap orang untuk mengetahui segala sesuatu.

Mengapa penting literasi diterapkan di sekolah? Sekolah menjadi wadah yang sangat memungkinkan membudayakan literasi kepada anak-anak. Selain belajar secara formal, pembelajaran di sekolah harus membiasakan anak-anak untuk menulis. Dengan menulis, menurut Hernowo (2005) dalam bukunya "Mengikat Makna" menyebutkan bahwa menulis dapat membuat pikiran kita lebih tertata tentang topik yang ingin ditulis, mengikat dan mengontruksi gagasan, membuat kita memiliki keyakinan atau pengaruh positif, membuat kita semakin pandai memahami sesuatu, meningkatkan daya ingat, membuat kita lebih mengenal diri sendiri,memfasihkan komunikasi, memperbanyak kosa-kata, membantu bekerja imajinasinya dan menyebarkan pegetahuan. Itulah pentingnya gerakan litersi ini diterapkan di sekolah agar anak-anak tumbuh menjadi pembelajar sepanjang hayat, kritis, dan tampil percaya diri.

Kita perlu belajar untuk mencanangkan empat prinsip belajar adab 21 yang diterapkan oleh UNESCO (1996) yakni, learning to think (belajar berpikir), learning to do (belajar sambil melakukan), learning to be (belajar menjadi), dan learning to live together (belajar hidup bersama). Ke empat ini merupakan literacy skill yang perlu diterapkan kepada anak-anak agar menjadi sebuah kebiasaan yang baik dan menumbuhkembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembudayaan lingkungan literasi sekolah yang diwujudkan dalam gerakan literasi sekolah. Manfaat gerakan literasi di sekolah adalah meningkatkan kemampuan literasi di semua mata pelajaran dengan menggunakan buku pengayaan dan strategi membaca di semua mata pelajaran. Bagi sekolah yang menerapkan kurikulum 2013 dimana peserta didik merupakan subjek pembelajaran dan guru sebagai fasilitator, kegiatan literasi tidak lagi berfokus pada peserta didik semata. Guru, selain sebagai fasilitator, juga menjadi subyek pembelajaran. Maka kegiatan peserta didik dalam berliterasi semestinya tidak lepas dari kontribusi guru, dan guru berupaya untuk menjadi fasilitator yang berkualitas. Guru dan pemangku kebijakan sekolah merupakan figure teladan literasi di sekolah.

Semoga budaya literasi di sekolah membuat minat baca anak-anak generasi masa kini terus berkembang. Dan harapannya menjadi generasi yang kritis dan kaya gagasan/ide. Terkahir penulis ingin mengakhiri gagasan ini dengan salam literasi!

Penulis merupakan almuni Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, dan saat ini mengabdi sebagai guru SD Santo Petrus, Tuapeijat

  • Pin it
Komentar