Sikerei dan Tokoh Masyarakat Mentawai Siap Hadang Hutan Tanaman Industri

04-12-2017 10:29 WIB | Peristiwa | Reporter: Gerson Merari Saleleubaja | Editor: Gerson Merari
Sikerei dan Tokoh Masyarakat Mentawai Siap Hadang Hutan Tanaman Industri

Sikerei Siberut mencari daun obat dan bebetei di hutan dekat pemukimannya. (Foto : Gerson)

PURO- Sikerei dan tokoh masyarakat Mentawai, Sumatera Barat menolak kehadiran Hutan Tanaman Industri (HTI) milik PT. Biomass Andalan Energi yang memperoleh izin konsesi seluas 20.030 hektar di Pulau Siberut.

Menurut Bruno Sabulukkungan (60), tokoh adat masyarakat Mentawai dari Suku Sabulukkungan, tanah yang diklaim menjadi areal konsesi HTI tersebut salah satunya merupakan wilayah adat mereka yang membentang dari Desa Saliguma hingga Saibi, Kecamatan Siberut Tengah.

Apalagi di tanah leluhur mereka itu, kata Bruno, terdapat sebuah gua yang sangat bersejarah bagi suku Sabulukkungan. Gua Sipukpuk itu merupakan jelmaan uma, tempat menyagu dan tempat ayam leluhur mereka yang disambar petir yang seketika menjadi batu karena leluhur mereka mempermainkan anjing.

Seluruh anggota uma Sabulukkungan yang berada dalam uma juga ikut menjadi batu. Beberapa yang selamat dari amarah alam ketika itu yakni mereka yang tidak berada di lokasi uma karena pergi mencari ikan. Uma yang menjadi batu tersebut dinamaan Gua Sipukpuk.

Bruno menegaskan, jika pada akhirnya karena kekuatan negara mereka tak bisa mempertahankan areal tanah ulayanya dari ekpansi HTI ini maka Gua Sipukpuk akan mereka pertahankan sampai mati.

"Tak ada cara lain, jika gua Sipukpuk dirusak oleh HTI maka kami bersedia berperang," ujarnya.

Bagi Sabulukkungan merusak Gua Sipukpuk sama dengan menabuh genderang perang, mereka siap mempertahankannya.

Bruno menyebutkan, selama ini pihaknya tak pernah dilibatkan dalam pembahasan HTI meski tanah wilayahnya dimasukkan dalam areal. Mereka baru mengetahui ketika mahasiswa Mentawai yang menolak kehadiran HTI melakukan sosialisasi kepada sukunya.

"Kami tidak pernah dilibatkan, kok tiba-tiba tanah kami dimasukkan, ini tak bisa diterima," ujarnya.

Selain Bruno, Teu Lakka Tatebburuk (78), yang merupakan sikerei senior juga ikut menolak, alasannya bahan bangunan membangun uma diambil dari hutan, hutan bagi kehidupan spritual mereka adalah sesuatu yang sangat penting.

"Kami membuat uma kayunya diambil dari hutan, mengambil daun bebetei (pengusir roh jahat) juga dari hutan, itulah fungsi hutan bagi kami," ujarnya kepada MentawaiKita.com, Minggu (26/11/2017).

Sebagai bentuk rasa hormat atas roh penguasa hutan, lanjut dia, tiap kali mereka menebang kayu besar di hutan diawali dengan ritual panangga. Panangga merupakan ritual meminta izin kepada penguasa hutan atas pemakaian kayu milik 'mereka'.

Saat ritual panangga mereka mempersembahkan secarik kain, rokok dan barang-barang lain sebagai bukti mereka memberi mahar kepada penguasa hutan.

Ritual panangga juga kerap dilakukan saat mereka membuka ladang atau membuka tempat pemeliharaan ternak seperti babi dan ayam. Kepada roh penguasa mereka meminta berkat agar dijauhkan dari malapetaka dan hasil panen mereka melimpah.

Teu Lakka menyebutkan, mereka tak sembarangan memperlakukan hutan sebab roh penguasa bisa mengamuk dan memberikan penyakit kepada sipembuat onar atau siperusak hutan.

Lia bubuk uma ini dilakukan sebagai penghormatan kepada roh penguasa hutan sebab bahan membuat uma diambil di hutan. Teu Lakka menggambarkan, ritual ini dijalankan untuk menetralisir energi negatif dalam uma akibat pemakaian kayu dalam uma. Juga sebagai bentuk ucapan syukur kepada leluhur mereka karena masih diberi kekuatan dan keselamatan.

Teu Lakka sangat gusar ketika mendengar informasi Hutan Tanaman Industri (HTI) milik PT. Biomass Andalan Energi masuk ke Siberut. Salah satu areal yang menjadi konsesi HTI ini merupakan tanah Suku Sabulukkungan yang membentang dari Saibi hingga Desa Saliguma, Kecamatan Siberut Tengah.

Meski perusahaan itu mengklaim bahwa tanah itu masuk areal konsesinya namun Suku Sabulukkungan yang saat ini berada di Puro, Desa Muara Siberut, Siberut Selatan, Mentawai tidak pernah dilibatkan dalam pembahasan dalam bentuk apapun.

"Orang-orang yang masuk akan kami lawan, merusak hutan kami sama dengan membunuh kami, tidak kami biarkan, kenapa kami larang sebab itu sebagai sumber hidup kami, mencari bahan bangunan, mencari rotan, mencari bahan sampan dan tempat kami berladang. Jika itu rusak kemana kami mencari hidup lagi?" ujarnya.

Teu Lakka menyebutkan, meski lokasi tanah mereka jauh dari pemukiman mereka saat ini, tetapi itu tidak berarti menghilangkan hak tanah ulayat dari mereka.

Menurut kaca mata sikerei, sebut saja Aman Boroi Ogok (58) dan Pangarita Sabaggalet (52), kehadiran perusahaan kayu maupun rencana HTI akan menyusahkan mereka menjalankan profesi mereka sebagai sikerei.

Pangarita atau yang lebih akrab dipanggil Promosi mengatakan, banyak ramuan obat yang tersimpan di hutan. Jenis tanaman yang biasa mereka ambil biasanya lebih subur tumbuh di hutan dan lebih berdaya magis daripada yang ditanam di pekarangan rumah. Selain itu, jika ditanam di pekarangan rumah beberapa tumbuhan obat atau daun bebetei tidak bisa hidup sebab membutuhkan lingkungan yang lebih sejuk.

Jika HTI itu masuk, menurut Promosi akan melenyapkan tanaman yang mereka butuhkan, seperti pengalaman mereka saat HPH merajalela di Siberut pada dekade tahun 1970-an. "Jika sudah dirusak kami akan susah mendapatkannya," ujarnya.

Sebab menurut dia, saat tanaman yang diambil daun atau akarnya itu akan digunakan selalu diracik dengan tumbuhan lain. Jika salah satu racikan tumbuhan kurang itu sama saja tak ada gunanya.

Sehingga berapapun jauhnya tempat mencari obat itu di hutan, sikerei-sikerei ini akan menjelajah hutan sampai daun yang dibutuhkan didapatkan.

Tempat yang baik tumbuhnya obat menurut Aman Boroi Ogok adalah di hutan, sebab setiap mereka mengambil tumbuhan untuk obat selalu mengajak para roh penjaga membantu mengobati atau membantu menjalankan ritual. Kekuatan obat, kata Aman Boroi bukan hanya karena daunnya, namun daya magis dan mantra yang diucapkan saat memetik maupun menggunakannya.

Sehingga jika hutan dirusak, lanjut dia, mereka akan kesusahan, " kami susah karena tanaman itu akan payah didapat juga tidak mabajou (daya penyembuh hilang)," ujarnya.

  • Pin it
Komentar