Warga Simatalu Masih Kesulitan Air Bersih

30-11-2017 16:11 WIB | Peristiwa | Reporter: Bambang Sagurung | Editor: ocha
Warga Simatalu Masih Kesulitan Air Bersih

Anak-anak Dusun Suruan Desa Simatalu Kecamatan Siberut Barat mengambil air bersih di sumur galian karena sumber air yang terbatas. (Foto: Bambang Sagurung)

SIMATALU-Warga Desa Simatalu Kecamatan Siberut Barat masih kesulitan air bersih. Selama ini masyarakat hanya mengandalkan air hujan yang ditampung dalam drum atau ember besar ketika hujan turun. Masyarakat lainnya membuat sumur galian sederhana dan disaring dengan membuat saringan air sederhana.

"Memang air masih sulit. Tapi sumber air untuk air PAM kalau dibuat ada, namun jaraknya cukup jauh dari kampung. Masyarakat tidak mampu untuk mengalirkannya ke kampung, " kata Julius Otjak salah seorang warga Simalibbeg pada Mentawaikita.com, Jumat, 27 Oktober 2017.

Hal yang sama dialami masyarakat Dusun Suruan Desa Simatalu. "Sumber air memang sulit. Kalau tidak ada hujan terpaksa air sungai yang disaring. Untuk air kebutuhan sehari-haru seperti masak, mencuci dan mandi diambil disungai, " kata Adam Baliumata, salah seorang guru di SDN 25 Simatalu Suruan.

Di Dusun Masaba sedikit berbeda. Sumber air bersih yang dulunya sudah sempat dialirkan oleh Yayasan Kirekat Indonesia pada progran air bersih ditengah perkampungan yang sudah rusak diperbaiki beberapa warga.

"Kebetulan pak dusun dapat OMS waktu masih ada P2D Mandiri, maka beberapa semen dipakai untuk membuat sumur penampungan dan perbaikan selang air yang sudah rusak. Sekarang ini yanh dinikmati masyarakat untuk minum, masak, mencuci dan mandi, " kata Daud Siribere.

Di Desa Simalegi Kecamatan Siberut Barat sudah ada program pembangunan jaringan air bersih khusus di Dusun Betaet pada 2016 dan kembali direhab tahun 2017 oleh Dinas Pekerjaan Umum dengan program peningkatan jaringan air bersih Desa Betaet (DAK 2017), yang dikerjakan CV. Fajar Bhakti dengan nomor kontrak 629.41/08/PJAB-Betaet/PPk-PAM/DPUPR-KKM/VI/2017 dengan anggaran Rp692.903.000.

Namun hasilnya mengecewakan masyarakat, karena saat musim kering air tidak mengalir di tengah perkampungan. Sementara saat musim hujan air membanjiri jalan yang menjadi bagian jalur pipa air karena pihak kontraktor menyambungkan pipa baru pada pipa lama yang mana pipa lama dengan pioa baru tidak sesuai.

"Akhirnya halaman rumah saya kebanjiran karena tembakan air seperti air mancur dari pipa yang dipasang di pinggir badan jalan menembak ke halaman rumah. Saya sudah tegur pekerja lapangannya tapi mereka tertawa saja. Artinya mereka memang tidak punya niat baik membangun di Mentawai, " kata Albertus Aboi Taelagat, ketua suku Taelagat.

Hal yang sama dikatakan Fransiskus Elon. "Sebagai pusat kecamatan ketersediaan air bersih faktor yang sangat penting. Sudah dua kali pembangunan air bersih Betaet di lokasi yang sama hasilnya sangat mengecewakan. Percuma saja anggarannya besar, badan jalan mereka rusak untuk memasang pipa tapi tidak ada hasil, " katanya.

Camat Siberut Barat, Jop mengatakan ada kesan ketidakseriusan dinas terkait mengawasi. "Sudah kontraktor tidak serius bekerja, pengawas di lapangan tidak berani pula menegur apalagi tidak turun lapangan. Seharusnya ketika ada persoalan dilapangan kontraktor pengawas langsung lapor ke dinas bersangkutan," katanya.

Menurut keterangan kontraktor peningkatan jaringan air bersih Desa Betaet, dikatakan Jop karena kesalahan teknis dari Dinas Pekerjaan Umum. "Mereka mengaku bekerja sesuai kontrak yang ada. Kalau begitu ada kesalahan dari PU saat membuat perencanaan, " katanya.

  • Pin it
Komentar