Sakaladhat, Lokasi Surfing yang Tersembunyi di Siberut Barat

23-11-2017 08:16 WIB | Travel | Reporter: Bambang Sagurung | Editor: Rus Akbar
Sakaladhat, Lokasi Surfing yang Tersembunyi di Siberut Barat

Girelly bersama istrinya Carol dan anaknya dari Brasil ini sedang jalan-jalan di pantai Sakaladhat lokasi surfing di Siberut Barat. (Foto: Bambang Sagurung)

SIBERUT BARAT-Matahari baru terbenam di laut Samudera Hindia pada Kamis, 19 Oktober 2017. Namun, dibibir pantai masih terlihat asyik Girelly bersama istrinya Carol dan anaknya. Keluarga kecil dari Brasil ini sudah menikmati wisata Sakaladhat, Desa Simalegi Kecamatan Siberut Barat sejak September lalu.

"Ombaknya tidak bagus, karena menyamping. Yang bagus itu kalau dari laut ke pantai dengan lurus, " kata Girelly kepada Mentawaikita.com.

Menurut informasi dari masyarakat setempat, selain menikmati wisata, Girelly melakukan pengobatan kepada masyarakat secara gratis. "Mereka main surfing pagi, siang, malam. Awal mereka datang mereka melakulan pengobatan, namun karena obat habis tidak melakukan pengobatan lagi," kata Mak Ani salah seorang warga.

Dikatakan Mak Ani, menurut informasi yang mereka peroleh, Girelly akan berada di Sakaladhat bersama keluarga hingga Desember. Mereka bebas menikmati wisata yang ada dan tinggal dipondok yang sudah didirikan oleh pengusaha wisata di Sikaladhat.

"Kontrak mereka untuk tinggal di Sakaladhat empat bulan hingga Desember. Mereka tinggal menikmati wisata yang ada," katanya.

Wisata bahari khusus surfing di Dusun Sakaladhat Desa Simalegi mulai dinikmati pada 2016 lalu hingga sekarang. Umumnya yang datang untuk menikmati wisata ini dari kebangsaan Brazil. Mereka datang menggunakan kapal cepat MV. Mentawai Fast dari Muara Padang-Pokai Desa Sikabaluan Kecamatan Siberut Utara, kemudian dilanjutkan dengan boat dari Pokai menuju Sakaladhat.

Selama di Sakaladhat mereka hanya tinggal menggunakan tenda yang mereka bawa atau meminta warga setempat membuat pondok darurat ditepi pantai. "Tinggal dikasih atap daun sagu berlantaikan tanah itu sudah cukup. Yang penting mereka bisa nyaman selama bermain ombak, " kata Mak Ani.

Selain yang datang menggunakan kapal reguler, ada juga yang datang dengan menggunakan kapal sendiri. Mereka yang menggunakan kapal mereka tidak ke darat. Setelah bermain surfing mereka langsung kembali ke kapal untuk beristirahat.

"Namun sejak kawasan wisata ini dibeli oleh pengusaha wisata, orang yang datang menggunakan kapal sendiri atau diluar dari tamu langsung diusir, " kata Warman Tatauteu salah seorang warga.

Sejak adanya transaksi jual-beli tanah dan tanaman dikawasan wisata antara masyarakat setempat dengan pengusaha, tamu yang datang ke Sakaladhat dalam satu bulan dua trip dengan jumlah yang berbeda-beda. Ada kalanya yang datang dalam satu trip itu empat orang dan ada yang mencapai 15 orang.

Soal transaksi jual-beli tanah lokasi wisata Sakaladhat pernah dipertanyakan pihal pemerintah desa dan Kecamatan Siberut Barat kepada pengusaha, dalam hal ini Mario Augusto De Queiroz Neto dimana dalam perjanjian jual-beli pertama antara pemilik lahan dan tanaman dalam hal ini Immanuel Teu Guru Tapokka dengan Mario Augusto biasa dipanggil Guto dalam bentuk perseorangan dengan luas 4 hektar dengan harga Rp200 juta. Namun yang dibayar pada Juni 2016 itu baru Rp100 juta, yang mana Rp100 juta lagi akan dibayar setelah pembangunan resort dilakukan.

"Kita bersama desa langsung mengambil sikap karena pihal luar atau negara asing tidak boleh membeli tanah di Indonesia atau Mentawai. Untuk membeli tanah harus memakai perusahaan," kata Plt. Camat Siberut Barat, Jop.

Untuk menyelesaikan persoalan tersebut, pihak kecamatan, desa kembali mengundang pihak pemilik lahan dan tanaman serta pengusaha yang akan membuka usaha wisata di Sakaladhat untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Dalam perjanjian jual-beli tanah yang menghadirkan saksi batas sempadan, akhirnya luas lahan yang awalnya 4 hektar menjadi 2 hektar dengan harga Rp100 juta yang sudah dibayarkan sebelumnya. Kepemilikan lahan yang awalnya menjadi perorangan menjadi milik PT. Surfdelights Internasional yang beralamat Jl. Kayu Aya, 17 Rumah 04 Seminyak, Bali. Dengan direktur Mario Augusto De Queiroz Neto yang berusia 46 tahun.

Lahan seluas 2 hektar tersebut bersempadan dengan sebelah Utara berbatasan dengan Teluk Sakaladhat, sebelah Selatan berbatasan dengan jalan lingkar, kebun kelapa Leni Marlinda dan kebun kelapa Syamsiarni diatas tanah Tapokka, sebelah Timur berbatasan dengan Kebun kelapa Teu Bonari diatas tanah Tapokka, sebelah Barat berbatasan dengan Laut Samudera Hindia.

Pencarian lahan untuk lokasi pembangunan wisata surfing ini diawali oleh salah seorang warga Siberut Selatan dan oknum anggota polsek Sikabaluan. "Mereka datang dan menanyakan siapa yang punya lahan. Pada waktu itu langsung dilakukan pengukuran lahan. Pada waktu itu belum disebutkan kalau tempat itu mau dijadikan tempat turis. Karena kami butuh biaya anak untuk sekolah akhirnya kami jual," kata Teu Guru Tapokka pemilik lahan.

Namun yang mengherankan dalam proses selanjutnya orang yang melakukan pengukuran dan negosiasi lahan tidak datang lagi. "Sekarang yang sering datang itu si Guto yang akan membuat tempat turis," katanya.

Selama tamu PT. Surfdelights International datang ke Sakaladhat, boat yang membawa wisatawan dari pelabuhan Pokai ke Sakaladhat dan kembali ke Pokai milik jasa boat di Sikabaluan, baik jumlah rombongan satu trip maupun jumlah rombongan yang mencapai tiga trip.

"Sementara masyarakat setempat ada juga yang punya boat, tapi jarang dipakai. Itupun dikasih kalau sedang mendesak untuk mengantar mereka kembali ke Pokai, " kata Mak Ani salah seorang pemilik boat di Sakaladhat.

Dikatakan Mak Ani, biasanya khusus untuk mengantar tamu ke Pokai dari Sakaladhat Rp4-5 juta. "Hanya sambil membawa barang dagangan saja ketika kita akan balik setelah mengantar mereka. Untuk cateran menjemput dan mengantar belum pernah," katanya.

Jop, Plt Camat Siberut Barat mengatakan bila pembangunan resort PT. Surfdrlights Internasional sudah mulai dibangun 2018, maka wisatawan yang masuk sudah terdaftar sesuai dengan perda retribusi surfing yang mana dalam 15 hari kunjungan dikenakan retribusi untuk turis asing Rp1 juta.

"Kalau sekarang mereka masih bebas masuk. Ketika kita koordinasi dengan kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga, ternyata retribusi baru bisa dikenakan setelah resort dibangun. Artinya tanda gelang sebagai penikmat ombak Mentawai saat ini belum diberlakukan bagi mereka yang menikmati ombak Sakaladhat," katanya.

Dikatakan Jop, dengan adanya resort tenaga kerja yang dipakai harus lebih banyak masyarakat setempat dengan adanya jaminan tenagankerja (Jamsostek). "Untuk 80 persen dipakai tenaga lokal itu sudah bagus. Kalau tidak begitu maka resort yang masuk tidak memiliki dampak ekonomi bagu masyarakat lokal, " katanya.

Wisatawan yang akan masuk ke Sakaladhat, kedepannya dikatakan Jop, akan diatur agar boat yang membawa tamu wajub turun di Betaet sebagai pusat kecamatan yang nantinya dari Betaet menuju Sakaladhat menggunakan jasa ojek milik masyarakat setempat.

"Tahun 2018 kita akan membangun jembatan di Sute'uleu, karena akses jalan yang terkendala saat ini di Sute'uleu. Kita akan coba anggarkan Rp600 juta untuk membangun jembatan. Sementara umtuk pembenahan jalan kita arahkan ADD," katanya.

Wisata budaya khususnya diwilayah Desa Simatalu. Dikatakan Jop, selain wisata bahari, Kecamatan Siberut Barat memiliki wisata budaya Mentawai yang masih asli dan dan kental. "Tinggal mengatur kemana mereka diarahkan bila wisatawan itu mau menikmati acara perkawinan, acara peresmian uma atau penampilan turuk laggai," katanya.

Hanya, diingatkan Jop, sebagai daerah tujuan wisata masyarakat setempat harus memiliki tata krama yang baik, lingkungan yang bersih serta dapat membuat wisatawan betah untuk terus berkunjung.

"Masyarakat juga harus siap dari segi mentalitas karena pengaruh budaya akan kuat. Kalau masyarakat tidak siap maka hal ini akan berbahaya juga bagi masyarakat setempat," katanya.

Berdasarkan pantauan Mentawaikita pada Kamis, 19 sampai 20 Oktober di lokasi wisata Sakaladhat, wisatawan terlihat sepi hanya yang ada keluarga Girelly yang menginap dirumah milik PT. Surfdelights International. Sementara didepan rumah, tepatnya dibagian bibir pantai sudah ada pondok-pondok beratapkan daun sagu yang dipasang meja dan bangku sederhana.

Jumlahnya 16 unit. Lokasi seluas 2 hektar tersebut sudah terlihat bersih dan indah. Sabut kelapa bekas buah kelapa yang dipanen warga sudah dikumpulkan dan disusun rapi dibawah batang kelapa.

  • Pin it
Komentar