BPSPL Padang Ajak Masyarakat Mentawai Lestarikan Penyu

15-11-2017 20:20 WIB | Lingkungan | Reporter: Hendrikus Samonganuot | Editor: Gerson Merari
BPSPL Padang Ajak Masyarakat Mentawai Lestarikan Penyu

BPSPL Padang sosialisasi pelestarian penyu kepada warga Siberut Selatan di Puro. (Foto : Hendrik)

PURO- Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir Laut (BPSPL) Padang, Sumatera Barat mengajak warga di Dusun Puro, Desa Muara Siberut, Desa Muntei dan Maileppet, Kecamatan Siberut Selatan melestarikan penyu.

Kepala BPSPL Padang, Muhamad Yusuf mengatakan, di Mentawai ada tiga jenis penyu yang dilindungi oleh pemerintah yakni penyu sisik, hijau dan penyu belimbing. Ketiga jenis penyu itu terancam punah karena aktivitas penangkapan.

"Untuk melestarikan penyu tersebut maka kita melakukan penyuluhan dan memulai kegiatan konservasi dan juga melibatkan masyarakat adat untuk sama-sama melestarikan penyu itu," kata Yusuf saat acara sosialisasi dan pembinaan biota perairan yang dilindungi di Dusun Puro, Rabu (15/11/2017)

Ia tahu bahwa penyu dalam adat Mentawai sangat dibutuhkan tetapi pengambilannya tidak boleh sembarang. Pihaknya bersama masyarakat akan menyusun aturan jumlah yang boleh diambil untuk kebutuhan ritual adat. Selain menjaga dari kepunahan, pelestarian penyu, kata dia sebagai langkah untuk membangun sebuah peluang usaha masyarakat khususnya pariwisata sebab jika penyu ini ada akan banyak turis datang ke Mentawang hanya untuk menyaksikan penyu.

"Memang untuk pelestarian penyu ini masih baru di Mentawai belum ada anggota yang memantau penyu di lapangan, untuk menemukan lokasi pastinya kami rencananya juga melakukan pemantauan lokasi tempat penyu di mana paling banyak, kemudian akan dibuatkan pondok pondok untuk tempat pemantauan," katanya.

Heronimus, salah seorang warga Puro menganggap, pelestarian penyu sangat penting sebab orang Mentawai juga membutuhkannya pada acara ritual tertentu. "Orang Mentawai berburu di hutan dan di laut dan ada ritual ritual tertentu penyu dan monyet di hutan sangat dibutuhkan pada acara itu, jadi jangan beranggapan bahwa orang Mentawai menjual penyu, penyu diambil untuk kebutuhan ritual tidak bisa digantikan dengan hewan lain," kata Heron.

Menurut Heronimus, yang seharusnya dilarang itu adalah orang yang menggunakan kompresor atau mesin yang menangkap penyu sebab itu untuk dijual dalam jumlah banyak. "Jadi, bukan masyarakat adat yang perlu diperingatkan karena masyarakat adat mengambil penyu itu secukupnya saja," ujarnya.

Senada dengan Heronimus, Laban Siriparang, tokoh masyarakat di Puro menyetujui program pelestarian tersebut namun kebutuhan ritual orang Mentawai seperti ada kemalangan, orang meninggal karena tertimpah pohon atau tenggelam sangat membutuhkan penyu itu.

"Orang tua dulu tetap mencari penyu dan monyet ketika hal tersebut terjadi karena kalau tidak ada korban monyet atau penyu jalan ritual tidak bisa dilaksanakan, jika ritual itu tidak dilaksanakan sikerei atau kepala suku akan mengalami risikonya," jelas dia. Sepengetahuan Laban ada beberapa tempat penyu bertelur yakni pulau Mainuk, Karamajat, Sagulubbek dan Siribabak.

"Sepanjang pantai ada penyu dan di tempat itu lokasinya bertelur," ujarnya.

  • Pin it
Komentar