Membangun Mentawai Sesuai Dengan Keunikan yang Dimiliki

14-11-2017 19:54 WIB | Peristiwa | Editor: Gerson Merari
Membangun Mentawai Sesuai Dengan Keunikan yang Dimiliki

Warga Matotonan, Siberut Selatan memanfaatkan hasil hutan di dekat kampungnya sebagai penunjang hidup. (Foto : Gerson)

PADANG-Membangun Mentawai harus mengikuti keunikannya dan potensi yang ada di pulau tersebut. Demikian disampaikan Prof. Syafruddin Karimi, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Andalas dalam diskusi dengan media di Padang, Selasa (14/11/2017).

"Saya melihat masyarakat Mentawai hidup mandiri, mengapa kita tak membangun Mentawai mengikuti keunikannya. Visi pembangunan Mentawai harus mencerminkan keunikannya. Mereka ada sagu, keladi dan pisang, dengan tiga itu masyarakatnya sudah bisa hidup," katanya.

Menurut Syafruddin, secara akademik banyak aspek keunikan pembangunan Mentawai yang harus diperhatikan. Keunikan itu berupa ekosistem dan budaya masyarakat Mentawai sebagai sumber kekuatan ekonominya.

Ia menyebutkan, pada investasi pengelolaan sumber daya alam, yang berada di posisi kuat adalah pemerintah dan investor, sementara masyarakat berada di posisi lemah.

"Karena itu investasi dimana-mana akan membawa dampak karena tidak selevel dan yang dominan adalah investor, siapapun investor perilakunya begitu. Makanya konsep pembangunan Mentawai itu keunikannya, dengan syarat basis masyarakat masih sepakat dengan itu," katanya.

Sementara itu, dosen Biologi FMIPA Universitas Andalas, Dr. Ardinis Arbain mengatakan, Mentawai kepulauan yang unik, dengan keragaman flora dan faunanya. Mentawai juga kaya dengan tanaman obat dan peneliti sudah 250 lebih tanaman obat yang sudah diidentifikasi kandungan aktifnya.

"Selain itu, ada primata endemik yang hanya ada di Mentawai, jika hutan Mentawai diganti menjadi monokultur, maka bisa mengubah sumber makanan di sana," katanya menyorot soal pengelolaan hutan di Mentawai.

Menurut dia, konsep yang harus dipertegas adalah apakah membangun Mentawai atau membangun di Mentawai, karena itu sangat berbeda. "Membangun Mentawai harus dilakukan secara hati-hati," ujarnya.

Dari sisi sosial, Prof. Afrizal, dosen Fisip Unand menyebutkan, investasi harus memberi keuntungan pada masyarakat lokal.

"Misal, bila lowongan pekerjaan yang dijanjikan mampu dimanfaatkan orang itu. Tapi dari banyak bukti, yang terjadi justru tenaga kerja banyak dari luar karena untuk memenuhi syarat keahlian," ujarnya.

Afrizal mengatakan, argumen membangun keberlanjutan komunitas juga harus kuat sebab konsep modern saat ini membangun tidak hanya untuk keberlanjutan lingkungan. Paradigma konservasi baru, menyelamatkan alam dan manusia harus selaras. "Salah satu yang penting, untuk hak komunitas, basis hak itu harus jelas," ujarnya.

Menanggapi itu, Direktur Yayasan Citra Mandiri Mentawai, Rifai, mengatakan dengan persfektif yang ditawarkan oleh para akademisi itu, berarti kebijakan dan program di Mentawai harusnya bersifat alternatif dari pilihan mainstream selama ini seperti HPH ,HTI dan perkebunan monokultur.

"Model pembangunan tersebut tidak tepat dijalankan di Mentawai. Disinilah perlunya pemerintah pusat dan pemerintah daerah duduk bersama membicarakan pilihan kebijakan dan program yang tepat tanpa harus mengedepankan egoisme. Kalau perlu libatkan pakar untuk menyusun konsepnya. Sebelum konsep rampung, semua perizinan yang berakibat pada kerusakan serius pada lingkungan dan sosial hendaknya dihentikan sementara," katanya.

  • Pin it
Komentar