Musim Badai, Nelayan di Mentawai Tak Berani Melaut

11-11-2017 18:20 WIB | Ekonomi | Reporter: Supri Lindra dan Bambang Sagurung | Editor: Gerson Merari
Musim Badai, Nelayan di Mentawai Tak Berani Melaut

Perahu nelayan Desa Sikakap yang ditambatkan di pelabuhan akibat musim badai. (Foto: Supri)

SIKAKAP-Musim badai disertai gelombang besar mencapai 3-5 Meter di perairan Kabupaten Kepulauan Mentawai membuat nelayan di daerah tersebut tidak berani melaut.

Di Kecamatan Sikakap, nelayan tradisional di daerah itu memilih memarkir perahunya karena hampir dua minggu pada November ini badai yang melanda Mentawai belum juga reda.

"Badai dan gelombang mencapai 3-5 meter terjadi akhir-akhir ini membuat saya takut pergi ke laut, sekarang ini bagaimana saya bisa pergi kelaut lagi musim badai dan gelombang tinggi," kata Ardi (35), nelayan tradisional di Desa Sikakap kepada MentawaiKita.com, Jumat (10/11/2017).

Ardi menyebutkan, jika dipaksakan melaut risikonya sangat besar," bisa-bisa kita yang dicari orang karena perahu pecah akibat dihantam gelombang, sebelum hal itu terjadi lebih baik tidak pergi ke laut sampai badai disertai gelombang reda," ujarnya.

Menunggu badai reda, kata Marlis (40), nelayan lain, mereka mencari kerja di darat sebagai buruh proyek.

Ia menyebutkan, selain risiko keselamatan, melaut pada musim badai ini juga tidak menghasilkan dan hanya membuang modal sebab sekali melaut minimal mereka mengeluarkan Rp200 ribu untuk membeli peralatan penangkap ikan.

Akibat badai ini menyebabkan harga ikan melonjak sebab terjadi kelangkaan ikan di di pasar pagi Masabuk, Dusun Sikakap Barat.

Marnis (54), salah seorang pedagang ikan mengatakan, ikan sangat langka karena banyak nelayan yang tidak melaut akibat badai. Biasanya ikan kakap dijual Rp25 ribu per kilogram karena langka menjadi naik yakni Rp35 ribu per kilogram.

Hal yang sama juga dialami oleh nelayan di Betaet, Desa Simalegi, Kecamatan Siberut Barat. Di daerah ini terjadi kelangkaan ikan karena nelayan tidak berani melaut.

"Ancamannya terlalu besar. Kalau hanya alunan gelombang yang tinggi tidak masalah, namun ini disertai angin kencang dan hujan, " kata Yosafat (30), salah seorang nelayan Betaet.

Yosafat mengatakan, saat musim cuaca yang bersahabat ketersediaan ikan masih terbilang sedikit. "Kita memancing ini di lautan yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia, jadi sulit juga mendapatkan ikan," katanya.

Sinta (20), salah seorang warga Betaet mengatakan untuk mendapatkan ikan pada saat musim cuaca bagus harus berebutan. "Menjelang siang itu ibu-ibu sudah banyak menunggu di pantai, kalau nampak nelayan datang merapat langsung dikejar di tengah laut, " katanya.

Musim badai sudah terjadi sejak 3 November lalu dan belum berhenti. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga masyatakat terpaksa membeli telur dan mie instan.

Harga jual mie instan di Betaet antara Rp3 ribu hingga Rp3.500 per bungkus, untuk telur ayam ras Rp2.000 per butir.

"Namun saat ini stok telur sudah tidak ada karena pedagang tidak bisa keluar untuk berbelanja ke Pokai. Kapal dagang yang membawa barang pedagang juga belum masuk," kata Lestari.

  • Pin it
Komentar